Mulai Kondusif, Investor Asing Kembali Lirik Pasar Keuangan RI

Dalam sepekan, investor asing mencatatkan beli neto di pasar keuangan domestik sebesar Rp 8,99 triliun. Alhasil, rupiah terhadap dollar AS dan IHSG pun menguat.

10 Mar 2025 06:00 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Gejolak pasar keuangan yang ditandai dengan tertekannya nilai tukar dan amblasnya pasar saham perlahan mulai kondusif seiring dengan masuknya kembali aliran modal asing. Kendati demikian, dinamika pasar keuangan global tetap perlu diwaspadai dengan menjaga sentimen positif dari sisi domestik.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, Minggu (9/3/2025), mengatakan, investor asing mulai kembali masuk ke pasar keuangan domestik selama sepekan terakhir dengan mencatatkan beli neto sebesar Rp 8,99 triliun. Ini mencerminkan perbaikan kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia, termasuk nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Berdasarkan data transaksi 3-6 Maret 2025, investor asing mencatatkan beli neto sebesar Rp 8,99 triliun di pasar keuangan domestik. Ini terdiri dari beli neto di pasar saham Rp 0,34 triliun dan di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 9,53 triliun serta jual neto di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) Rp 0,88 triliun.

”Ini terlihat dari stabilnya nilai tukar rupiah di kisaran Rp 16.295-Rp 16.320 per dollar AS, terapresiasi 1,75 persen dalam sepekan. Selain itu, pasar saham juga menunjukkan penguatan dengan IHSG naik 0,27 persen ke level 6.636 dan mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 5,8 persen. Ini mengindikasikan investor mulai optimistis terhadap prospek ekonomi nasional,” tutur Josua saat dihubungi dari Jakarta.

Infografik-Tren IHSG, Kurs Rupiah, dan Harga Emas *** Local Caption *** Infografik-Tren IHSG, Kurs Rupiah, dan Harga Emas

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada perdagangan 28 Februari 2025 ditutup di level Rp 16.575 per dollar AS atau terdepresiasi 2,58 persen dibandingkan penutupan akhir tahun 2024. Hal serupa juga dialami oleh IHSG yang menyentuh level 6.300, anjlok hampir 5 persen dalam sepekan, bahkan terendah sejak September 2021.

Menurut Josua, terdapat beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap stabilitas pasar dalam sepekan terakhir. Dari faktor eksternal, keputusan Presiden AS Donald Trump menunda implementasi tarif terhadap barang-barang dari Kanada dan Meksiko di bawah Perjanjian AS-Mexico-Canada (USCMA) memberikan sentimen positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, membaiknya data Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia dan China telah meningkatkan prospek ekonomi serta menarik minat investor asing untuk kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Di sisi lain, pelemahan indeks dollar AS (DXY) sebesar 3,51 persen dalam sepekan turut memberikan ruang bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, untuk menguat.

Quote

Pemerintah dan otoritas terkait perlu terus menjaga stabilitas ekonomi dan memberikan kejelasan kebijakan guna mempertahankan momentum positif yang telah terbentuk.

Dari sisi domestik, Josua melanjutkan, langkah pemerintah dan regulator turut berperan dalam menenangkan pasar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumpulkan emiten-emiten konglomerat, sedangkan Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan sembilan naga bisnis untuk membahas prospek ekonomi dan investasi ke depan.

”Langkah-langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menjamin kelangsungan kebijakan ekonomi yang pro-investasi sehingga meningkatkan optimisme pelaku pasar. Selain itu, stabilitas pasar obligasi juga tetap terjaga dengan yield SBN 10 tahun bertahan di level 6,87 persen, memberikan daya tarik yang kompetitif dibandingkan negara lain,” katanya.

Kendati demikian, masih terdapat beberapa risiko yang perlu diantisipasi, yakni potensi penguatan dollar AS seiring membaiknya data ketenagakerjaan AS sehingga akan mendorong kembali permintaan dollar AS dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Adapun nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp 16.225-Rp 16.375 per dollar AS dalam sepekan mendatang.

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat tertutup terkait 21 proyek hilirisasi yang akan segera direalisasikan, Senin (3/3/2025). Badan Pengelola Investasi Danantara akan mendanai proyek-proyek ini.

Selain itu, pelaku pasar turut mencermati perkembangan inflasi domestik dan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), terutama terkait arah suku bunga. Investor akan terus mengawasi arah kebijakan ekonomi pemerintah, khususnya terkait rencana pelebaran defisit fiskal dan strategi pertumbuhan ekonomi.

”Meski pasar menunjukkan tanda-tanda stabilisasi dengan masuknya kembali arus modal asing dan penguatan rupiah serta pasar saham, berbagai faktor eksternal dan domestik masih perlu dipantau dengan cermat. Pemerintah dan otoritas terkait perlu terus menjaga stabilitas ekonomi dan memberikan kejelasan kebijakan guna mempertahankan momentum positif yang telah terbentuk,” ujar Josua.

Senada, ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, berpendapat, IHSG dan nilai tukar rupiah perlahan membaik seiring dengan intervensi dari BI dan kembalinya tingkat kepercayaan para pelaku pasar. Hal ini seiring dengan upaya komunikasi yang baik dari pihak Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara alias BPI Danantara.

”Pertemuan Pak Prabowo dengan delapan pengusaha besar serta dilanjutkan dengan pengusaha dan Ray Dalio juga sangat membantu. Idealnya, dalam waktu dekat, Danantara segera mengumumkan tim manajemen lengkap yang didominasi oleh para profesional dan memaparkan rencananya ke depan,” katanya.

Presiden Prabowo Subianto (tengah) bersama Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (kiri), dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo meresmikan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (24/2/2025). Danantara adalah lembaga baru yang dirancang untuk mengelola aset negara secara strategis. Badan ini bertujuan untuk mengonsolidasikan aset-aset kekayaan negara, termasuk tujuh BUMN besar, serta aset yang dikelola oleh Indonesia Investment Authority (INA). Kompas/Hendra A Setyawan

Arah Danantara

Terkait Danantara, Wijayanto mengatakan, BPI Danantara membutuhkan waktu untuk berperan signifikan mengingat adanya proses untuk memulai pengeluaran modal (capital outlay) di proyek-proyek strategis dan mulai beroperasinya proyek tersebut.

”Perencanaan proyek harus matang sehingga proyek-proyek tersebut sustainable secara keuangan dan memberikan manfaat ekonomi yang memadai. Hati-hati juga dengan hilirisasi karena banyak di antaranya mempunyai masalah sustainability,” ujarnya.

Infografik Struktur Organisasi Danantara Indonesia

Sementara itu, pengamat ekonomi senior Ryan Kiryanto mengatakan, Danantara memiliki potensi besar untuk sukses berkat skala aset yang luas, tenaga kerja yang profesional, serta sumber daya alam yang melimpah yang dapat dioptimalkan untuk investasi strategis.

”Danantara akan makin sukses jika pengelolanya disiplin dalam menerapkan prinsip GRC (governance, risk management, compliance),” kata Ryan.

Menurut Ryan, pembentukan Danantara mencerminkan upaya Indonesia untuk meniru kesuksesan Temasek Holdings, perusahaan investasi milik pemerintah Singapura yang didirikan pada tahun 1974.

Dengan menerapkan GRC secara efektif, sistem pengendalian internal akan berjalan dengan baik, sehingga meningkatkan kepercayaan pelaku pasar dan mencegah birokrasi yang berlebihan. Ryan Kiryanto menegaskan bahwa Danantara harus menunjukkan tata kelola yang baik agar pelaku pasar yakin terhadap kredibilitasnya.

”Komitmen untuk menjalankan prinsip-prinsip GRC harus diwujudkan secara nyata oleh para pengambil kebijakan, dengan memastikan adanya mekanisme check and balances. Keterlibatan penasihat asing seperti Tony Blair menunjukkan upaya untuk meningkatkan praktik tata kelola,” katanya.

Ryan menambahkan, keberhasilan Danatara tidak hanya akan memperkuat posisi BUMN dalam persaingan global, tetapi juga mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui efisiensi dan optimalisasi aset negara.

Dinamika pasar

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyebut, masuk-keluar arus modal asing merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan global. Adapun keputusan investasi oleh asing sebagai bagian dari siklus keuangan global dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama faktor eksternal.

Quote

OJK bersama dengan Kementerian Keuangan, BI, dan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) terus mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kepercayaan pasar dan menarik investasi jangka panjang.

Kendati demikian, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, didukung oleh konsumsi domestik yang solid, stabilitas sektor keuangan, serta kebijakan yang proaktif dari pemerintah dan regulator. Maka, pemerintah bersama dengan regulator akan menjaga stabilitas, meningkatkan kepercayaan investor, dan memastikan perkembangan pasar modal yang berkelanjutan.

”OJK bersama dengan Kementerian Keuangan, BI, dan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) terus mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kepercayaan pasar dan menarik investasi jangka panjang. Upaya ini mencakup peningkatan likuiditas pasar, penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan transparansi, serta promosi pasar modal Indonesia sebagai destinasi investasi yang menarik,” katanya secara tertulis.

Konferensi pers Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia bersama perwakilan pelaku pasar modal dalam menanggapi kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (3/3/2025). Diskusi antarpemangku kepentingan pasar modal dilakukan menyusul derasnya dana investor asing yang keluar pasar modal hingga IHSG terkoreksi 11 persen sejak awal 2025. Beberapa kebijakan yang diambil hasil diskusi tersebut antara lain ditundanya perdagangan short selling dan kebijakan buyback saham tanpa rapat umum pemegang saham.

Meski volatilitas dalam jangka pendek tidak dapat dihindari, Inarno optimistis Indonesia akan terus menjadi tujuan investasi yang menarik bagi investor domestik dan asing. Hal ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang solid, reformasi struktural, serta berbagai peluang investasi yang menjanjikan.

Menurut dia, kunci untuk menjadi pilihan investasi adalah stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan. Maka dari itu, OJK dan self-regulatory organization (SRO) telah melakukan asesmen dan menyiapkan opsi kebijakan dalam rangka mewujudkan pasar modal yang stabil dan memberikan kepercayaan dan perlindungan kepada investor.

”Kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menawarkan peluang investasi yang menarik bagi investor asing dengan dukungan fundamental ekonomi yang solid dan perbaikan kebijakan yang berkelanjutan,” ujar Inarno.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti