Mungkinkah Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Akan Tercapai?

Proyeksi dari sejumlah lembaga global, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan cenderung stagnan seperti saat ini, yakni tetap di kisaran 5 persen.

13 Nov 2025 13:15 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Oleh Budiawan Sidik A

Target pertumbuhan ekonomi tinggi hingga 8 persen masih optimistis akan teraih pada masa akhir kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Sejumlah skenario telah disusun sehingga secara bertahap target itu dapat dicapai pada 2029. Hanya saja, target besar itu berbeda jauh dengan proyeksi yang dilakukan sejumlah lembaga global, yang menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan cenderung stagnan seperti saat ini, yakni tetap di kisaran 5 persen.

Berdasarkan laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara bertahap akan meningkat hingga mencapai 8 persen pada 2029.

Tahun ini (2025) pertumbuhan ekonomi nasional ditargetkan mencapai 5,3 persen. Tahun depan naik mencapai 6,3 persen; lalu tumbuh lagi menjadi 7,5 persen pada 2027; dan kembali naik pada 2028 menjadi 7,7 persen. Pada masa akhir kepemimpinan Presiden Prabowo tahun 2029, ekonomi nasional diharapkan sudah bertengger naik di 8 persen.

Untuk meraih pertumbuhan tinggi tersebut, setidaknya pemerintah telah menyiapkan delapan strategi pertumbuhan berkelanjutan dengan pengungkit utama deregulasi perizinan serta kebijakan fiskal dan moneter yang pro-growth.

Delapan strategi itu meliputi peningkatan produktivitas pertanian menuju swasembada pangan; industrialisasi yang bersifat padat karya dan berorientasi ekspor; membangun pariwisata dan ekonomi kreatif; serta mengembangkan ekonomi biru dan ekonomi hijau. Selain itu, pemerintah juga mengedepankan strategi perkotaan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi; mengakselerasi transformasi digital; investasi, khususnya investasi asing berorientasi ekspor, dan investasi non-APBN; serta membelanjakan anggaran negara yang bersifat mendorong produktivitas, seperti program Makan Bergizi Gratis dan pembangunan 3 juta rumah.

Delapan strategi itu diharapkan terdistribusi secara merata di seluruh wilayah Indonesia sehingga pembangunan ekonomi dapat berjalan secara simultan dan berkesinambungan.

Infografik-Tahapan Target Petumbuhan Ekonomi Indonesia Lima Tahun ke Depan

Namun, apakah skenario tersebut akan efektif mendorong pertumbuhan ekonomi melonjak tinggi seperti yang diharapkan?

Proyeksi tersebut pada dasarnya masih memerlukan pembuktian untuk mengakselerasi kemajuan ekonomi nasional. Hanya saja, untuk meraih pertumbuhan ekonomi pada tahun ini yang mencapai 5,3 persen, seperti skenario RPJMN 2025-2029, sepertinya sulit untuk diwujudkan.

Indikasinya terlihat dari tren pertumbuhan ekonomi setidaknya dalam satu dekade terakhir. Pada kurun 2016-2025, pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada 2022 sebesar 5,31 persen. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi ini terakselerasi dari sejumlah perbaikan pascapandemi Covid-19.

Stabilisasi ekonomi pada 2022 itu mendorong pertumbuhan yang relatif tinggi karena pada tahun-tahun sebelumnya ekonomi nasional tumbuh rendah dan bahkan negatif pada 2020. Jadi, kondisi tahun 2022 itu merupakan penyesuaian dari kondisi anomali sebelumnya sehingga memiliki laju pertumbuhan yang terkesan lebih tinggi.

Berkaca pada pertumbuhan tahun 2022 itu, tampaknya target pertumbuhan ekonomi pada 2025 tampaknya sulit untuk meraih 5,3 persen seperti yang diskenariokan pemerintah. Terjadi perbedaan laju pertumbuhan ekonomi tiap triwulan pada tahun ini yang cenderung lebih rendah dari tahun 2022.

Rata-rata pertumbuhan ekonomi year on year (YoY) tiap triwulan pada tahun 2022 rata-rata di atas 5 persen. Bahkan, pada triwulan II dan III tahun 2022, pertumbuhannya relatif tinggi, masing-masing 5,47 persen dan 5,73 persen.

Berbeda dengan tahun ini, yang pertumbuhannya relatif lambat. Pada triwulan I, II, dan III tahun 2025, rata-rata laju pertumbuhannya relatif stagnan di kisaran 5 persen. Bahkan, pada triwulan I-2025, pertumbuhan ekonomi nasional hanya 4,87 persen. Artinya, target untuk meraih pertumbuhan ekonomi 5,3 persen pada 2025, seperti skenario Bappenas, sepertinya sulit untuk diwujudkan.

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2025

Proyeksi pesimistis lembaga global

Relatif sulitnya Indonesia untuk meraih pertumbuhan ekonomi tinggi itu juga terlihat dari perkiraan dari sejumlah lembaga global. Indonesia diproyeksikan pertumbuhan ekonominya cenderung masih stagnan dan tertatih-tatih menembus pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.

World Economic Outlook IMF pada Oktober 2025 memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 hanya sekitar 4,9 persen. Laju pertumbuhan ini relatif sama hingga tahun 2026 dengan besaran sekitar 4,9 persen. Laju pertumbuhan ini tak banyak berubah hingga lima tahun ke depan. Pada tahun 2030, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di kisaran 5,1 persen.

Proyeksi pesimistis tersebut juga tampak dari perkiraan Bank Dunia. Pada Juni 2025, Bank Dunia meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama setahun ini jauh lebih rendah lagi dari IMF, yakni hanya 4,7 persen. Pada tahun depan, ekonomi Indonesia bergerak tumbuh merangkak naik menjadi 4,8 persen dan setahun berikutnya pada 2027 tumbuh sekitar 5 persen.

Proyeksi yang cenderung rendah itu juga dilakukan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Lembaga ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini hingga tahun depan sama dengan proyeksi IMF, yakni hanya tumbuh sekitar 4,9 persen. Proyeksi serupa dinyatakan Bank Pembangunan Asia (ADB), yang menyatakan tahun ini Indonesia hanya tumbuh sekitar 4,9 persen.

Deskripsi tersebut mengindikasikan bahwa target besar bangsa ini untuk meraih pertumbuhan ekonomi tinggi relatif sangat sulit diwujudkan. Skenario yang disusun tak mudah direalisasikan sehingga kemungkinan akan berdampak pada tahap-tahap berikutnya.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi ADB terhadap sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.  Sumber: Asian Development Outlook September 2025

Ada beragam indikator yang saat ini masih menyimpang dari target yang direncanakan. Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran.

Berdasarkan data Bappenas pada Desember 2024, untuk meraih pertumbuhan 8 persen pada 2029, ada sejumlah indikator yang harus dicapai pada 2025 ini dari sisi pengeluaran PDB. Rinciannya, konsumsi masyarakat meningkat 5,14 persen, konsumsi pemerintah 6,66 persen, investasi 5,61 persen, ekspor barang dan jasa 6,95 persen, dan impor 7,16 persen.

Pada kenyataannya, pada triwulan III-2025, sejumlah indikator sisi pengeluaran tersebut belum semuanya mencapai target yang diharapkan. Laju pertumbuhan secara year on year triwulan III-2025 menunjukkan konsumsi masyarakat hanya tumbuh 4,89 persen, konsumsi pemerintah 5,49 persen, investasi 5,04 persen, ekspor naik 9,91 persen, dan impor susut 1,18 persen. Dari sejumlah indikator itu, hanya ekspor yang masih sesuai dengan rencana pemerintah.

Kondisi tersebut tentu saja akan menjadi tantangan berat bagi pemerintah dan segenap pemangku kepentingan terkait untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi tinggi hingga 8 persen pada 2029. Apalagi, skenario yang disusun pada lima tahun mendatang sepertinya memang sulit diwujudkan apabila ”hanya” mengandalkan pada sejumlah rencana atau program pemerintah yang saat ini sedang dilakukan.

Berdasarkan rancangan Bappenas untuk meraih pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 dibutuhkan peningkatan laju ekonomi yang sangat signifikan. Dari sisi pengeluaran, diperkirakan dibutuhkan peningkatan pertumbuhan konsumsi masyarakat hingga 7,27 persen, konsumsi pemerintah naik 8,40 persen, investasi tumbuh 9,65 persen, ekspor dan impor masing-masing meningkat 9,50 persen dan 10,16 persen.

Harus diakui bahwa kondisi sekarang jauh dari target yang direncanakan tersebut, apalagi saat ini tengah terjadi kelesuan ekonomi yang membuat daya beli masyarakat cenderung menurun. Hal ini patut menjadi perhatian serius karena konsumsi masyarakat menyumbang lebih dari 50 persen dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Jadi, dengan kian menurunnya daya beli, hal itu akan berpengaruh signifikan terhadap kemajuan bangsa.

Infografik Laju Pertumbuhan Ekonomi 2021-2025

Oleh karena itu, pemerintah setidaknya dalam jangka pendek dan menengah harus fokus pada upaya mendorong peningkatan daya beli masyarakat. Hal lain adalah mendorong peningkatan industrialisasi (padat karya) yang menjadi tulang punggung utama perekonomian sehingga kian banyak menciptakan lapangan kerja yang berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat luas.

Demikian pula dengan investasi, baik investor asing maupun domestik, didorong untuk menciptakan produk yang memiliki daya saing global sehingga dapat diekspor dan menghasilkan devisa bagi negara.

Pemerintah harus fokus pada upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat apabila memang semangat besarnya menumbuhkan perekonomian hingga 8 persen. Program kebijakan dan alokasi anggaran harus dievaluasi ulang untuk melihat dampak dan manfaatnya secara luas.

Jika tidak ada perubahan signifikan, niscaya pertumbuhan ekonomi 8 persen hanyalah angan-angan belaka. Setidaknya indikator yang disajikan menunjukkan sulitnya pencapaian itu. Tak heran apabila sejumlah lembaga global pun masih melihat pesimistis semangat besar bangsa ini. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Budiawan Sidik A
 | 

Editor:

Andreas Yoga Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji