Momen Unik Tujuh Belasan Para Presiden

Proklamasi 17 Agustus 1945 dilakukan di tengah kesederhanaan. Dari presiden ke presiden, peringatan HUT RI pun dilangsungkan di tengah ragam suasana sesuai zaman.

16 Agt 2025 13:51 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nina Susilo, Iqbal Basyari, Cyprianus Anto Saptowalyono

Sebuah kisah pada buku berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams dengan gamblang menggambarkan kesederhanaan momen tujuh belasan perdana di negeri ini. Peristiwa ini dikisahkan langsung oleh Presiden pertama RI Sukarno.

”Upacara itu tanpa suatu protokol. Tidak ada yang ditugaskan. Tidak ada acara yang berdasarkan rencana karena memang tidak ada acara,” kata Presiden Sukarno mengenang peristiwa seputar Proklamasi 17 Agustus 1945.

Baris demi baris berikutnya Bung Karno secara detail menggambarkan kesederhanaan peristiwa pada hari dirinya membacakan naskah proklamasi tersebut. Penggambaran ini mencakup ihwal bendera dan tiang tempat dikibarkannya.

”Istriku telah membuat sebuah bendera dari dua potong kain. Sepotong kain putih dan sepotong kain merah. Ia menjahitnya dengan tangan. Inilah bendera resmi yang pertama dari Republik. Tiang benderanya berupa batang bambu panjang yang ditancapkan ke tanah beberapa saat sebelum itu. Buatannya kasar. Dan tidak begitu tinggi,” kata Bung Karno.

Bung Karno membaca naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia  pada tgl 17 agustus 1945.

Menurut Bung Karno, saat itu tidak ada orang yang ditugaskan mengibarkan bendera Merah Putih tersebut. Tidak ada persiapan untuk itu dan tak seorang pun berpikir sejauh itu. Latif Hendraningrat, satu dari beberapa hadirin yang memakai seragam, berada di dekat tiang.

”Setiap orang menunggu dengan tegang ketika dia mengambil bendera itu, mengikatkan pada tali yang kasar dan kusut, dan mengibarkannya... seorang diri... dengan kebanggaan ... untuk pertama kali setelah tiga setengah abad,” kata Bung Karno.

Masih merujuk kesaksian Bung Karno, pada peristiwa pengibaran bendera Merah Putih 17 Agustus 1945 itu tidak ada musik, tidak ada orkes. Setelah bendera dikibarkan, mereka yang hadir pun menyanyikan lagu ”Indonesia Raya”.

”Upacara itu berlangsung sederhana. Tetapi apa yang kami rasakan kurang dalam kemegahannya, kami penuhi dalam harapan,” kata Bung Karno.

*** Local Caption *** Presiden Soeharto menyerahkan bendera Sang Saka Merah Putih kepada Maria Jose Lamos siswi kelas III SMEA Dilli Timor Timur. Sementara duplikat Sang Saka diserahkan kepada Silvie Helly Indria Tuwai, siswi kelas dua SMPN Manado Sulut. Dalam acara peringatan detik-detik Proklamasi 17 Agustus 19845 di halaman Istana Merdeka Jakarta Judul Amplop: Peringatan HUT RI Ke 40

Berawal pada kesederhanaan, makna, dan semangat yang tergambar pada ”hari pertama” Indonesia merdeka tersebut, peringatan HUT RI pun dirayakan dari tahun ke tahun dengan penuh keberagaman sesuai dengan kondisi zaman.

Salah satu peringatan tujuh belasan yang meriah adalah di era Presiden ke-2 RI Soeharto, yakni ketika Indonesia merayakan HUT ke-50, ulang tahun emas negeri ini. Merujuk arsip Kompas, tepat pukul 10.00 WIB, hari Kamis (17/8/1995), suara sirene bergema di seluruh halaman Istana Merdeka, Jakarta.

Peringatan Detik-detik Proklamasi menyongsong HUT Ke-50 RI pun dimulai dengan rangkaian yang dikenal dan dipertahankan dari tahun ke tahun. Diawali dengan pembacaaan naskah Proklamasi, pembacaan doa, dan pengibaran bendera Merah Putih oleh pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) yang terdiri atas 54 pelajar terbaik di 27 provinsi Indonesia. Sore hari, pukul 17.30 WIB, dilakukan upacara penurunan bendera.

Mewarnai peringatan ulang tahun emas RI kala itu dilakukan terbang perdana prototipe (purwarupa) pesawat N-250 Gatotkoco pada Kamis, 10 Agustus 1995, di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Pesawat N-250 itu pun terbang menjelajah angkasa Jawa Barat dan Laut Jawa dengan kecepatan tinggi (high speed fly pass). Setelah terbang sekitar satu jam, pesawat kembali ke Bandara Husein Sastranegara dan mendarat mulus pada pukul 11.10 WIB.

Presiden dan Ny Tien Soeharto, Wakil Presiden dan Ny Tuti Try Sutrisno serta para menteri Kabinet Pembangunan VI hari Kamis (10/8) menyaksikan penerbangan perdana pesawat N-250 Gatotkoco buatan IPTN, di Lapangan Terbang Husein Sastranegara, Bandung. Kepala Negara mengucapkan selamat kepada pilot penguji Erwin Danuwinata di samping pesawat N-250 Gatotkoco seusai penerbangan perdana selama satu jam. *** Local Caption *** Presiden dan Ny Tien Soeharto, Wakil Presiden dan Ny Tuti Try Sutrisno serta para menteri Kabinet Pembangunan VI hari Kamis (10/8) menyaksikan penerbangan perdana pesawat N-250 Gatotkoco buatan IPTN, di Lapangan Terbang Husein Sastranegara, Bandung. Kepala Negara mengucapkan selamat kepada pilot penguji Erwin Danuwinata di samping pesawat N-250 Gatotkoco seusai penerbangan perdana selama satu jam.

”Inilah hasil karya generasi penerus yang dipersembahkan untuk ulang tahun emas, ulang tahun ke-50, Republik Indonesia,” kata Menristek BJ Habibie dalam bukunya yang berjudul Habibie & Ainun (PT THC Mandiri, 2010).

Habibie menuturkan, generasi penerus yang ada di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) telah mencurahkan pikiran dan tenaga. ”Mereka dengan tekun bekerja keras, hampir tak mengenal waktu istirahat, untuk melahirkan pesawat N-250. Mereka patut dibanggakan,” kata Habibie.

Digambarkan dalam buku tersebut ketegangan yang mencair saat roda-roda pesawat N-250 mulai terangkat. Pesawat terus naik meninggalkan bandara menembus angkasa Bandung. Bangga, haru, lega, bahagia, campur menjadi satu. Pak Harto terlihat beberapa kali menyapu air mata di wajahnya dengan sapu tangan putih. Ibu Tien spontan memeluk dan menjabat tangan BJ Habibie, sosok yang kemudian menjadi Presiden Ke-3 RI.

Harian Kompas mencatat, gaung sirene dan dentuman meriam 17 kali, yang dibarengi dengan alunan lonceng gereja serta bedug di masjid-masjid, membuka upacara peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Ke-53 di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/1998) pagi.

Saat itulah, untuk pertama kalinya, BJ Habibie memimpin upacara peringatan Detik-detik Proklamasi setelah mendapat penyerahan kepemimpinan dari mantan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Tata cara upacara itu sendiri dari tahun ke tahun tak berubah.

*** Local Caption *** Bendera Pusaka -- Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) menerima duplikat bendera pusaka dari Presiden Habibie pada upacara pengibaran bendera memperingati Hari Kemerdekan RI ke 54 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (17/8). Terkait berita Kompas 18-8-1999, 6 Judul Amplop: Presiden Habibie / Pengibaran Bendera

Presiden Ke-4 RI Abdurrahman Wahid, saat memimpin upacara peringatan kemerdekaan, meninggalkan jejak berbeda. Gus Dur, sapaan akrab Abdurrahman Wahid, dalam upacara peringatan Detik-detik Proklamasi Ke-55 RI pada 17 Agustus 2000 mengundang 5.000 warga DKI Jakarta masuk ke halaman Istana Merdeka.

Peristiwa itu terekam dalam laporan wartawan Kompas, J Osdar, berjudul ”Upacara Kenegaraan HUT Ke-55 Kemerdekaan RI, Dihadiri 5.000 Orang Kecil dari 43 Kecamatan”. Disebutkan, 5.000 warga itu dibawa oleh sekitar 43 camat dari seluruh DKI Jakarta.

Setiap camat diberi kesempatan membawa 100–120 warganya. Mereka adalah pedagang bakso, tukang sol sepatu, penjual gorengan, penjual pasir sungai, nelayan, hingga pedagang burung. ”Istana akan menjadi wajah rakyat,” ujar Kepala Protokol Istana Wahyu Muryadi, kala itu.

Presiden Abdurrahman Wahid memimpin upacara peringatan detik- detik proklamasi ke-55 kemerdekaan RI di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/8). Wapres Megawati Soekarnoputri ikut mendampingi Presiden memimpin jalannya upacara. Terkait berita Kompas, 18 Agustus 2000, hal 1 Judul Amplop: Peringatan HUT RI di Istana *** Local Caption *** Presiden Abdurrahman Wahid memimpin upacara peringatan detik- detik proklamasi ke-55 kemerdekaan RI di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/8). Wapres Megawati Soekarnoputri ikut mendampingi Presiden memimpin jalannya upacara. Terkait berita Kompas, 18 Agustus 2000, hal 1 Judul Amplop: Peringatan HUT RI di Istana

Pada tahun-tahun sebelumnya, peringatan Detik-detik Proklamasi di Istana biasanya dihadiri sekitar 14.000 orang, terdiri dari pejabat tinggi, aparat pemerintah, wakil organisasi masyarakat, pelajar, mahasiswa, dan guru. Namun, pada HUT Ke-55 RI, sekitar 10.000 orang diundang, termasuk 5.000 warga biasa ”bawaan” camat tersebut.

Seusai upacara, hadirin menikmati jamuan sederhana di halaman antara Istana Merdeka dan Istana Negara. Singkong goreng dan aneka makanan rakyat tersaji, memberi warna baru pada wajah peringatan kemerdekaan di Istana.

Setahun berikutnya, suasana halaman Istana Merdeka pada 17 Agustus 2001 pun terasa istimewa. Ribuan pasang mata menyaksikan Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri berdiri di mimbar kehormatan, menyerahkan Sang Saka Merah Putih kepada paskibraka.

Di balik momen khidmat itu tersimpan pula kilas balik personal. Lebih dari tiga dekade sebelumnya, di tempat yang sama, Megawati remaja berdiri sebagai penerima bendera pusaka dari tangan ayahandanya, Bung Karno.

Kenangan masa lalu pun seolah hadir kembali bagi Presiden Megawati. Suasana upacara tersebut mengingatkan Megawati pada peristiwa serupa tahun 1964, ketika ia masih siswi kelas III SMA Tjikini, Jakarta. Bedanya, saat itu ia bukan yang menyerahkan, melainkan justru penerima bendera pusaka langsung dari tangan Bung Karno.

Infografik Bendera Pusaka dan Duplikatnya

Wartawan Kompas, Julius Pour, menuliskan kisah itu dalam artikel berjudul ”Megawati Mengibarkan Bendera Merah Putih Pusaka” yang terbit pada 18 Agustus 2001. Megawati digambarkan berambut panjang, berseragam putih-putih, berjalan bersama paskibraka menuju mimbar. Di sanalah ia menerima Sang Saka dari ayahandanya yang tengah menyampaikan pidato berjudul ”Tahun Vivere Pericoloso”, dalam bahasa Italia berarti hidup menyerempet bahaya.

Pada tahun itu, taruna Akademi Militer dari tiga matra serta taruna Akademi Kepolisian ikut hadir bersama pasukan TNI-Polri. Seusai upacara, Presiden Megawati menggelar jamuan santap siang bersama para pejuang dan warakawuri, sebutan bagi janda anggota TNI atau Polri.

Pada Jumat petang, setelah khidmat mengikuti upacara penurunan duplikat bendera pusaka di depan Istana Merdeka, para undangan menikmati suasana ramah-tamah di lapangan tengah antara Istana Merdeka dan Istana Negara. Mereka menyerbu berbagai hidangan yang tersaji, sambil larut dalam kegembiraan menikmati tarian daerah dan atraksi drum band.

Malam harinya, suasana Istana berubah kian semarak. Wartawan Kompas, J Osdar dan Mohamad Bakir, mengibaratkan resepsi tersebut bak pesta kebun. Acara dibuka sekitar pukul 20.00 WIB dengan kumandang ”Indonesia Raya”. Presiden, Wakil Presiden, ketua MPR, ketua DPR, dan semua tamu undangan berdiri di teras Istana Merdeka menghadap Monas.

Para tamu kemudian menikmati hidangan dari stan-stan sponsor yang mengelilingi halaman Istana. Pertunjukan seni dan atraksi musik mengiringi malam penuh keceriaan itu. Acara ditutup pukul 21.00 WIB dengan kembali berkumandangnya ”Indonesia Raya”, meninggalkan kesan hangat dan penuh kebersamaan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden Boediono didampingi Ny Ani Yudhono dan Ny Herawati Boediono melambaikan tangan saat akan meninggalkan tempat upacara. Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Inspektur Upacara dalam acara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-66 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/8). *** Local Caption *** Editorial Use Only DK 00095714

Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono pertama kali bertindak sebagai inspektur upacara pada peringatan ke-60 tahun Detik-detik Proklamasi di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/8/2005). Merujuk arsip Kompas, seusai upacara, Presiden dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengadakan telekonferensi dengan rakyat yang sudah berkumpul di Sabang dan Merauke, Papua.

Lampu dan lampion merah putih

Menjelang senja sejumlah pejabat negara hadir untuk persiapan penurunan bendera pusaka di halaman Istana Merdeka. Malam hari digelar resepsi kemerdekaan dengan makanan berlimpah di halaman tengah Istana Kepresidenan yang telah dihias dengan lampu dan lampion merah putih.

Pada masa pemerintahan Presiden Yudhoyono, perubahan mulai terjadi dalam tata upacara peringatan kemerdekaan. Pembacaan teks Proklamasi, yang biasanya dilakukan Ketua MPR, mulai tahun 2006 dilakukan Ketua DPR.

”Amendemen UUD 1945 tidak menempatkan MPR sebagai lembaga tertinggi negara. Dari segi pelaksanaan keterwakilan rakyat, DPR jauh lebih kuat sekarang ini dibandingkan MPR,” kata Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra dalam catatan Harian Kompas, 18 Agustus 2006.

Pembacaan naskah Proklamasi dilakukan Ketua DPD di peringatan kemerdekaan ke-68, di Istana Merdeka, Sabtu (18/8/2013). Adapun tahun berikutnya, di peringatan HUT RI ke-69 di tahun 2014, naskah Proklamasi dibacakan Ketua MPR.

Selain itu, Presiden juga tak hanya menyampaikan pidato kenegaraan di depan DPR pada 16 Agustus 2005. Pada 23 Agustus 2005, Presiden SBY juga memberikan keterangan pemerintah dalam rapat Dewan Perwakilan Daerah sebagai lembaga yang baru ada. Forum sidang itu dilangsungkan dihadiri 128 senator dari 32 provinsi, para gubernur, bupati, dan wali kota.

Presiden Joko Widodo menyerahkan Bendera Merah Putih kepada anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Salma El Mutafaqqiha Putri Achzaabi dalam upacara peringatan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia di Istana Merdeka Jakarta, Sabtu (17/8/2019). Kegiatan tersebut diikuti para tamu undangan dengan menggunakan pakaian tradisional dan disemarakkan oleh pentas seni budaya dari berbagai daerah.Kompas/Wawan H Prabowo

Peringatan Hari Jadi Kemerdekaan RI pada masa pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo ditandai dengan kemeriahan penggunaan pakaian-pakaian adat. Presiden Jokowi mengenakan pakaian tradisional saat menjadi inspektur upacara peringatan Detik-detik Proklamasi Ke-72.

Dalam upacara penaikan bendera pada tahun 2017 itu, pakaian adat Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, menjadi pilihannya, sedangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla memilih mengenakan pakaian adat Sulawesi Selatan. Mulai 2017 pula, semua pejabat serta undangan menggunakan pakaian tradisional pada peringatan HUT RI. Sebagai penyemangat, hadiah sepeda diberikan untuk mereka yang dinilai menggunakan pakaian adat terbaik.

Jokowi saat itu berharap keberagaman Indonesia bisa ditampilkan dalam warna-warni pakaian adat Indonesia. ”Memang kita ini warna-warni dan sangat beragam. Inilah Indonesia. Agar tahu kita ini sangat beragam,” tuturnya kepada wartawan saat itu.

Pramono Anung, Sekretaris Kabinet saat itu, juga menyampaikan keinginan Presiden Jokowi dengan penggunaan pakaian adat. Peringatan kemerdekaan menjadi tidak monoton. Selain itu, nasionalisme dibangkitkan dalam pluralitas busana tradisional.

Sejak awal 2017, dalam catatan Kompas, Jokowi memang gencar mengingatkan kembali keberagaman Indonesia. Pentingnya menjaga keberagaman Indonesia bersama-sama pun kerap diingatkan. Karena itu, saat menghadiri Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR/DPD sehari sebelum peringatan kemerdekaan itu, Presiden Jokowi menggunakan pakaian adat Bugis, sedangkan Wapres Kalla berpakaian adat Jawa.

Busana adat yang dikenakan Presiden Jokowi dan wapresnya pun selalu menjadi yang dinantikan dalam peringatan kemerdekaan RI. Baju adat Betawi dikenakan Jokowi saat menyampaikan pidato kenegaraan pada tahun terakhirnya, 2024, sedangkan baju kustim, pakaian adat Kalimantan Timur, dikenakan saat peringatan Hari Kemerdekaan Ke-79 RI.

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Menhan Prabowo Subianto (ketiga kiri) dan Ketua DPR Puan Maharani (kedua kiri) mengikuti upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di lapangan upacara Istana Negara Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Sabtu (17/8/2024). Upacara dalam rangka hari ulang tahun (HUT) ke-79 RI tersebut mengusung tema Nusantara Baru Indonesia Maju. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/app/wpa.

Pada tahun terakhir masa jabatan Presiden Jokowi ini, peringatan HUT Ke-79 RI dilangsungkan di Ibu Kota Nusantara. Kendati pembangunan di IKN masih berlangsung, Istana Garuda dan Istana Negara disulap supaya siap menampung peserta upacara, pengisi acara, ataupun undangan.

Acara pun dilangsungkan secara hibrid dengan peringatan di halaman Istana Merdeka, Jakarta. Di Jakarta, Wapres Ma’ruf Amin memimpin. Adapun di IKN, Presiden Jokowi menjadi inspektur upacara peringatan Detik-detik Proklamasi. Meriam pun diledakkan sebanyak 17 kali di IKN.

Jokowi juga menyerahkan bendera Merah Putih yang akan dikibarkan paskibraka dari halaman Istana Negara berlatar Istana Garuda di belakangnya. Setelahnya, tarian khas Kalimantan Timur memeriahkan peringatan kemerdekaan.

Upacara di IKN ini diselenggarakan saat fasilitas di IKN belum sepenuhnya memadai. Wartawan peliput, misalnya, menginap di Balikpapan dan kemudian berangkat sebelum matahari terbit pada 17 Agustus 2024.

Di IKN pun sinyal internet kerap menjadi kendala, apalagi pengacak sinyal dipasang di sekitar Istana Negara. Wartawan sempat menanti di salah satu ruangan di Istana Garuda. Mengenakan pakaian adat masing-masing, wartawan berjalan kaki di jalur yang menanjak ke arah Istana Garuda. Menjelang upacara penurunan bendera, wartawan kembali berjalan ke lapangan di depan Istana Negara.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nina Susilo, Iqbal Basyari, Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji