Kontroversi penghapusan mural ”Black Lives Matter” di Amerika Serikat.
24 Mei 2025 16:11 WIB · Foto Cerita
“BLACK LIVES MATTER”,
Tulisan besar hitam berwarna kuning yang telah dilukis di jalan dekat Gedung Putih sejak Juni 2020 itu kini hilang. Tulisan itu dibuat saat unjukrasa terkait polisi yang membunuh George Floyd, seorang pria kulit hitam tak bersenjata meluas di Amerika Serikat (AS). Tulisan serupa dibanyak penjuru kota juga mengalami hal yang sama, hilang.
Kata-kata "Black Lives Matter" yang awalnya adalah seruan dari ribuan demonstran yang menuntut keadilan rasial, berubah menjadi kata-kata yang menghiasi jalan-jalan dan penjuru kota.
Black Lives Matter sendiri berawal pada 2013. Saat itu Black Lives Matter menjadi suatu gerakan politik dan sosial yang bertujuan untuk mengakhiri diskriminasi dan ketidakadilan rasial. Beberapa isu utama yang diangkat oleh gerakan ini adalah kebrutalan polisi dan kekerasan bermotif rasial terhadap orang kulit hitam. Gerakan ini juga berperan penting dalam mendorong perubahan kebijakan dan organisasi pada kepolisian, seperti pelatihan bias implisit, kamera yang dikenakan di badan, dan larangan surat perintah penggeledahan tanpa persetujuan pengadilan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/24/2941a215-66ef-463d-8192-552c2b174bbf_jpg.jpg)
Awalnya, seorang pramuniaga toko melaporkan bahwa George Floyd diduga menggunakan uang kertas palsu senilai 20 dolar Amerika Serikat. Tindakan berlebihan dilakukan seorang polisi berkulit putih bernama Derek Chauvin. Ia berlutut di leher dan punggung Floyd yang tertelungkup ditanah, selama lebih dari sembilan menit saat petugas yang lain memborgol tangannya.
Kerumunan warga yang tadinya menonton, akhirnya meneriaki polisi agar mengendurkan “tekanan” karena melihat Floyd kesulitan bernapas, tak dihiraukan. Floyd akhirnya dinyatakan meninggal setiba di rumah sakit.
Kematian Floyd di tangan polisi ini pun memicu kemarahan publik. Warga turun ke jalan dan bentrok dengan polisi. Mereka menjarah toko-toko dan membakarnya. Polisi bereaksi dengan menembakkan gas air mata dan peluru karet. Empat oknum polisi yang bertanggung jawab atas kematian Floyd kemudian dipecat, namun kemarahaan massa terlanjur meluas.
Bersamaan dengan unjukrasa yang marak pada saat itu, para seniman di kota-kota di Amerika Serikat melukis mural jalanan Black Lives Matter sebagai bentuk solidaritas atas kebrutalan polisi dan rasisme.
Lima tahun telah berlalu, banyak mural Black Lives Matter yang masih dirawat oleh para aktivis dan kelompok masyarakat. Namun sebuah mural yang secara luas dianggap telah menginspirasi mereka semua, tulisan Lives Black Matter yang ditulis dengan huruf kapital kuning selebar 11 meter yang dilukis di jalanan yang hanya berjarak satu blok dari Gedung Putih, telah hilang.
Muriel Bowser, wali kota Washington, memerintahkan pekerja untuk menyingkirkan mural Black Lives Matter pada bulan Maret lalu. Publik pun menduga tindakan penghapusan mural ini di bawah tekanan Kongres yang dipimpin Partai Republik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/24/588b933d-d23d-422a-bfc7-dde92320c363_jpg.jpg)
Saat pekerja mulai membongkar tulisan itu, banyak penonton yang mengambil foto momen tersebut. Mereka datang untuk melihat mural tersebut untuk terakhir kalinya, dan mengungkapkan kekecewaan mereka atas keputusan untuk mencopotnya.
"Itu sejarah... dan sekarang mereka pada dasarnya mengatakan bahwa itu tidak pernah terjadi," kata salah satu warga berusia 54 tahun dari Virginia yang meminta identitasnya dirahasiakan saat diwawancara Associated Press. "Sejarah orang kulit hitam jelas tidak penting baginya," tambahnya sambil mengangguk ke arah Gedung Putih.
Keyonna Jones, salah satu dari tujuh seniman yang melukis Black Lives Matter itu, mengatakan bahwa penghapusan mural tersebut tidak mengurangi pentingnya mural tersebut dalam sejarah.
"Melihat mural tersebut ditiru di seluruh dunia dalam waktu 24 jam," kata Jones saat penghapusan mural tersebut. "Saya pikir itulah yang benar-benar menunjukkan kekuatan seni dan itulah bagian favorit saya dari keseluruhan pengalaman tersebut."
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/24/644567ed-8710-4a83-b5df-54c42b1234a4_jpg.jpg)
Kutipan "Seni itu singkat tetapi perlawanannya panjang" yang sering dikaitkan dengan pepatah "Ars longa, vita brevis" yang bermakna bahwa karya seni dapat bertahan lebih lama daripada kehidupan seniman yang menciptakannya nampak benar dalam kejadian ini.
Mural bisa dihapus, namun ingatan akan itu abadi.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari