Bukber Irit dan ”Velocity”, Mekanisme Koping di Kota yang Tak Setara

Buka bersama tanpa harus menguras kantong kini menjadi pilihan umum. Ini bagian dari bertahan hidup sekaligus tetap bergembira di tengah kota yang selalu tak setara.

15 Mar 2025 08:15 WIB · Opini

Oleh Neli Triana

Neli Triana (NEL)

Coba perhatikan grup-grup percakapan di telepon pintar, benarkah ajakan buka bersama tak seramai tahun sebelumnya? Walaupun masih tetap ada, banyak buka bersama atau bukber kali ini mengalami penurunan ”kualitas”.

Dari sebelumnya bukber digelar di hotel berbintang menjadi di restoran kelas menengah di mal atau berganti memesan paket makanan berbanderol ”miring”. Sebagian lainnya nyaman meneruskan kebiasaan bukber dengan potluck atau membawa makanan sendiri-sendiri.

Di media sosial, seperti Tiktok, ada tren bukber 2025 yang tak hanya menyangkut konten mode pakaian selama Ramadhan dan orang berjoget ataupun merekam dengan efek velocity yang tengah viral.

Unggahan yang turut mendapat sambutan hangat para pencandu Tiktok atapun media sosial lain, antara lain resep masakan berbiaya rendah. Dengan modal Rp 15.000 saja, misalnya, dapat mengolah tempe atau tahu dan sayur yang tetap lezat hasilnya. Paket pemesanan makanan senilai Rp 20.000 dijamin kenyang pun ada.

Bukber irit itu kemudian dikaitkan dengan kondisi ekonomi kita. Seperti kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, walaupun disebut masih lebih baik dibandingkan kondisi umum secara global, situasi di negeri ini memang tidak sedang baik-baik saja.

Di akar rumput, masyarakat dihadapkan pada upah atau gaji stagnan dan pemutusan hubungan kerja yang menghantui. Di jalanan, pasar, dan trotoar tempat pedagang kaki lima menggelar dagangan tetap padat. Akan tetapi, para pedagang kecil itu menyatakan transaksi tak lantas melonjak tinggi.

Daya beli warga turun, demikian kata para ahli.

Saat tunjangan hari raya mulai cair di tengah bulan sampai menjelang Lebaran nanti, warga disebut akan tetap mengencangkan ikat pinggang. Ada kebutuhan harian yang harus selalu dipenuhi. Ada kebutuhan mudik yang dalam waktu dekat bakal dijalani. Kebutuhan mendesak lain ikut mengantre, seperti biaya sekolah di tahun ajaran baru di medio tarikh ini.

Potongan harga hingga 50 persen ditawarkan toko ritel di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Barat, Sabtu (8/2/2025). Kinerja industri usaha ritel dan pusat perbelanjaan pada awal tahun 2025 ini masih dipengaruhi oleh daya beli masyarakat kelas menengah bawah dan pengetatan pengeluaran yang dilakukan pemerintah

Di tengah situasi yang menekan itu, masyarakat masih dihadapkan pada sikap, perilaku, maupun kebijakan kacau para pamong di pemerintahan. Ada kasus korupsi ratusan triliun di badan usaha milik negara, kebijakan kontroversial dan kontraproduktif yang berulang, belum lagi kasus-kasus penegak hukum yang malah melanggar hukum.

Stres, marah, tak berdaya. Jengkel rasanya. Sebagian warga cukup beruntung masih dapat menumpahkan keresahan di media sosial. Selebihnya, banyak berharap hal-hal buruk tak terus terjadi, walau yang terjadi malah sebaliknya.

Namun, publik juga tak mau larut dalam ketidakjelasan dan tekanan. Apa pun kondisinya, warga selalu menemukan caranya sendiri untuk tetap dapat melupakan stres dan mencecap kesenangan. Sudah ada mekanisme koping yang dimiliki tiap individu warga.

Di bulan Ramadhan ini, misalnya, bukber tetap digelar sebagai ajang bertemu teman lama dan handai taulan tanpa harus menguras kantong. ”War takjil”, tradisi berburu makanan untuk berbuka tetap berlangsung walau sasarannya lagi-lagi gorengan, kolak, dan es campur kemasan yang murah meriah.

Tak lupa, warga ikut menunggangi arus membuat konten bukber dan berburu takjil dengan efek velocity. Rekaman video dengan gaya transisi berefek memperlambat kecepatan itu tengah digandrungi dan membuat setiap unggahannya ditonton ribuan sampai jutaan orang.

Dalam kesehariannya, momentum untuk menemukan kesenangan entah bagaimana selalu ada, berulang, atau muncul yang baru. Kesenangan-kesenangan itu, walau mungkin kecil dan sesaat saja, bergulir terjadi menyumbang energi untuk menyambung hidup warga yang berat.

Warga sebagai infrastruktur kota

Sosiolog Abdoumaliq Simone menyebut, keliatan bertahan hidup menghadapi krisis adalah ketangguhan yang biasa ditemukan dalam diri warga kota. Daya tahan dan daya lenting tinggi itu terutama dimiliki oleh kelas menengah ke bawah.

Profesor di Urban Institute, University of Sheffield, Inggris, tersebut lewat publikasi ilmiah pada 2004 mencetuskan gagasan manusia sebagai infrastruktur kota yang menekankan kolaborasi ekonomi di antara penduduk yang tampaknya terpinggirkan dan tertindas oleh kehidupan perkotaan.

Infrastruktur selama ini identik dengan istilah fisik sebagai sistem jaringan jalan raya dan utilitas. Kota kemudian mereproduksinya dan menempatkan penduduk, wilayah, dan sumber dayanya menjadi penyokong kawasan itu sendiri.

Seorang warga yang mengangkat tinggi belanjaan makanannya untuk menembus kepadatan warga lain di Pasar Takjil di Bendungan Hilir, Jakarta, Minggu (2/3/2025).
Kesibukan pedagang makanan musiman Pasar Takjil di Bendungan Hilir, Jakarta, melayani pembeli, Minggu (2/3/2025).

Tanpa disengaja, energi setiap individu dapat maksimal dan efisien digunakan oleh dan untuk mereka sendiri ataupun kotanya agar sama-sama bertahan hidup. Kegiatan informal, seperti pembuatan makanan, sandang, ataupun papan murah, oleh warga sendiri menjadi salah satu cirinya. Kawasan permukiman kumuh dan padat sampai membanjirnya pedagang kaki lima serta kegiatan informal lain adalah bagian dari ini. Perkara kualitas jelas tidak terjamin.

Warga sebagai infrastruktur kota yang dinamis nyaris tanpa campur tangan pembuat kebijakan tersebut, sesuai riset Simone selama beberapa dekade, banyak ditemukan di negara Global Selatan. Masih banyak dari Global Selatan ini yang masuk kategori sebagai negara miskin dan berkembang yang tersebar antara lain di Afrika, Amerika Latin, dan Asia, termasuk Asia Tenggara.

Negara Global Selatan kini mengalami kemajuan pesat dalam perkembangan dan pembangunan kawasan perkotaannya. Meskipun demikian, krisis terus membayangi karena sebagian negara di sisi ini seperti dilekati kutukan berupa korupsi merajalela serta tata pemerintahan yang jauh dari baik. Kondisi itu membuat segelintir elite langgeng menjadi penguasa dan si kaya raya, sedangkan sebagian warganya menjadi rakyat jelata yang kurang sejahtera.

Selalu terbagi dua

Edward Glaeser, profesor bidang ekonomi dari Harvard University yang juga salah satu dari duo penulis buku Survival of The City dalam wawancara di Global Affairs menyatakan, kota-kota memang selalu tidak setara. Setiap kota, betapa pun kecilnya, selalu terbagi dua, sebagian untuk orang miskin dan lainnya untuk orang kaya.

”Ketimpangan perkotaan hanya dapat ditoleransi ketika kota mengubah anak-anak miskin menjadi orang dewasa yang kaya,” kata Glaeser.

Dengan kondisi yang selalu terbagi dua itu, kehidupan kota akan tetap bertahan dengan menghadapi risiko mengerikan. Risiko bencana lingkungan hingga bencana sosial kini atau kelak bakal berdampak nyata tak hanya pada si miskin tetapi juga merenggut yang kaya jika ketimpangan tak dikikis habis.

Ilustrasi Opini - Kemiskinan Turun, Ketimpangan Melebar

Frank Islam dan Ed Crego dalam ”The Urban Crisis: Yesterday, Today, and Tomorrow”, mengutip pernyataan dari buku The Future of Cities, menuliskan, untuk mempertahankan diri dan membangun masa depan yang lebih baik, kota perlu fokus pada keselamatan, kualitas hidup, sekolah yang baik, dan ketertiban sosial.

Kota yang hebat itu tidak sama dengan kota padat penduduk. Menurut Islam dan Crego, kota yang ingin sukses harus lebih fokus pada kehidupan lingkungan sekitar, bukan pada kemegahan. Perlu fokus untuk menjadi kota manusiawi yang lebih inklusif. Agar membumi, inklusivitas butuh diterjemahkan dan diterapkan dalam lingkungan terdekat tempat bermukim bertetangga.

Quote

Ketimpangan perkotaan hanya dapat ditoleransi ketika kota mengubah anak-anak miskin menjadi orang dewasa yang kaya.

Menggunakan pemahaman manusia sebagai infrastruktur, inklusif bukan sekadar menerima perbedaan keyakinan dan lainnya, tetapi sampai ke tingkat saling menopang untuk menjadi tangguh bersama.

Setiap lingkup terkecil memiliki kebutuhan yang berbeda dari lingkungan lain. Pemerintah dapat mengintervensi dengan mengenali dan memenuhi kebutuhan yang diperlukan. Dengan begitu, ketahanan di setiap komunitas dapat menguat. Intervensi dapat melalui bantuan teknologi, kebijakan, sampai pendanaan.

Suatu kampung tertentu, misalnya, memiliki isu kasus tengkes pada anak-anak, maka pendekatan ke komunitas tersebut bisa lebih khusus dan fokus. Lain soal ketika menangani lingkup dengan tingkat pengangguran tinggi, ketergantungan narkoba, pendidikan rendah, atau bahkan didominasi warga lansia.

Pada saat ekonomi sedang tidak baik-baik saja, isu kaum produktif yang tiba-tiba menganggur dan dampak lonjakan harga berbagai barang terhadap setiap lingkupnya dapat dideteksi lebih detail. Bentuk bantuan atau stimulus yang diberikan pun bisa lebih tepat sasaran.

Setiap krisis di masa lalu, seperti dinamika tahun 1997/1998 hingga pandemi Covid-19, menorehkan memori tentang bagaimana warga bertahan. Semua itu data penting untuk menyusun rencana dan tahapan proses guna menciptakan kota yang lebih baik dan lebih adil.

Sayangnya, memori krisis sering dilupakan. Kebijakan yang ditetapkan semata pukul rata dan kadang tidak tepat sasaran. Si empunya kebijakan justru tak sungkan menunggangi tren yang menghinggapi warga seperti war takjil juga mengunggah video singkat berjoget seakan menunjukkan ia memahami serta berada bersama rakyatnya.

Kenyataannya, warga kembali dibiarkan sendiri bergulat menghadapi krisis. Ironis. Semoga kebaikan selalu bersama.


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Gesit Ariyanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari