Multilateralisme: Diabaikan AS, Didukung China

Presiden Amerika Serikat memilih meninggalkan APEC. Sebaliknya, Presiden Xi Jinping menegaskan dukungan China pada forum itu. Bagi Xi, globalisasi ekonomi penting.

01 Nov 2025 07:00 WIB · Internasional

AP

Oleh Bonifasius Josie Susilo H, Nina Susilo

GYEONGJU, JUMAT — Diabaikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) justru mendapat dukungan dari Presiden China Xi Jinping. Dengan tegas, di depan para pemimpin APEC, Xi mengatakan, China akan membantu mempertahankan rezim perdagangan bebas global.

”Semakin bergejolak zaman, semakin kita harus bekerja sama,” kata Xi dalam sesi pembukaan APEC di Gyeongju, Korea Selatan, pada Jumat (31/10/2025). ”Dunia sedang mengalami periode perubahan cepat dengan situasi internasional yang makin kompleks dan fluktuatif,” kata Xi menambahkan.

Dalam pertemuan tersebut, Xi menyerukan pentingnya usaha untuk mempromosikan globalisasi ekonomi dan multilateralisme. Situasi ini berbeda dengan sikap yang ditunjukkan AS pada era Trump yang cenderung protektif.

APEC didirikan pada tahun 1989 ketika globalisasi tengah tumbuh pesat. Anggota APEC berjumlah 21 negara, yang mewakili 40 persen populasi global. APEC diinisiasi untuk mewadahi keterbukaan pada investasi dan perdagangan antarnegara sekaligus mempercepat integrasi ekonomi regional di lingkar Asia Pasifik.

This handout from APEC 2025 Korea via Yonhap taken and released on October 31, 2025 shows South Korean President Lee Jae Myung (R) and China's President Xi Jinping attending the gala dinner during the Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Summit in Gyeongju. (Photo by Handout / various sources / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  APEC 2025 KOREA VIA YONHAP" - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS - NO ARCHIVE

Saat ini, di tengah tarikan dua kekuatan ekonomi global, yaitu AS-China, APEC menghadapi tantangan strategis pada sejumlah sektor, khususnya rantai pasok, populasi yang kian menua, hingga dampak kecerdasan buatan pada ketersediaan lapangan kerja. Sebagai sesama negara anggota APEC, ketegangan AS-China justru mengguncang pasar, mengancam globalisasi dan multilateralisme.

Menyikapi tantangan itu, dalam pidato pembukaan, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyerukan kerja sama dan memperkokoh solidaritas. Dua hal tersebut, menurut dia, sangat penting untuk mengatasi beragam tantangan baru yang dihadapi dunia.

”Jelas bahwa kita tidak bisa selalu berada di pihak yang sama karena kepentingan nasional kita dipertaruhkan. Namun, kita dapat bersatu untuk tujuan akhir, yaitu kemakmuran bersama,” ujar Lee. ”Saya berharap kita akan berdiskusi secara terbuka dan konstruktif tentang bagaimana kita dapat mencapai visi APEC dalam menghadapi tantangan baru berupa lingkungan ekonomi internasional yang berubah dengan cepat.”

Hadir dalam KTT itu, antara lain, Presiden RI Prabowo Subianto, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, PM Kanada Mark Carney, dan PM Singapura Lawrence Wong.

Presiden Prabowo Subianto berbincang dengan PM Jepang Sanae Takaichi di sela KTT APEC 2025 di Kota Gyeongju, Korea Selatan, Jumat (31/10/2025).

Saling percaya

Dalam sambutannya pada sesi pertama APEC Economic Leaders’ Meeting (AELM), Presiden Prabowo Subianto mengajak negara-negara Asia Pasifik untuk terus memperkuat rasa saling percaya dan menyingkirkan saling curiga. Menurut dia, hal tersebut menjadi modal kerja sama ekonomi inklusif yang mendorong kemakmuran bersama dan stabilitas.

Prabowo mengingatkan, meningkatnya kecurigaan dan ketegangan dapat mengancam stabilitas ekonomi global. Meski demikian, Asia Pasifik tak boleh menyerah pada perpecahan.

”Kita bertemu hari ini di tengah ketidakpastian global. Ketegangan dan meningkatnya ketidakpercayaan membahayakan stabilitas ekonomi global dan memperparah perpecahan di antara kita. Namun, saya percaya bahwa Asia Pasifik tidak boleh menerima perpecahan sebagai takdirnya. Kita harus bangkit dari kecurigaan dan ketakutan, dan kita harus membangun kembali kepercayaan di antara kita sendiri dan di antara ekonomi global,” tutur Prabowo.

Sejak awal, menurut Prabowo, APEC didirikan dengan semangat pertumbuhan ekonomi inklusif dan kerja sama multilateral. Oleh karena itu, memperbarui komitmen terhadap sistem perdagangan terbuka, adil, berbasis aturan internasional, dan inklusif menjadi sangat penting.

”Indonesia berkomitmen pada sistem perdagangan multilateral berbasis aturan dengan WTO sebagai inti dan untuk memastikan bahwa setiap orang berkompetisi pada tingkat yang sama,” kata Prabowo.

TOPSHOT - A South Korean protester holds a placard showing a caricature of Trump depicted as a thief during a rally against US President Trump's visit to attend the Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Summit, in Gyeongju on October 29, 2025. (Photo by Jung Yeon-je / AFP)

Pulang

Sebagaimana diberitakan, setelah menggelar pertemuan bilateral dengan Xi di Busan, Kamis, Trump memutuskan kembali ke Washington. Pertemuan itu digelar setelah Trump melawat ke Malaysia untuk mengikuti KTT ASEAN dan bertandang ke Jepang.

Dalam pertemuan di Busan, Xi dan Trump membahas perang dagang AS-China. Trump menggambarkan pertemuannya dengan Xi sebagai kesuksesan besar dan menjanjikan akan memangkas tarif impor aneka produk China.

Meski pertemuan itu berhasil meredakan ketegangan AS-China, khususnya terkait perang dagang, penolakannya pada forum multilateral seperti APEC justru memperburuk reputasi AS. ”APEC dimaksudkan lebih dari sekadar tempat untuk gencatan senjata perang dagang,” ujar Leif-Eric Easley, profesor studi internasional di Ewha Womans University di Seoul.

”Upaya multilateral yang lebih besar diperlukan untuk mengatasi tantangan ekonomi paling mendesak di kawasan ini, termasuk melawan proteksionisme yang mahal dan mengganggu stabilitas, menyelaraskan regulasi untuk perdagangan berkelanjutan, serta mengoordinasikan standar untuk inovasi digital,” kata Easley.

Keraguan pada sikap AS coba ditepis Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang hadir mewakili Trump. Menurut dia, AS tetap berkomitmen untuk menyeimbangkan kembali hubungan perdagangannya dan memastikan bahwa setiap negara beroperasi dengan persyaratan yang adil dan timbal balik. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H, Nina Susilo
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto