Sejumlah kontestan Piala Dunia 2026 merombak susunan staf kepelatihan jelang turnamen. Motivasinya beragam, mulai dari cacat performa hingga kebutuhan taktikal.
17 Apr 2026 12:15 WIB · Olahraga
AFP/YUICHI YAMAZAKI
Merombak staf kepelatihan tergolong keputusan berisiko, apalagi dilakukan jelang turnamen. Segala program tim yang telah terinternalisasi sejak lama berpotensi berantakan. Namun, dengan perhitungan yang matang, langkah tersebut bisa jadi kunci sukses kejayaan tim di Piala Dunia.
Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) mengumumkan keputusan strategis, Jumat (17/4/2026). Mantan pemain timnas Jepang yang lama berkarier bersama Glasgow Celtic di Liga Skotlandia, Shunsuke Nakamura, direkrut menjadi bagian dari staf kepelatihan Hajime Moriyasu. Penunjukkan Nakamura menambah daftar anggota staf kepelatihan Moriyasu yang saat ini berjumlah hingga delapan orang. Untuk memperlancar pelaksanaan tugas-tugasnya, Moriyasu dibantu sebanyak 5 asisten pelatih, 1 pelatih kiper, dan 1 pelatih kebugaran.
”Dengan senang hati saya mengumumkan akan bergabung sebagai staf pelatih timnas Jepang. Saya telah mempertimbangkan dengan saksama dampak bergabungnya saya pada saat yang sangat penting ini, tepat sebelum Piala Dunia. Setelah menerima kata-kata yang penuh semangat dan dukungan dari Pelatih Moriyasu, saya memutuskan menerima posisi ini. Saya akan berusaha memiliki aspirasi yang sama dengan para pemain timnas Jepang yang berkompetisi di panggung dunia dan berkontribusi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tim,” tutur Nakamura dalam pernyataan di laman JFA.
Moriyasu termasuk pelatih yang amat memperhatikan detail pada pekerjaannya. Tidak heran dia membutuhkan cukup banyak asisten untuk mempersiapkan tim. Khusus untuk Nakamura, dia dipersiapkan sebagai pelatih spesialisasi bola mati, terutama tendangan bebas.
Penunjukkan Nakamura pada posisi ini bukan tanpa alasan. Semasa masih aktif bermain, tendangan bebas Nakamura begitu ditakuti di Eropa. Keterampilan tendangan bebasnya bahkan pernah dua kali membobol gawang kiper Edwin van Der Sar saat Celtic menghadapi Manchester United di Liga Champions Eropa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/10/bd8a8604-d357-40ca-83cd-0d28c21e11e0_jpg.jpg)
Data Transfermarkt menyebutkan, total ada 33 laga ketika Nakamura melakukan tendangan bebas. Dari 33 laga itu, ia menghasilkan 34 gol. Saat memperkuat Yokohama F Marinos di pengujung kariernya, Nakamura mencetak dua gol tendangan bebas yang menjadi penentu kemenangan timnya atas Yokohama FC.
Dengan reputasi sebagai salah satu eksekutor tendangan bebas terbaik Jepang, keberadaan Nakamura di dalam tim kepelatihan Jepang menjadi sangat strategis. Moriyasu hendak melatih kemampuan para pemainnya dalam eksekusi bola-bola mati, terutama untuk skema tendangan bebas langsung.
Perkembangan sepak bola modern saat ini menuntut cara mencetak gol yang tidak hanya dari mengandalkan situasi permainan terbuka (open play), tetapi juga set piece. Saking pentingnya tahu cara mencetak gol lewat skema set piece, Manajer Arsenal Mikel Arteta sudah menjadikannya kebiasaan hingga dijuluki sebagai ”Set Piece FC”, merujuk pada kecenderungan Arsenal mencetak gol krusial dari sepak pojok.
Berbeda dengan teknik mencetak gol dari situasi sepak pojok, eksekusi tendangan bebas langsung punya angka harapan gol yang lebih tinggi. Teknik tendangan bebas sebagaimana keahlian Nakamura akan berguna saat menghadapi lawan yang bermain dengan garis pertahanan rendah. Tentunya kemampuan seperti ini juga berguna untuk memecah kebuntuan.
Jepang bukan satu-satunya kontestan Piala Dunia yang merombak susunan staf kepelatihan jelang turnamen. Bukan pada posisi staf atau asisten, Ghana justru mengambil langkah cukup radikal dengan mengganti pelatih kepala.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/20/da9b196e-fd3b-4402-ad67-1d40b07ea3f8.jpg)
Pelatih veteran Piala Dunia Carlos Queiroz ditunjuk menggantikan Otto Addo yang dipecat karena serangkaian hasil buruk. Di bawah Addo, Ghana mengalami empat kekalahan beruntun dari Jepang, Korea Selatan, Austria, dan Jerman. Rangkaian kekalahan itu membuat petinggi federasi tidak lagi memercayai Addo sebagai arsitek tim.
”Queiroz memiliki rekam jejak yang luas di Piala Dunia. Ia diharapkan dapat memanfaatkan segudang pengalamannya selama Piala Dunia,” demikian bunyi pernyataan dari Federasi Sepak Bola Ghana.
Ini akan menjadi Piala Dunia kelima bagi pelatih asal Portugal tersebut. Mantan asisten Sir Alex Ferguson di MU itu sebelumnya memimpin timnas Portugal di Piala Dunia 2010.
Selain Portugal, kiprah Queiroz juga tercatat dengan memimpin Iran di tiga Piala Dunia, Brasil 2014, Rusia 2018, dan Qatar 2022. Queiroz sempat membawa Afrika Selatan lolos ke Piala Dunia 2002, tetapi meninggalkan posisinya tak lama sebelum turnamen dimulai.
”Sepak bola telah memberi saya tantangan, pelajaran, dan perjalanan tak terlupakan sepanjang hidup saya di seluruh dunia. Hari ini, saya menerima misi ini dengan semangat dan komitmen yang sama yang telah membimbing saya sepanjang karier saya. Ini bukan sekadar pekerjaan lain, ini adalah sebuah misi,” kata Queiroz dikutip dari laman FIFA.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/12/11/0a7a4c26-aa53-4574-a76c-a8c637e4b7f6_jpg.jpg)
Mengganti pelatih jelang turnamen, sebagaimana dilakukan Ghana, didasari pada pertimbangan performa. Di sisi lain, keputusan itu rentan menciptakan ketidakstabilan di internal tim. Para pemain yang telah terbiasa dengan program latihan pelatih lama menjadi harus menyesuaikan diri kembali.
Akan tetapi, tidak selalu pergantian pelatih jelang turnamen berakibat fatal. Kisah manis pernah ditorehkan Maroko yang mengganti pelatih 2,5 bulan jelang Piala Dunia 2022. Kala itu, Vahid Halilhodzic diberhentikan dari posisi pelatih kepala dan digantikan Walid Regragui.
Hasilnya, Maroko melaju hingga semifinal. Hingga kini, pencapaian itu merupakan yang terbaik bagi para wakil Afrika di Piala Dunia.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra