Musim Longsor dan Banjir di Tengah Gejolak Cuaca

Longsor di Pekalongan yang menewaskan belasan orang merupakan rentetan dari banyaknya bencana yang dipicu tingginya intensitas hujan pada awal tahun ini.

22 Jan 2025 14:11 WIB · Humaniora

Oleh Ahmad Arif

Longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, pada Senin (20/1/2025) sore menewaskan 17 orang dan 9 orang hilang. Bencana ini merupakan rentetan bencana hidro-iklim yang terjadi di banyak daerah dan dikhawatirkan masih akan meluas seiring dengan transisi cepat kekeringan panjang selama fase El Nino dengan tingginya curah hujan karena La Nina.

Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, hingga Selasa (21/1/2025), total korban meninggal akibat longsor di Pekalongan yang dapat ditemukan menjadi 19 orang. Sementara itu, korban hilang 7 orang. Longsor juga menyebabkan dua rumah hancur, beberapa kendaraan terseret longsoran, dan dua jembatan rusak berat.

”Hingga kini, tim gabungan masih berupaya mencari dan mengevakuasi korban. Upaya itu terkendala cuaca dan kondisi jalan yang terputus. Hujan juga masih mengguyur,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari.

Selain longsor, Jawa Tengah juga mengalami bencana hidrometeorologi lain, yaitu banjir. Selain Pekalongan, beberapa kabupaten dan kota juga terdampak, seperti Kendal, Brebes, Grobogan, Pemalang, Demak, Sragen, Tegal, dan Kota Surakarta.

Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Wafid, gerakan tanah yang terjadi pada Senin, pukul 17.30, di Desa Kasimpar dipicu hujan deras dengan intensitas tinggi dan berdurasi lama. Bencana ini berupa longsoran yang berkembang menjadi aliran bahan rombakan atau banjir bandang.

Petugas gabungan dari berbagai instansi bersama sukarelawan dan warga mencari korban yang tertimbun tanah longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (21/1/2025). Ada 17 orang yang ditemukan meninggal dunia dalam kejadian itu. Pencarian terhadap sembilan orang yang masih dilaporkan hilang akan dilanjutkan pada Rabu (22/1/2025).

Menurut analisis Badan Geologi, beberapa faktor yang memicu longsor kali ini ialah bentukan morfologi berupa dataran kipas aluvial dengan kemiringan lereng atas yang curam, sifat tanah pelapukan vulkanik yang mudah luruh, dan sistem fluktuasi keairan yang tidak terkontrol. Selain itu, ditemukan perubahan penggunaan lahan dan vegetasi pada lereng serta ar hujan yang meresap ke dalam tanah dapat memicu aliran tingkat jenuh air.

”Secara keseluruhan, interaksi antara curah hujan yang tinggi, morfologi, dan sifat litologi yang mudah larut dan tererosi menciptakan kondisi ideal untuk terjadinya debris flow (banjir bandang),” katanya.

Desa Kasimpar berada di perbukitan berketinggian 1.115-1120 meter dari permukaan laut (mdpl) dengan kemiringan lereng curam. Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2025 di Kabupaten Pekalongan yang disusun Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), lokasi bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah tinggi.

Ini berarti, wilayah ini telah dipetakan berpotensi tinggi terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2025 di Kabupaten Pekalongan yang disusun Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), lokasi bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah tinggi.

Peringatan dini

Direktur Meteorologi Publik Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani mengatakan, sebelum kejadian longsor di Kasimpar, BMKG telah menyampaikan peringatan dini melalui grup Whatsapp, Telegram, serta media sosial dan laman resmi, yang ditujukan kepada pihak terkait, seperti BPBD, Basarnas, dan masyarakat. Informasi ini mencakup potensi hujan lebat yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, termasuk longsor.

Analisis meteorologi setelah kejadian menunjukkan bahwa curah hujan lebat yang berlangsung selama beberapa jam menjadi pemicu utama longsor. Data curah hujan dari stasiun terdekat lokasi kejadian menunjukkan intensitas 69,2 milimeter (mm) di Kandang Serang, 29,8 mm di Kajen, dan 22,2 mm di Wiradesa. Sementara itu, berdasarkan citra radar cuaca di Semarang, nilai reflektivitas 35–50 dBZ yang berarti kategori intensitas hujan lebat dengan durasi panjang terpantau mulai pukul 14.30 hingga 22.00 WIB.

Quote

Dalam sepekan ke depan, sejumlah wilayah Jawa, termasuk di Kabupaten Pekalongan, diperkirakan masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat.

Andri menambahkan, citra satelit Himawari mengonfirmasi keberadaan awan kumulonimbus dengan suhu puncak mencapai -100 derajat celsius. ”Curah hujan yang tinggi ini dipicu oleh kombinasi siklon tropis Sean di barat Australia yang menyebabkan belokan angin dan konvergensi di Jawa Tengah, aktivitas gelombang Rossby, serta kelembapan udara tinggi yang berkisar 80-100 persen di berbagai lapisan atmosfer,” kata Andri.

Intensitas hujan di Jawa Tengah pada tanggal 29 Januari 2025, saat terjadinya longsor di Pekalongan.

Transisi kering ke basah

Koordinator Gerakan Tanah PVMB Badan Geologi Oktori Prambada mengatakan, selain faktor-faktor lokal yang memicu terjadinya bencana longsor di Pekalongan, secara nasional saat ini Indonesia tengah memasuki fase kerentanan tinggi bencana gerakan tanah. Bencana gerakan tanah bisa dipengaruhi oleh faktor batuan atau geologi, morfologi kelerengan, hingga tutupan vegetasi. Sementara pemicunya terutama cuaca, selain bisa juga oleh gempa bumi.

Dari aspek cuaca, menurut Oktori, saat ini sebagian wilayah Indonesia menjadi lebih rentan karena mengalami perubahan fase sebelumnya El Nino yang menyebabkan kekeringan dan banyak retakan tanah, dan kini La Nina yang menyebabkan tingginya intensitas hujan.

”Tahun lalu kemarau panjang, di daerah yang batuan penyusunnya vulkanik dan tanah tidak padu banyak muncul retakan. Ketika tiba-tiba memasuki La Nina dan banyak hujan, retakan itu terisi air. Itu menyebabkan beberapa waktu terakhir banyak kejadian longsor bersamaan, seperti di Sumatera Utara dan Jawa Barat,” katanya.

Warga dengan latar banjir yang menggenangi area persawahan di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (21/1/2025). Intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari ini menyebabkan bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Jawa Tengah antara lain Grobogan, Kendal, dan Pekalongan. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 21-01-2025

Transisi ekstrem ini dalam klimatologi kerap disebut sebagai gejolak hidro-iklim atau hydroclimate whiplash. Kebakaran hebat di California Selatan, Amerika Serikat, pada Januari ini antara lain juga dipicu oleh siklus ekstrem basah ke kering atau sebaliknya, yang terjadi beriringan. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari krisis iklim yang semakin intens.

Sebelumnya, BMKG juga telah memperingatkan, fenomena La Nina mengakibatkan penambahan curah hujan di Indonesia hingga 20 persen pada awal 2025. Hal itu telah disampaikan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan pers pada Rabu (6/11/2024).

Geoportal Data Bencana Indonesia-BNPB menunjukkan, selain longsor di Pekalongan, selama dua minggu pertama Januari 2025 telah terjadi delapan bencana longsor di Indonesia yang menyebabkan tujuh korban jiwa. Longsor yang menelan korban jiwa itu terjadi di Kota Batam pada 13 Januari dengan tiga korban jiwa, Bener Meriah pada 9 Januari dengan 2 korban jiwa, dan di Purworejo pada 1 Januari dengan 2 korban jiwa.

Dalam periode yang sama, banjir telah terjadi 82 kali di beberapa daerah Indonesia. Sebagian besar bencana banjir ini menyebabkan kerugian material. Namun, dua kejadian banjir menelan korban jiwa, yaitu banjir di Morowali, Sulawesi Tenggara, pada 3 Januari dan Bima pada 1 Januari, masing-masing menewaskan 1 orang.

Sekalipun frekuensi banjir jauh lebih tinggi, bencana longsor cenderung lebih mematikan. Menurut Oktori, risiko longsor ini diperkirakan masih akan tinggi hingga enam bulan ke depan, terutama di daerah-daerah Indonesia bagian barat yang memasuki musim hujan. ”Jawa Tengah dan Sumatera paling berisiko, selain karena curah hujannya tinggi, juga batuan utamanya vulkanik,” katanya.

Andri mengatakan, dalam sepekan ke depan, sejumlah wilayah Jawa, termasuk di Kabupaten Pekalongan, diperkirakan masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat. Fenomena Monsun Asia, La Nina lemah, serta pola angin konvergensi diprediksi akan tetap memengaruhi dinamika atmosfer, mendukung pembentukan hujan dengan intensitas tinggi.

Potensi hujan tinggi ini menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap risiko bencana, terutama di wilayah dengan topografi curam yang rawan banjir bandang dan longsor yang bisa mematikan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji