Kalender Hijriah Global Tunggal memiliki prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Penentuan hari besar keagamaan pun dapat dilakukan sejak jauh hari.
25 Jun 2025 17:58 WIB · Nasional
SLEMAN, KOMPAS — Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi menerapkan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal sebagai patokan penanggalan Hijriah. Sistem tersebut menyatukan seluruh dunia dalam hari dan tanggal Hijriah yang sama, seperti pada sistem kalender Masehi.
Peluncuran Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) itu dilakukan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (25/6/2025). Peluncuran dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, perwakilan Kementerian Luar Negeri, perwakilan Kementerian Agama, perwakilan sejumlah negara Islam, organisasi Islam, dan pengurus Muhammadiyah.
Haedar mengungkapkan, peluncuran ini merupakan momen sangat penting dalam perjalanan Muhammadiyah untuk berkhidmat bagi kepentingan dunia Islam dan peradaban umat manusia. Kebutuhan terhadap satu kalender Hijriah yang berlaku global disebutnya sebagai keniscayaan di tengah era globalisasi saat ini.
Selain itu, hal ini juga sejalan dengan sifat Islam sebagai agama yang kosmopolitan dan universal. ”Karena itu, kita memerlukan satu tanggal untuk satu hari yang sama untuk seluruh kawasan di dunia,” ujar Haedar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/25/c0d9406a-e2d8-40ba-9932-b3778ce5d5ca_jpg.jpg)
KHGT merupakan kalender yang menggunakan siklus sinodis bulan dengan prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Metodenya menggunakan hisab (perhitungan astronomis) dengan sejumlah parameter.
Salah satunya adalah posisi hilal (bulan sabit muda) telah memiliki tinggi minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat. Ketika syarat itu sudah terpenuhi, di mana pun posisinya di muka Bumi, maka bulan baru berlaku untuk seluruh dunia.
Karena pergerakan Bumi, Matahari, dan Bulan berlangsung teratur, sistem itu memungkinkan perhitungan penanggalan secara akurat untuk jangka panjang, bahkan hingga ratusan tahun ke depan. Ini berbeda dengan metode seperti rukyat, yang harus dilakukan pada setiap akhir bulan Hijriah untuk mengamati posisi hilal.
KHGT ini akan memudahkan umat Islam dan dunia dalam hal beribadah maupun urusan muamalah (duniawi) lainnya.
Haedar mengatakan, KHGT memberi kepastian penanggalan sejak jauh hari, terutama untuk keperluan ibadah dan peringatan hari raya Islam, seperti awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Ini juga akan memudahkan masyarakat dalam mempersiapkan diri untuk menyambut hari-hari besar keagamaan itu, misalnya, menentukan tanggal mudik yang tepat.
”Tujuan syariat Islam, antara lain, menciptakan kemaslahatan dan menghindari kemuskilan (kesulitan). KHGT ini akan memudahkan umat Islam dan dunia dalam hal beribadah maupun urusan muamalah (duniawi) lainnya sehingga kita tak lagi berada dalam situasi yang tidak pasti,” tutur Haedar.
Selain itu, Haedar mengungkapkan, KHGT juga menjadi sarana ukhuah atau persatuan dan kesatuan umat Islam. Prinsip ukhuah selama ini selalu disuarakan oleh umat Islam dalam berbagai forum di seluruh dunia, tetapi masih sulit dipraktikkan dalam urusan kalender penanggalan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/25/031330c8-da27-43ae-b86b-b7b2bfb68755_jpg.jpg)
Karena itu, Muhammadiyah pun membuka diri untuk berdialog tentang KHGT ini dengan semua pihak agar sistem ini bisa diterapkan lebih luas lagi. ”Hal-hal yang menyangkut perbedaan-perbedaan dan juga kepentingan di balik perbedaan itu bisa diselesaikan secara musyawarah mufakat,” kata Haedar.
Sebelum memutuskan mengadopsi KHGT, PP Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid telah melakukan kajian dan persiapan selama setahun terakhir. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Hamim Ilyas mengatakan, KHGT telah sesuai dengan syariat dan berlandaskan sains.
Dalam perspektif Muhammadiyah, Hamim menjelaskan, KHGT diterapkan untuk mewujudkan kesejahteraan materiil dan spiritual serta duniawi dan ukhrawi berupa ketersediaan kalender yang pasti, universal, dan berlaku lama. ”Ini demi memenuhi kebutuhan kepastian waktu untuk melaksanakan ibadah dan melakukan transaksi,” ujarnya.
Lebih jauh, dia juga menjelaskan, umat Islam dewasa ini menjadi umat global yang tinggal di seluruh kawasan dunia. Bahkan, karena tugas atau profesinya, ada pula umat Islam yang tinggal di ruang angkasa atau kedalaman samudra dalam jangka waktu relatif lama. ”Mereka membutuhkan kalender universal dan pasti yang juga berlaku di ruang angkasa dan di kedalaman samudera,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/28/b098a267-9a5f-46f6-9b3b-8ee1c550a42c_jpg.jpg)
Hamim menjelaskan, ide tentang kalender tunggal Hijriah setidaknya telah muncul sejak tahun 1939 yang dipelopori Syekh Ahmad Muhammad Syakir, ahli hadis dari Mesir. Ide itu kemudian dikembangkan oleh sejumlah ahli lain dalam berbagai periode waktu.
Pada akhirnya, sistem KHGT itu disepakati dalam Konferensi Internasional Penyatuan Kalender Islam di Turki pada 2016. KHGT juga menjadi salah satu resolusi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada 2025 yang mendorong negara anggota untuk mengadopsinya.
Hamim mengatakan, Muhammadiyah telah memiliki perangkat lunak KHGT yang dapat diakses masyarakat di situs Muhammadiyah ataupun aplikasi berbasis Android bernama ”Masa”. Perangkat lunak tersebut tersedia dalam tiga pilihan bahasa, yakni Indonesia, Arab, dan Inggris.
Penerapan KHGT oleh Muhammadiyah pun disambut positif oleh Asisten Sekretaris Jenderal OKI Bidang Kemanusiaan, Kebudayaan, Sosial, dan Urusan Keluarga Tarig Ali Bakheet. Melalui pernyataan via video yang ditayangkan saat acara peluncuran, Bakheet menyebut hal ini sebagai inisiatif historis yang dipimpin Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar dan berpengaruh di dunia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/03/31/15ec78b1-2d3f-43de-bda7-16a406be7a4f_jpg.jpg)
”Inisiatif ini mewakili upaya konkret, berbasis ilmu pengetahuan, dan dilandasi keyakinan untuk menumbuhkan persatuan antarumat Islam melalui standardisasi kalender Islam,” tuturnya.
Hal ini pun selaras dengan tujuan OKI dan resolusi terkini organisasi itu, terutama Resolusi Nomor 1/51-C tentang Kalender Hijriah Tunggal. Resolusi itu diadopsi pada sesi ke-51 Dewan Menteri Luar Negeri OKI di Istanbul, Turki, tahun 2025.
”Ini mendorong negara anggota untuk mengadopsi KHGT yang berlandaskan perhitungan akurat astronomis untuk meningkatkan koherensi religius dan menguatkan kerja sama antarnegara anggota OKI,” ujar Bakheet.
Namun, dia menyadari bahwa perjalanan menuju penyatuan kalender Hijriah ini tidak sederhana. ”Ini memerlukan kesabaran, visi, dan keberanian untuk menjembatani perbedaan melalui dialog, ilmu pengetahuan, dan ketulusan,” katanya.
Penulis:
Mohamad Final DaengEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul