”Nail Art” Kaki Lima, Melawan Masa Sulit dari Trotoar

Apa daya kota melawan hilangnya 92 juta pekerjaan, tekanan ekonomi, dampak tarif Trump? Menjaga nyala usaha kreatif, seperti ”nail art” di trotoar, salah satunya.

05 Apr 2025 13:01 WIB · Opini

Oleh Neli Triana

Neli Triana (NEL)

Menjelajahi Kota Solo di waktu malam, tak lengkap tanpa menelusuri trotoar di Jalan Gatot Subroto. Dua sisi jalur pejalan kaki di sana dikelola dengan baik. Pejalan kaki bisa mampir di toko-toko, berfoto dengan latar mural karya seniman jalanan. Bisa juga mempercantik jemari tangan dengan nail art kaki lima. Mau konsultasi soal hak atas kekayaan intelektual pun bisa.

Koridor Gatot Subroto tepat berseberangan dengan kawasan Triwindu dan bagian dari poros menuju area Pura Mangkunegaran. Area tersebut sejak lama dikenal sebagai pusat bisnis dengan deretan pertokoan di antara pasar, mal, dan keraton. Permukiman dengan akses berupa gang-gang sempit berada di belakang pertokoan.

Dua-tiga tahun terakhir, sepanjang koridor yang menghubungkan Jalan Slamet Riyadi dan kawasan Singosaren dibenahi. Diinisiasi oleh komunitas warga dan didukung pemerintah, penataan di koridor tersebut menghadirkan area dengan wajah baru yang diharapkan dapat hidup dan menghidupi warga di kota yang bernama resmi Surakarta tersebut.

Trotoar dibangun dan diatur sehingga pejalan kaki tetap leluasa melintas. Deretan lapak usaha kaki lima disediakan di sisi kanan atau kiri trotoar. Lapak kaki lima tidak mengganggu akses masuk ke pertokoan di sana. Tembok maupun pintu-pintu besi toko dibebaskan menjadi kanvas para seniman mural.

Saat matahari terbenam, aktivitas pegawai-pegawai menutup pintu tokonya usai seharian melayani pelanggan menandai munculnya mural dari dalam gulungan rolling door atau lipatan folding door. Laksana aba-aba, pelapak kaki lima giliran bersiap menjaring rejeki sembari mengarungi malam.

Ada lapak penjual jepit rambut, pernak-pernik kerajinan tangan berupa gantungan kunci sampai dompet rajut. Bermodal meja kecil, kursi atau bangku dengan sejumlah peralatan, beberapa jasa nail art atau seni menghias kuku jemari tangan, mulai melayani pelanggan. Di lapak berbeda, ada anjing-anjing kecil lucu duduk tenang mendampingi si empunya yang tengah berjualan asesoris untuk hewan peliharaan.

Uniknya, ada yang buka jasa konsultasi, termasuk tentang hak atas kekayaan intelektual. Si pemilik usaha tampil santai tetapi percaya diri di antara deretan lapak jasa tato dan usaha kaki lima lainnya. Tempat makan dan minum, termasuk angkringan solo yang murah meriah, juga pertunjukan musik hidup jalanan biasa ditemukan pula di sini.

Area permukiman di koridor ini tak ketinggalan turut disentuh penataan yang diharapkan membuat warga lebih nyaman dengan akses untuk membuka usaha lebih besar. Koridor Gatsu ini semakin ramai dan penuh kegiatan spesial di akhir pekan serta selama liburan. Warga kampung setempat, sesama warga Solo lainnya, maupun wisatawan sama-sama bisa menikmati koridor Gatsu karena kawasan ini dibenahi tak semata demi kepentingan turis.

Cita-cita Jane Jacobs

Menelusuri koridor Gatsu Solo bagaikan mengalami langsung cita-cita Jane Jacobs yang menjadi kenyataan.

Wartawan, penulis buku, dan aktivis perempuan yang memperjuangkan kota layak untuk warganya itu, di antaranya dikenal publik lewat bukunya The Death and Life of Great American Cities. Salah satu gagasan Jacobs yang tetap menjadi rujukan sampai saat ini adalah bagaimana agar komunitas warga kota hidup aman dan nyaman berkat penataan permukiman, tempat usaha, jalanan dan trotoar yang tepat.

Jacobs meyakini kawasan dengan fungsi campuran adalah yang terbaik bagi komunitas urban. Kawasan bisnis sewajarnya dekat atau bagian tak terpisahkan dari permukiman. Berbagai kebutuhan warga juga untuk bersantai atau berwisata ringan terpenuhi tanpa harus mengeluarkan biaya berlebihan.

Peluang warga membuka usaha kecil-kecilan di lingkungan komunitas demi menjaga kesejahteraan pun terbuka. Ibaratnya, usaha yang mungkin tidak mendatangkan banyak cuan, tetapi mengalirkan rejeki walau setetes demi setetes dan menjaga nyala hidup warga.

Salah satu jasa "nail art" di Koridor Gatot Subroto, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (27/3/2025).

Deretan tempat usaha sewajarnya terbuka menghadap ke trotoar yang memungkinkan interaksi langsung dengan warga atau pejalan kaki. Kawasan menjadi terbuka bagi siapa saja, asalkan mau meninggalkan kendaraan bermotornya di lahan parkir dan berjalan kaki berkeliling atau naik angkutan umum. Berangkat dari sini, wisata urban yang sarat dengan nilai lokalitas amat mungkin dikembangkan dengan pasar warga setempat maupun dari luar.

Interaksi komunitas urban dalam lingkungan campuran ini sekaligus membentuk jaring pengawasan secara bersama-sama. Aktivitas di deretan tempat usaha yang memagari kawasan permukiman berfungsi pula sebagai mata, semacam ”CCTV hidup”, yang selalu mengawasi sekitarnya. Ada jarak yang lebar antara pejalan kaki dengan akses jalan yang dilalui kendaraan bermotor. Kejahatan bisa ditekan jika situasi tersebut terjaga. Anak-anak yang lalu lalang di sana pun terlindungi.

Gagasan Jacobs yang mengemuka sejak tahun 1960an untuk menghidupkan komunitas urban dengan pembangunan kawasan yang pro masyarakat umum itu, sayangnya tidak selaras dengan pengembang. Pengembang sejak dulu sampai sekarang selalu melihat kawasan di pusat kota sebagai lahan premium yang selayaknya dimanfaatkan pusat pembangunan kawasan elit nan mahal. Tentu saja atas nama potensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Kota yang diserahkan kepada pengembang lumrah menjadi terkotak-kotak, menjelma menjadi kawasan bisnis mahal, kluster hunian eksklusif yang dijaga ketat oleh teknologi maju dan petugas khusus. Sisa area yang tak ditangani pengembang dibiarkan menjadi kumuh tak tersentuh pembenahan dan dicap sumber segala bentuk penyakit masyarakat. Ketimpangan si kaya dan si miskin menganga lebar.

Ancaman krisis

Kota yang terkotak-kotak dengan ketimpangan lebar makin menihilkan terjalinnya relasi erat antarwarga. Kondisi demikian membuat daya lenting urbanites rentan, gampang terdampak berbagai tekanan.

Padahal, di masa kini dan masa yang akan datang, ketika dunia makin mengkota karena pesatnya pertumbuhan perkotaan di seluruh penjuru bumi, ketangguhan komunitas urban untuk tetap berdaya semakin diperlukan. Hal ini tak lain karena berbagai hantaman bertubi menyerang dan kota-kota tempat hidup utama manusia yang akan merasakan dampak langsungnya.

Pada 2025 ini saja, sejak awal tahun sampai sekarang, persoalan demi persoalan menghadang. Januari lalu, “Future Jobs Report” dari World Economic Forum melaporkan bahwa karena kemajuan teknologi hingga transisi hijau, terjadi transformasi ketenagakerjaan dalam lima tahun ke depan. Disebutkan 92 juta lapangan pekerjaan akan menghilang, meskipun secara umum masih terbuka 78 juta lapangan kerja secara global.

Di Indonesia, dalam beberapa bulan ini, gelombang pemutusan hubungan kerja terus terjadi. Ekonomi dalam negeri terimpit akibat imbas kondisi dunia maupun situasi lokal. Efisiensi anggaran di tingkat pemerintah pusat dan daerah membuat banyak usaha masyarakat, baik skala besar maupun mikro, terdampak.

Ekonomi sulit ini bahkan membuat orang mengurungkan niatnya mudik lebaran. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan, sekitar 20 juta orang tidak mudik tahun ini atau setara penurunan jumlah pemudik hingga 24,4 persen dibandingan tahun 2024.

PKL di Koridor Gatos Subroto Kota Surakarta

Kini, warga makin terdesak oleh keputusan terbaru Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif bea masuk bagi produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat hingga 32 persen. Hal ini membuat biaya sejumlah komoditas yang diekspor ke AS melonjak tinggi, menjadi tidak kompetitif di pasaran domestik AS. Ada potensi besar perlambatan ekonomi di negara eksportir, karena berkurangnya permintaan barang dari AS, bahkan meningkatkan risiko PHK di sejumlah industri.

Bila ini terjadi, korban PHK akan susah kembali ke kampung halaman untuk mencari rejeki. Selama ini, kota-kotalah yang masih menyediakan lapangan kerja lebih banyak dibandingkan kawasan perdesaan, walaupun itu sektor informal dan berupah cekak.

Untuk itu, jika kota mampu kreatif menjaga usaha-usaha kreatif mikro dan kecil tumbuh di komunitas-komunitasnya, setidaknya dapat mempertebal jaring pengaman bagi warganya di tengah krisis. Pembangunan berwawasan menyejahterakan orang dan komunitas, walaupun tidak selalu mendatangkan pajak besar atau menggaet jutaan turis, menjanjikan manfaat berkelanjutan dalam jangka pendek maupun panjang yang justru sangat dibutuhkan publik.

Kota, sejatinya adalah tentang interaksi manusia-manusia nyata sebagai penghuni dan pembentuknya, bukan kumpulan bangunan fisik yang terkotak-kotak dan tak berjiwa.


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Gesit Ariyanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari