Taktik yang digunakan militer Israel di Tepi Barat dinilai tak jauh berbeda dengan aksi mereka di Jalur Gaza.
20 Feb 2025 11:00 WIB · Internasional
FAR’A, KAMIS — Puluhan ribu warga Palestina di Tepi Barat terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka akibat operasi militer Israel. Situasi itu mengingatkan mereka pada tragedi Nakba tahun 1948, saat ratusan ribu warga Palestina terusir dari tanah mereka. Taktik yang digunakan militer Israel di Tepi Barat juga dinilai tak jauh berbeda dengan aksi mereka di Jalur Gaza.
Kantor berita Associated Press (AP), Kamis (20/2/2025), melaporkan, selama beberapa pekan terakhir, warga Tepi Barat berduyun-duyun menyelamatkan diri dari operasi militer Israel di seantero wilayah utara. Dengan naik mobil atau berjalan kaki, melintasi jalur berlumpur, di bawah pengawasan penembak jitu, warga Tepi Barat mencari tempat aman.
Militer Israel (IDF) mengumumkan operasi di Tepi Barat pada 21 Januari 2025, hanya dua hari setelah kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas berlaku di Gaza. IDF memulai di kamp pengungsi Jenin, tetapi lantas meluas ke wilayah sekitarnya, termasuk Tulkarem, Far’a, dan Nur Shams. Israel beralasan mereka memburu ”anggota kelompok militan”.
”Ini Nakba kami,” ujar Abed Sabagh (53). Ia berjejalan bersama tujuh anaknya di dalam mobil saat suara bom menggelegar di kamp Nur Shams pada 9 Februari. Orangtua Sabagh adalah korban Nakba 1948.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/20/9f37347b76990df3c044e2ff14ecbeaa-wires_photo_2_.jpg)
Para pekerja kemanusiaan mengatakan, mereka belum pernah melihat aliran pengungsian semacam sekarang ini di Tepi Barat sejak 1967. Kala itu Israel merebut wilayah barat Sungai Jordan, bersama Jerusalem timur dan Jalur Gaza. Setidaknya 300.000 warga Palestina mengungsi waktu itu.
”Ini belum pernah terjadi. Tambahkan kerusakan infrastruktur, kita mencapai titik di mana kamp-kamp itu menjadi tidak bisa dihuni lagi,” ujar Roland Friedrich, Direktur Urusan Tepi Barat untuk Badan Pekerjaan dan Pemulihan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA). Menurut UNRWA, setidaknya 40.100 warga Palestina di Tepi Barat mengungsi akibat operasi militer Israel yang tengah berlangsung.
Berdasarkan data dari Otoritas Palestina, sekitar 17.000 orang telah meninggalkan kamp pengungsi Jenin yang kini kosong. Dari kamp Nur Shams, setidaknya 6.000 orang mengungsi, atau sekitar dua pertiga dari total penduduk. Sebanyak 10.000 orang lainnya pergi dari kamp Tulkarem.
Para pakar menilai, taktik Israel di Tepi Barat hampir tidak bisa dibedakan dengan yang diterapkan di Gaza. Apalagi dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang ingin memindahkan warga Palestina dari Gaza, kubu sayap kanan Israel semakin gencar menyerukan pencaplokan Tepi Barat. ”Ide ’membersihkan’ tanah Palestina sekarang ini menjadi semakin populer dibandingkan sebelumnya,” kata Yagil Levy, profesor dan Kepala Institut untuk Studi Relasi Sipil-Militer di Universitas Open, Israel.
IDF membantah mengeluarkan perintah evakuasi kepada warga Tepi Barat. Mereka mengatakan, pasukan mengamankan jalur bagi mereka yang ingin pergi atas keinginan sendiri.
Wartawan AP mewawancarai sejumlah pengungsi Palestina pekan lalu dan menemukan bahwa mereka tidak pergi dari rumah karena ketakutan, tetapi atas perintah pasukan Israel. Di kamp Nur Shams, wartawan AP mendengar prajurit Israel mengumumkan melalui pengeras suara di masjid, memerintahkan orang-orang untuk pergi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/20/bdbcc48fe3e90f9d7ca88106957b9ae9-wires_photo.jpg)
Beberapa pengungsi mengatakan, ada prajurit Israel yang sopan, mengetuk pintu rumah, dan mengatakan mereka bisa kembali saat tentara Israel pergi. Sebagian lainnya mengatakan, prajurit Israel kasar, menggeledah ruangan-ruangan, mengangkat senjata laras panjang, dan mendesak orang-orang untuk pergi dari rumahnya.
”Saya tersedu, bertanya kepada mereka, mengapa ingin kami pergi dari rumah ini. Bayi saya ada di lantai atas, saya ambil dia. Mereka hanya memberi waktu 7 menit. Semua anak saya bawa, itu saja,” ujar Ayat Abdullah (30), mengingat kembali peristiwa yang menimpa dirinya, di Desa Kafr al-Labd.
Abdullah berjalan hingga sejauh 10 kilometer hanya dengan penerangan senter dari telepon genggamnya. Jalanan yang dilaluinya penuh lumpur karena hujan turun deras. Sambil memeluk anak-anaknya, dia memberanikan diri berjalan karena beberapa jam sebelumnya seorang penembak jitu menembak perempuan berusia 23 tahun yang tengah hamil.
Di kota Anabta, sukarelawan keluar masuk masjid dan gedung-gedung pemerintah yang berubah menjadi tempat pengungsian. Mereka membagikan selimut, kopi, telur rebus, dan sarapan. Warga setempat juga membuka rumah mereka bagi para pengungsi dari Nur Shams dan Tulkarem.
Saat operasi militer Israel di Tepi Barat dimulai, tentara membuldozer bangunan, berikut dengan pipa-pipa air. Air bersih tidak mengalir. Saluran pembuangan menyemburkan limbah. Internet mati. Sekolah tutup. Persediaan bahan makanan menyusut. Ledakan terdengar di mana-mana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/20/abf1e5b9731f067372076deeed265a5d-wires_photo_1_.jpg)
”Mereka melakukan apa pun untuk mendesak kami keluar,” kata Ahmad Sobuh, warga Far’a yang semula memilih bertahan, tetapi lantas tak punya pilihan lain selain mengungsi.
Para pengungsi menuturkan, tentara Israel mengambil alih rumah-rumah warga untuk digunakan sebagai asrama, gudang, atau titik pengintaian. Israel menyalahkan kelompok perlawanan karena menggunakan infrastruktur sipil untuk beroperasi. Namun, mereka melakukan hal yang sama.
(AP/Reuters)
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji