Dalam dua pekan terakhir, rupiah berfluktuasi hingga menyentuh level Rp 16.575 per dollar AS pada perdagangan 28 Februari 2025.
07 Mar 2025 06:30 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Ketidakpastian global seiring dengan penerapan kebijakan tarif Amerika Serikat telah menyebabkan pergerakan nilai tukar rupiah cenderung berfluktuasi. Ketersediaan valuta asing di sistem keuangan domestik akan menentukan tingkat kepercayaan pasar dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (6/3/2025) ditutup di level Rp 16.315 per dollar AS. Dalam dua pekan terakhir, rupiah berfluktuasi hingga menyentuh level Rp 16.575 per dollar AS pada perdagangan 28 Februari 2025.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Edi Susianto mengatakan, nilai tukar di pasar global bergerak sangat fluktuatif (volatile) akibat dinamika global, seperti kebijakan tarif dan arah kebijakan suku bunga AS. Hal ini turut berdampak terhadap pergerakan nilai tukar negara berkembang (emerging market) Asia.
”Kalau beberapa hari kemarin pergerakan nilai tukar, khususnya emerging market Asia, menguat terhadap dollar AS, hari ini beberapa mata uang emerging market Asia melemah terhadap dollar AS,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (6/3/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/28/e6bdfbef-0bcf-41e2-8cdc-8b4dc7ff75c8_png.png)
Dalam menyikapi kondisi tersebut, Edi melanjutkan, hal terpenting yang harus dilakukan ialah menjaga tingkat kepercayaan pasar. Upaya ini dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan (supply-demand) valuta asing (valas).
Oleh sebab itu, BI akan tetap memastikan keseimbangan tersebut melalui triple intervention. Ketiga intervensi tersebut dilakukan, baik di pasar spot, pasar domestic non-deliverable forward (DNDF), maupun dengan membeli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
”Upaya agar capital inflow (aliran masuk modal asing) tetap terjadi menjadi hal yang juga penting untuk meningkatkan supply valas di market. Selain itu, komunikasi dengan pelaku pasar terus dilakukan,” ujar Edi.
Berdasarkan data transaksi 24-27 Februari 2025, nonresiden mencatatkan jual neto sebesar Rp 10,33 triliun di pasar keuangan domestik. Ini terdiri dari jual neto sebesar Rp 7,31 triliun di pasar saham, Rp 1,24 triliun di pasar SBN, dan Rp 1,78 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/03/acf68ecd-9ff2-4874-9793-82896e92250d_jpg.jpg)
Alhasil, sejak awal 2025 hingga 27 Februari, investor asing di pasar keuangan domestik baru mencatatkan arus masuk sebesar Rp 5,06 triliun. Ini terdiri dari jual neto sebesar Rp 15,47 triliun di pasar saham, serta beli neto sebesar Rp 12,86 triliun di pasar SBN dan Rp 7,67 triliun di SRBI.
Senada, Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Triwahyono menyampaikan, meski nilai tukar rupiah memiliki fundamental yang solid, kebijakan tarif AS mengakibatkan nilai tukar berfluktuasi layaknya rollercoaster. Situasi tersebut diperkirakan akan terjadi selama empat tahun ke depan.
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah yang terjadi cukup dalam hingga menembus Rp 16.500 per dollar AS beberapa hari lalu juga dipengaruhi oleh sentimen investor asing. Sebelumnya, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan rekomendasi terhadap aset investasi di Indonesia dengan level pemeringkatan underweight atau berperforma rendah sehingga aliran modal asing pun keluar dari pasar keuangan domestik, terutama pasar saham.
Pelaku usaha berharap mata uang rupiah sama seperti mata uang negara ASEAN lainnya yang tidak terlalu terombang-ambing dengan gejolak mata uang dollar AS. Pelaku usaha juga sudah lelah menyuarakan dan menyiasati fluktuasi mata uang rupiah.
Kemudian, keadaan sedikit berbalik ketika JP Morgan mengeluarkan hasil asesmen yang merevisi ke atas peringkat beberapa saham sektor perbankan di Indonesia. Rekomendasi tersebut pun membuat aliran modal investor asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik.
”Itu (JP Morgan) membuat situasi akhirnya berbalik, termasuk hari ini, pasar saham di Indonesia mengalami rebound cukup tinggi. Ini kemudian berdampak juga ke rupiah karena banyak di-drive oleh perilaku asing di saham,” kata Triwahyono dalam taklimat media di Jakarta.
Menghadapi fluktuasi nilai tukar, Ketua Umum Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Subandi menyampaikan, para pelaku usaha importasi sudah pasrah dengan gejolak naik turunnya nilai tukar yang sulit diantisipasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/21/efb6e072-b61f-4ef0-a1f0-3956e5511b31_jpg.jpg)
Menurut dia, seluruh sektor pasti akan terdampak oleh fluktuasinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan mata uang asing lainnya. Para pelaku usaha berharap rupiah dapat bergerak stabil sehingga tidak memengaruhi operasionalisasi bisnis.
”Pelaku usaha berharap mata uang rupiah sama seperti mata uang negara ASEAN lainnya yang tidak terlalu terombang-ambing dengan gejolak mata uang dollar AS. Pelaku usaha juga sudah lelah menyuarakan dan menyiasati fluktuasi mata uang rupiah,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.
Dihubungi secara terpisah, ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang, menjelaskan, perang dagang antara Amerika Serikat dan China menciptakan dinamika baru dalam perdagangan global, termasuk perekonomian Indonesia. Ketegangan ini membuat kinerja ekspor dan transaksi berjalan menantang, sekaligus membuka peluang untuk memperkuat daya saing dan menarik investasi baru.
”Dalam menghadapi perubahan tersebut, fleksibilitas kebijakan ekonomi dan strategi diversifikasi pasar menjadi kunci untuk menjaga stabilitas makroekonomi serta ketahanan sektor eksternal Indonesia,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/20/e9f6445b-a572-420b-8cc9-deb0eca89670_png.png)
Hosianna memaparkan, perang dagang periode pertama kepemimpinan Donald Trump (Trump 1.0) sebagai Presiden AS pada 2016–2019 telah menyebabkan depresiasi nilai tukar mata uang di sebagian besar negara Asia. Meski rupiah tertekan, pelemahannya tidak sedalam mata uang negara lain sehingga sentimennya masih terkendali.
Di sisi lain, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan pada 2025 tetap dalam batas aman di kisaran minus 0,5-1,3 persen dari produk domestik bruto (PDB) seiring dengan surplus transaksi modal dan finansial yang berlanjut. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, ekspor nasional pada Trump 1.0 mampu tetap bertumbuh sehingga ketahanan ekspor dapat terus dipertahankan.
Dengan fundamental ekonomi domestik yang solid dan prospek pertumbuhan yang tetap kuat, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 16.100–Rp 16.600 per dollar AS pada 2025.
Menurut Hosianna, pelemahan mata uang akibat sentimen global tetap harus diantisipasi. Selain itu, currency war atau kecenderungan pelemahan mata uang secara strategis dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjaga daya saing ekspor, terutama sebagai kontra dari pengenaan tarif di negara tujuan.
”Dengan fundamental ekonomi domestik yang solid dan prospek pertumbuhan yang tetap kuat, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 16.100–Rp 16.600 per dollar AS pada 2025,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/02/2545d7a7-b4ab-41aa-a706-2576be5a4524_png.png)
Di sisi lain, Senior Economist Bank DBS Radhika Rao memperkirakan inflasi umum pada 2025 akan kembali turun di bawah target BI sebesar 1,5-3,5 persen. DBS Group Research pun turut merevisi ke bawah perkiraan inflasi tahunan pada 2025, dari 2,2 persen menjadi 1,2 persen.
”BI akan mempertimbangkan berbagai tujuan. Tren deflasi menandakan urgensi untuk menurunkan suku bunga, tetapi rupiah tetap rentan terhadap pergerakan dollar AS, terus mempertahankan posisinya di regional yang berkinerja buruk dengan penurunan minus 2,3 persen tahun kalender berjalan,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (5/3/2025).
Meski defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan IV-2024 menyusut menjadi 0,3 persen dari PDB, defisit transaksi berjalan sepanjang 2024 melebar hingga 0,6 persen ke PDB. Pelebaran ini disebabkan oleh surplus perdagangan barang yang menyusut, kesenjangan pendapatan primer yang meningkat, dan defisit jasa yang melebar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/06/37a88018-1738-44d3-927f-be728db222eb_jpeg.jpg)
Secara keseluruhan, surplus neraca pembayaran mencapai 7,2 miliar dollar pada tahun 2024, lebih tinggi dibandingkan 6,3 miliar dollar AS pada 2023. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan investasi langsung asing (FDI), program pembiayaan eksternal, dan arus portofolio yang positif.
”Bank sentral memproyeksikan defisit transaksi berjalan pada 2025 berada dalam kisaran minus 0,5-1,3 persen dari PDB, dengan perkiraan DBS Group Research berada di titik tengah kisaran tersebut. Stabilitas neraca perdagangan eksternal menjadi faktor positif bagi aset rupiah,” ujarnya.
Kendati demikian, BI menyatakan komitmennya untuk membeli obligasi senilai Rp 130 triliun untuk membiayai program stimulus perumahan pemerintah tahun ini. Hal ini telah menimbulkan kekhawatiran atas monetisasi utang secara de facto.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Muhammad Fajar Marta