Carlos Yulo menarik penonton dan pesenam elite lain. Saat bersamaan, Kejuaraan Dunia di Jakarta sukses menarik peraih emas Olimpiade Paris 2025 tersebut.
20 Okt 2025 19:49 WIB · Olahraga
Pencahayaan Stadion Indonesia Arena, Jakarta, begitu terang dan merata. Namun, dari tribune penonton, cahaya seolah hanya menyorot ke satu sisi lapangan. Sisi itu menyesuaikan posisi pesenam artistik putra Filipina, Carlos Yulo, yang selalu menarik gravitasi bagai matahari di tata surya. Ke mana Yulo bergerak, penonton mengikuti.
Begitulah pemandangan di dalam Stadion Indonesia Arena saat hari pertama Kejuaraan Dunia Senam Artistik, Minggu (19/10/2025). Walaupun Yulo tampil di subdivisi terakhir hari itu, setelah lewat pukul 20.00, ratusan penonton masih setia menanti. Mereka ingin menyasikan kehebatan peraih dua emas Olimpiade Paris 2024 tersebut.
Tidak seperti dulu, saat ini saya sangat memilih kompetisi untuk (menjaga) fisik dan mental saya.
Penantian terbayar lunas. Yulo tampil cemerlang di babak kualifikasi. Dia menyudahi rangkaian di nomor meja lompat dengan catatan skor tertinggi, 14,750. Seusai gerakan akrobatik itu, para penonton bersorak. Yulo membalas dengan lambaian tangan ke tribune. Lima pesenam lain yang sedang tampil di alat lain seolah jadi figuran.
Kedatangan Yulo merupakan berkah bagi tuan rumah. Dia menjadi magnet terbesar di Kejuaraan Dunia kali ini. Menariknya, atlet 25 tahun itu datang dengan kondisi tidak terlalu bugar, sedang cedera pergelangan tangan. Dia tetap ingin tampil walau ajang kali ini tidak masuk perhitungan untuk kualifikasi Olimpiade Los Angeles 2028.
Yulo lebih banyak berlatih dan mempersiapkan diri seusai Olimpiade Paris. Dia menunggu momen tepat untuk kembali berkompetisi. Kejuaraan Dunia, ajang terbesar setelah Olimpiade, dinilai paling pas. ”Tidak seperti dulu, saat ini saya sangat memilih kompetisi untuk (menjaga) fisik dan mental saya,” katanya.
Kebetulan, ajang tahunan itu digelar untuk pertama kali di Asia Tenggara. Sebagai duta Asia Tenggara, Yulo merasa punya keterikatan lebih. Dia ingin ikut membuktikan, negara-negara di kawasan tersebut mampu menyukseskan ajang sebesar Kejuaraan Dunia. Jika Indonesia sukses, Filipina akan tertular pengaruh positif.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/aee24715bc4cf0a6993e922417de0001-1000039958.jpg)
Jejak Yulo diikuti para pesenam elite putra lain. Peraih emas dalam enam dari delapan nomor Olimpiade Paris datang ke Jakarta. Selain Yulo, ada juga Shinnosuke Oka (Jepang) dan Zou Jingyuan (China). Situasi terbalik terjadi di sektor putri, hanya satu peraih emas di Paris yang datang, yaitu Kaylia Nemour (Aljazair).
Alhasil, pertarungan sengit dan aksi-aksi terbaik pun tersaji di sektor putra sejak babak kualifikasi. Pada Senin siang, giliran Zou yang menggemparkan seisi Indonesia Arena dengan aksi di nomor favoritnya, yaitu palang sejajar. Zou lolos ke final dengan nilai tertinggi di kualifikasi 15,466, mengudeta posisi Oka (14,533).
Zou, sama seperti Yulo, sempat melalui masa penyesuaian setelah Olimpiade. Kejuaraan Dunia dijadikan tempat untuk memulai lagi perjalanan ke Olimpiade berikutnya. Dia ingin mengukur kemampuan setelah absen berkompetisi lebih dari setahun. Pengukuran akan sangat sempurna karena para rivalnya turut hadir.
Saat bersamaan, Zou juga datang dengan motivasi lebih. Pesenam 27 tahun itu pernah tampil di Jakarta untuk Asian Games 2018. Namun, dia tidak sempat menikmati kota karena jadwal yang sangat padat. ”Rasanya kali ini berbeda. Saya ingin merasakan kesadaran budaya yang lebih besar soal kota, jalanan, dan lalu lintas,” tuturnya.
Simbiosis mutualisme pun terjalin erat di Indonesia Arena. Para pesenam elite membutuhkan panggung untuk mengukur diri dan memulai lagi program ke Olimpiade selanjutnya. Sementara itu, Kejuaraan Dunia juga membutuhkan sosok bintang untuk menarik magnet para penonton.
Di balik kedua sisi itu, para pesenam Indonesia tidak mau ketinggalan. Mereka tidak hanya bisa mendapatkan kesempatan debut di Kejuaraan Dunia, tetapi juga bisa belajar langsung dengan mengamati kebiasaan para pesenam terbaik di bumi. Tri Wira Yudha, salah satunya, yang menjadikan ajang sebagai kesempatan menimba ilmu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/f3dfe8d1aa8a5b7e25555801b7827241-FAK_1221.jpg)
Tri mengidolakan Oka dan Felix Dolci (Kanada). Dia pun terus membuka mata ketika bertemu di sesi latihan. ”Aku mandang mereka kayak bagus. Jadi, aku melihat teknik mereka dan coba belajar warming-up mereka bagaimana. Itu semua menjadi pelajaran baru buat aku,” ujar Tri yang berada di peringkat ke-49 dalam nomor meja lompat.
Kompetisi sudah ramai di kualifikasi, tetapi masih jauh dari klimaks. Pertarungan sebenarnya dari para pesenam elite baru akan tersaji di final. Dari nomor lantai, misalnya. Yulo ditantang oleh pesenam Inggris, Jake Jarman, yang merupakan peraih perunggu Olimpiade Paris. Jarman (14,700) mengungguli Yulo (14,566) di kualifikasi.
Artur Davtyan, pesenam Armenia, turut membawa misi balas dendam setelah kehilangan emas di Paris akibat Yulo. Davtyan yang meraih perak Olimpiade Paris di meja lompat, kembali menantang Yulo dalam final nanti. Adapun Davtyan (14,566), di peringkat kedua, hanya tertinggal tipis dari Yulo (14,750) di kualifikasi.
Musim semi Yulo dan para pesenam elite putra mulai tersaji. Sayangnya, perwakilan tuan rumah belum bisa ikut serta dalam keseruan persaingan tersebut. Indonesia tidak berhasil mengirimkan wakil ke final. Empat pesenam yang turun gagal masuk ke 24 besar keseluruhan individu dan delapan besar nomor alat.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Retma Wati