Langkah MSCI ini diprediksi bakal berpengaruh negatif bagi pasar saham Indonesia dalam jangka pendek serta menambah tekanan pada rupiah.
13 Mei 2026 07:14 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Lembaga penyedia indeks global, MSCI, baru saja mengumumkan hasil peninjauan indeks berkala periode Mei 2026. Dalam pengumuman yang dirilis pada Rabu (13/5/2026) pagi itu, pasar modal Indonesia mencatat perubahan signifikan. Enam saham domestik dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index, sementara 13 saham domestik dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes.
Kedua indeks utama itu merupakan acuan investor institusi mancanegara. Perubahan ini akan mulai berlaku efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.
Adapun pada kategori indeks MSCI Global Standard Indexes, yang biasanya diisi oleh saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar (blue chip), Indonesia tidak mencatatkan penambahan saham baru.
Sebaliknya, ada enam saham yang resmi dihapus dari indeks ini. Saham yang dihapus ialah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/862b92f38212eaa08d6d4810d6ffd56b-20260511_154032.jpg)
Sementara itu, pada kategori indeks MSCI Global Small Cap Indexes, tercatat satu saham yang dipromosikan masuk dan 13 saham yang keluar dari daftar. Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) pindah dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Global Small Cap Index yang berisi saham-saham dengan nilai kapitalisasi kecil.
Adapun MSCI menghapus sebanyak 13 saham dari indeks ini. Mereka adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu Farmasi Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), dan PT Mitra Keluarga Tbk (MIKA).
Kemudian, PT MNC Digital Entmt Tbk (MSIN), PT Pabrik K Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Finl Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
Peninjauan ini diprediksi bakal berpengaruh negatif bagi pasar saham Indonesia dalam jangka pendek. BRI Danareksa Sekuritas, dalam ulasan pasar Rabu pagi ini, menilai bahwa saham Indonesia yang keluar dari MSCI berpotensi mengalami tekanan jual akibat rebalancing fund asing dan ETF berbasis MSCI.
”Volatilitas diperkirakan meningkat menjelang akhir Mei seiring penyesuaian portofolio investor institusi,” katanya. Selain itu, tidak adanya saham baru yang masuk ke MSCI Standard juga menjadi sentimen tersendiri bagi market Indonesia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/13/e68d56464031637a3ec73c76aa4bd1f7-WhatsApp_Image_2026_05_13_at_07.02.11.jpeg)
PT Verdhana Sekuritas Indonesia dalam keterangannya pagi ini menyatakan, ada beberapa penghapusan saham yang berada di luar prediksi dan cukup mengejutkan, seperti ANTM, SIDO, dan DSNG. Secara sektoral, dalam daftar penghapusan, terlihat pula pola dominasi saham komoditas seperti tambang dan sawit serta energi.
Verdhana Sekuritas mengestimasi langkah MSCI ini bisa mendorong total arus keluar dana (outflow) sebesar 3,4 miliar dolar AS. Secara rinci, outflow dari penghapusan saham di Global Standard Index bisa mencapai 3,1 miliar dolar AS. Sementara, outflow akibat penghapusan saham di Global Small Cap Index mencapai 353 juta dolar AS.
Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang per Selasa (12/5/2026) sudah menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah di level Rp 17.500 per dolar AS, arus keluar dana sebagai imbas langkah MSCI ini bisa semakin menambah tekanan terhadap rupiah.
Peninjauan ini tidak hanya terjadi pada saham-saham dari Indonesia. MSCI juga melakukan peninjauan pada daftar saham di negara lain.
Untuk MSCI Global Standard Index di kawasan Asia Pasifik, misalnya, China mendominasi penambahan di indeks standar dengan 22 saham baru meski juga menghapus 24 saham. India menyusul dengan lima penambahan dan empat penghapusan. Sebaliknya, Jepang melakukan perampingan besar-besaran dengan menghapus 14 saham dari indeks standar dan hanya menambahkan tiga saham.
Di Eropa, Inggris mencatatkan pengurangan bersih yang cukup banyak dengan penghapusan lima saham tanpa penambahan pada indeks standar. Israel tampil menonjol dengan penambahan tiga saham baru, sementara negara-negara seperti Jerman, Belanda, dan Spanyol masing-masing kehilangan satu konstituen di indeks utama mereka.
Amerika Serikat tetap menjadi penggerak utama pasar global dengan penambahan tujuh saham ke MSCI World Index, termasuk Medline A, MasTec, dan TechnipFMC. Namun, AS juga mencatatkan jumlah penghapusan yang masif, yakni 19 saham dari indeks standar globalnya. Di Amerika Latin, Brasil mencatatkan kinerja positif dengan penambahan dua saham dan hanya satu penghapusan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/1e755fb4-4b45-4307-a9a1-c3b8407eb9d8.jpg)
Secara keseluruhan, MSCI mencatat ada 49 saham yang ditambahkan dan 101 saham yang dihapus dari MSCI ACWI Index dalam tinjauan Mei 2026 ini. Investor diharapkan mencermati perubahan ini karena biasanya diikuti oleh penyesuaian portofolio oleh manajer investasi secara global pada akhir bulan Mei.
Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan, penyesuaian indeks oleh MSCI merupakan hal lumrah dalam mekanisme pasar, terutama saat otoritas sedang melakukan reformasi integritas.
Meski demikian, ia menilai, penyesuaian jangka pendek ini akan membawa short-term pain untuk long-term gain. ”Kita lihat, semoga bisa kita antisipasi dengan baik. Saya sudah sampaikan, dengan perbaikan integritas yang kita lakukan, pasti ada dampaknya,” katanya.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul