Musik dan Kerinduan Perubahan

Musik, dengan kekuatannya yang dalam, mampu menggerakkan emosi, memengaruhi perubahan sosial, dan menjadi suara perlawanan serta harapan bagi masyarakat.

21 Mar 2025 18:02 WIB · Opini

Oleh IDI SUBANDY IBRAHIM

Konser Barasuara  ”Guna Manusia” yang digelar oleh Liztomania di Gedung Kesenian  Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Selama berabad-abad, manusia telah berusaha memanfaatkan kekuatan musik untuk berbagai tujuan, lebih dari sekadar hiburan. Mars militer dimainkan untuk menggerakkan semangat dan kesatuan para prajurit. Lagu kebangsaan dipentaskan dalam berbagai pertandingan olahraga untuk menginspirasi tim-tim yang berlaga dan pada upacara medali kemenangan sering membuat para atlet meneteskan air mata. Kaum agama menggunakan musik sebagai media membangkitkan keharuan dan suasana batin ke dalam kerinduan kepada Dia, Sang Kekasih.

Quote

Musik menciptakan keadaan emosional dengan cara yang halus.

Tak diragukan, musik memiliki kekuatan bawaan dan efek yang kuat pada fisik, mental, dan jiwa kita. Musik menciptakan keadaan emosional dengan cara yang halus. ”Ketika kita berbicara tentang kekuatan musik, yang kita maksud adalah bahwa musik memiliki cara untuk menarik perhatian kita yang tidak dimiliki oleh seni lain. Musik mengesankan pikiran kita sehingga kita harus mendengarkannya dan mendengarkan pesannya,” demikian Halbert Hains Britan, seorang ilmuwan musik, menulis ”Kekuatan Musik,” lebih dari satu abad silam, dalam The Journal of Philosophy, Psychology, and Scientific Methods 5, No 13 (Juni 1908).

Bahkan filsuf Yunani yang hebat seperti Plato menulis dialognya yang terkenal, The Republic, hampir 2.400 tahun silam. Dia menegaskan bahwa musik memiliki pengaruh yang kuat pada kita. Sebab, ia menyusup ke dalam ”bagian terdalam jiwa” kita. Plato melangkah lebih jauh dengan mengklaim bahwa jika seseorang diajarkan musik dengan benar saat masih muda, ia akan memiliki penilaian yang lebih baik dalam bidang kehidupan lainnya. Jauh hari musik sudah dikaitkan dengan kebijaksanaan. Hal senada diakui oleh pemikir besar seperti Imam al-Ghazali bahwa musik sangat dalam memengaruhi suasana hati manusia karena bisa menyalakan ”cinta yang tertidur dalam hati” manusia.

Quote

Plato menegaskan bahwa musik memiliki pengaruh yang kuat karena menyusup ke dalam ’bagian terdalam jiwa’ kita, dan jika diajarkan dengan benar sejak muda, seseorang akan memiliki penilaian yang lebih baik dalam kehidupan.

Dalam tingkat tertentu, kekuatan musik kembali gamblang seperti saat polemik mengenai band punk rock Sukatani, grup musik anak muda asal Purbalingga, Jawa Tengah, baru-baru ini yang menghidupkan kembali kaitan antara musik dan perubahan sosial politik yang sedang berlangsung di negeri ini. Sebagai produk dari pergulatan aktor-aktor budaya, sejatinya musik memang tak terlepas dari persoalan kehidupan yang dirasakan oleh masyarakat tempat musik itu dilahirkan dan dimainkan. Musik sebagai ”suara” dari masyarakatnya.

Duo Sukatani tampil kembali di Gedung Korpri Slawi, Tegal, Jateng, Minggu (23/2/2025) sebagai bintang tamu di acara bertajuk Noise Crowd.

Popularitas Sukatani lewat lagu ”Bayar Bayar Bayar” yang viral di media sosial menggambarkan kekuatan musik ketika ia hendak dibatasi atau dibungkam. Ketika para mahasiswa pengunjuk rasa mulai menyanyikannya dalam alunan aksi ”Indonesia Gelap”, relevansi lagu tersebut mengungkapkan dirinya: kebebasan ekspresi berhadapan dengan arogansi kekuasaan.

Quote

Popularitas Sukatani lewat lagu ’Bayar Bayar Bayar’ yang viral di media sosial menggambarkan kekuatan musik ketika ia hendak dibatasi atau dibungkam, menjadi suara kebebasan ekspresi yang berhadapan dengan arogansi kekuasaan.

Fenomena Sukatani menggambarkan kreativitas dan sikap kritis yang tumbuh dari rasa kepeduliaan sosial tetap hidup di kalangan anak muda dalam berkesenian. Ia menjadi potret budaya perlawanan anak muda terhadap kesewenangan yang dilihat dan dirasakan di depan mata. Lirik-liriknya yang lugas dan apa adanya, mewakili bahasa generasi kini dalam mengekspresikan apa yang diyakininya sebagai cara mudah dan efektif untuk berperan dalam dunia ”orang tua” yang penuh penyelewengan, korupsi, upeti, dan manipulasi dalam berbagai lini. Kekuatan Sukatani menyentuh inti terdalam persoalan masyarakat kita: perilaku budaya koruptif yang sudah lama dikecam oleh orang seperti Bung Hatta atau Jenderal Hoegeng.

Jika dilihat dari sisi itu, fenomena Sukatani adalah sumbangan nyata anak muda untuk berkiprah di negeri yang dicintainya dengan cara-cara yang berbudaya. Lebih dari itu, dalam dunia hiburan, ia memperluas jangkauan sumbangan pengaruh musik dan seni dalam kehidupan berbangsa-bernegara.

Ketika sebagian musisi arus-utama lebih sibuk untuk urusan bisnis pertunjukan dan musik melulu menjadi produk industri budaya alias komoditas, Sukatani menghidupkan kembali kerinduan akan peran seni dan musik dalam perubahan sosial.

Bermusik dengan gaya punk yang tidak terlalu radikal dilengkapi penutup wajah, Sukatani menjadi suara paling aktual menyingkap wajah bangsa ini yang belum banyak berubah pada abad ke-21. Kritik yang juga sudah disuarakan selama lebih dari tiga dekade oleh musisi Iwan Fals lewat ”Surat Buat Wakil Rakyat (1987), ”Tikus Tikus Kantor” (1990), ”Bento” (1995); kemudian oleh Slank lewat ”Seperti Para Koruptor” (2008).

<p>Konser SWAMI di Salatiga.<br />Kelompok musik Swami, bersama Iwan Fals melakukan pertunjukan keliling. Musik mereka secara teknis kurang memadai, dan tanpa &#8220;bingkai&#8221;, tapi memberi alternatif baru.</p><p>Kompas/Hariadi Saptono (HRD) *** Local Caption *** Konser SWAMI di Salatiga.<br />Kelompok musik Swami, bersama Iwan Fals melakukan pertunjukan keliling. Musik mereka secara teknis kurang memadai, dan tanpa &#8220;bingkai&#8221;, tapi memberi alternatif baru.</p><p>Terkait foto dan berita dimuat Minggu, Kompas 22-04-1990, 6.<br />Judul Amplop: Musik</p>

Kekuatan musik sebagai media ekspresi budaya di era digital menambah keras suara perlawanan dan pembangkangan anak muda tersebut. Dengan cara masif, medan ekspresi musik protes mampu menjangkau pendengar lokal dan global, menyentuh penikmat musik, termasuk orang biasa yang kurang tertarik dengan genre musik tertentu juga bisa terikat oleh pesan yang disampaikannya. Dengan cara demikian, musik membangun partisipasi komunitas dan gerakan sosial yang lebih besar di era digital.

Dalam momen-momen yang tepat dengan persoalan yang dirasakan masyarakat, musik membantu membangun jaringan imajinatif, mengomunikasikan seruan perlawanan dan pembangkangan, dan mampu mengekspresikan ikatan kebersamaan dan kemanusiaan yang melampaui berbagai sekat yang sering membatasi rasa persaudaraan kita sebagai manusia.

Quote

Musisi tidak berjuang dengan bedil atau peluru, tetapi dengan kekuatan irama, melodi, dan lirik, menciptakan partisipasi komunitas dan gerakan sosial yang lebih besar di era digital.

Bukankah partisipasi lewat musik untuk perubahan sosial, perubahan ke arah dunia yang lebih baik adalah cita-cita kemanusiaan yang indah. Musisi tidak berjuang dengan bedil atau peluru, tetapi dengan kekuatan irama, melodi, dan lirik. Mungkin itulah sebabnya lahir lagu-lagu seperti ”Heal the World” atau ”We Are The World”. Dengan kerinduan akan perubahan itu, kita berharap akan lahir pula, misalnya, gema kekuatan diplomasi lewat musik di tingkat nasional dan global untuk menyuarakan perubahan nasib bagi anak-anak Palestina dan bagian-bagian dunia di mana kemanusiaan sedang terkoyak oleh kebrutalan perang.

Dengan demikian, ruang bermusik dan berkesenian memperluas rasa solidaritas dan mempertajam empati kita. Seperti suara lirih Ebiet G Ade, ”Dalam kekalutan, masih banyak tangan/Yang tega berbuat nista, ho-o, ho-o.”

Idi Subandy Ibrahim, Peneliti Budaya, Media, dan Komunikasi; Pengajar di Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Pasundan Bandung dan Pengajar Luar Biasa di Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Brawijaya Malang.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

IDI SUBANDY IBRAHIM
 | 

Editor:

Moh. Hilmi Faiq