Mutiara Berkilau, Tim Putri Indonesia Kembali ke Final SEA Games

Untuk empat kali beruntun, tim beregu putri Indonesia lolos ke final SEA Games. Di Thailand, giliran Mutiara Ayu Puspitasari yang mencuri panggung dan jadi pahlawan.

08 Des 2025 19:07 WIB · Olahraga

KOMPAS

Oleh Kelvin Hianusa dan Rebiyyah Salasah dari Bangkok, Thailand

BANGKOK, KOMPAS — Dalam kondisi gelap, cahaya kecil bisa terlihat seterang matahari. Perumpamaan itu cocok menggambarkan kisah pebulu tangkis Indonesia, Mutiara Ayu Puspitasari, di semifinal beregu putri SEA Games Thailand 2025. Remaja 19 tahun itu membangkitkan asa juara Indonesia setelah seniornya gagal berkontribusi maksimal.

Mutiara, tunggal ketiga, menjadi sosok penentu lewat kemenangan dramatis atas wakil Malaysia, Siti Zulaikha, 21-18, 21-16, di Stadion Gymnasium 4 Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Thailand, Senin (8/12/2025). Indonesia pun menyudahi perlawanan sengit Malaysia, 3-2, dan lolos ke final untuk menantang Thailand.

Seusai menyegel poin terakhir, Mutiara melipat tangannya dengan dagu yang sedikit terangkat. Dia berselebrasi dengan menghadap ke lapangan lawan. Sang remaja memperlihatkan sikap percaya diri sangat tinggi sekaligus sedikit tengil. Sikap itulah yang ditampilkannya nyaris sepanjang dua gim dan sukses membuat frustrasi Siti.

”Saya karakter yang tidak terlalu banyak mikir. Dengan ditambah lawan saya seumuran, itu gengsinya besar banget, sih. Apalagi kayak penentuan, kan. Saya juga berpikir karena seumuran (dengan Siti), mungkin kami selamanya akan bareng terus sampai senior. Jadi, akan lebih baik kalau sudah unggul jauh head-to-head dari yunior,” kata Mutiara.

Mutiara tampak tidak terbebani walaupun harus memainkan laga penentu. Padahal, itu merupakan laga pertamanya di Thailand. Dia mengambil poin yang seharusnya dicuri tunggal kedua, Gregoria Mariska Tunjung. Adapun Gregoria tampil kurang energik dan kalah dari tunggal peringkat ke-44 dunia, Wong Ling Ching, 20-22, 21-15, 16-21.

Tunggal ketiga Indonesia Mutiara Ayu Puspitasari (kanan) memperlihatkan ekspresi 'dingin' setelah mencuri poin dari wakil Malaysia Siti Zulaikha 21-18, 21-16 dalam laga semifinal beregu putri SEA Games Thailand 2025 di Stadion Gymnasium 4 Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Thailand, Senin (8/12/2025).
Quote

Dari awal dipilih tunggal ketiga, ada rasa ingin menunjukkan bahwa saya layak diberi amanah.

Mutiara sudah memasuki mode ”perang” sejak masuk lapangan. Selain merayakan setiap poin dengan sangat ekspresif, dia juga tidak pernah meladeni permintaan lawan untuk mengganti bola. Siti tampak kesal karena ditolak tiga kali, sampai mengadu kepada wasit. Bukan dibela wasit, Siti justru diberikan kartu kuning karena protes berlebihan.

Mentalitas petarung Mutiara terlihat semakin bersinar di momen-momen kritis. Di gim pertama, saat skor imbang 18-18, dia tiba-tiba menemukan ritme terbaik. Mutiara menutup gim dengan raihan tiga poin beruntun. Padahal, sebelum itu, dia sering memberikan poin gratis kepada lawan dengan pukulan yang melebar. 

Di gim kedua, pemain peringkat ke-76 dunia itu kehilangan momentum. Mutiara tertinggal 7-11 saat jeda. Setelah kembali ke lapangan, dia mampu menyeimbangkan skor jadi 13-13 dan langsung berbalik unggul 18-14. ”Dari awal dipilih tunggal ketiga, ada rasa ingin menunjukkan bahwa saya layak diberi amanah,” ujar Mutiara.

Pelatih tunggal putri Indonesia, Imam Tohari, berkata, tanda tanya membayangi nomor tunggal ketiga. Posisi itu semestinya ditempati Ester Nurumi Tri Wardoyo, tetapi dia sedang didera cedera. Di bawah Ester, belum ada nama yang sudah teruji untuk ditempatkan di laga penentu beregu, termasuk Mutiara.

Ganda pertama Indonesia Rachel Allessya Rose (kiri)/Febi Setianingrum (kanan) berupaya mengembalikan bola dari pasangan Malaysia Pearly Tan/Thinaah Muralitharan dalam laga semifinal beregu putri SEA Games Thailand 2025 di Stadion Gymnasium 4 Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Thailand, Senin (8/12/2025). Rachel/Febi kalah 14-21, 21-17, 16-21.

Namun, itulah gunanya SEA Games. Pemain muda seperti Mutiara bisa diuji dan mendapat jam terbang. Kans itu akan memperlihatkan potensi sesungguhnya sang atlet. ”Ajang seperti ini bisa memberikan jam terbang untuk atlet. Kalau tidak disiapin dari sekarang, mau kapan lagi? Sekarang yang muda-muda harus tampil,” kata Imam. 

Imam sangat senang dengan sikap Mutiara yang sigap memanfaatkan kesempatan. Sebaliknya, sang pelatih kurang puas dengan aksi Gregoria. ”Grego saya lihat dari hatinya, dia mau all-out nggak di sini? Saya lihat kayak setengah-setengah. Jadi, ada kesempatan menang, tetapi dia membuat kesalahan berkali-kali,” ucapnya.

Adapun Gregoria semula tidak direncanakan tampil di SEA Games tahun ini. Namun, dengan target besar yang dibebankan terhadap bulu tangkis, PP PBSI terpaksa menggantikan atlet 18 tahun, Thalita Ramadhani Wiryawan, dengan peraih perunggu Olimpiade Paris 2024 tersebut. Di semifinal tadi, keputusan itu terasa kurang tepat.

Tak hanya Imam, pelatih tunggal putri Malaysia, Iskandar Zulkarnain Zainuddin, juga memuji kesiapan Mutiara. Menurut dia, atlet kebanggaan Indonesia itu sudah seharusnya berada di panggung-panggung lebih besar. ”Buat saya, level dia sudah di turnamen Super 300. Dari sisi teknis, permainannya sangat baik,” kata Iskandar. 

Selain Mutiara, hasil maksimal pun dipersembahkan tunggal pertama, Putri Kusuma Wardani, dan ganda kedua, Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari. Putri mampu mengatasi perasaan grogi yang muncul di perempat final, lalu menang mudah atas Karupathevan Letshanaa, 21-9, 21-10. Febriana/Meilysa juga menang atas Go Pei Kee/Toh Ee Wei, 21-10, 21-9.

Ganda pertama Indonesia, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, kalah dari Pearly Tan/Thinaah Muralitharan, 14-21, 21-17, 16-21. Meskipun begitu, penampilan Rachel/Febi tidak mengecewakan. Mereka mampu menyulitkan ganda peringkat kedua dunia itu hingga gim ketiga. Sayangnya, mereka kehabisan ”bensin”.

Ganda Malaysia Pearly Tan (kanan)/Thinaah Muralitharan (kiri) saat berhadapan dengan pasangan Indonesia Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum dalam laga semifinal beregu putri SEA Games Thailand 2025 di Stadion Gymnasium 4 Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Thailand, Senin (8/12/2025).

Sementara itu, tim putra Indonesia juga melaju ke partai puncak seusai menang 3-1 atas Singapura. Dua poin disumbangkan para debutan, termasuk tunggal putra kedua, Mohammad Zaki Ubaidillah. Finalis Kejuaraan Dunia Yunior 2025 itu menaklukkan Jia Heng Jason Teh dengan skor meyakinkan, 21-2, 21-13. Mereka akan menantang Malaysia.

Sampaikan dukungan Anda untuk atlet Indonesia

Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa dan Rebiyyah Salasah dari Bangkok, Thailand
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti