Natal tetap mengingatkan bahwa manusia masih punya harapan bahwa ”kehendak baik” masih bisa terwujud dan dengan itu perdamaian sejati akan terjadi di dunia ini.
24 Des 2024 06:25 WIB · Opini
”Si vis pacem para bellum,” kata Livius, sejarawan Romawi. ”Kalau kamu menghendaki damai, siapkanlah perang!”
Apa yang dikatakan oleh Livius sebetulnya sudah lama dilakukan oleh negara-negara di dunia ini, dengan pembentukan tentara di setiap negara.
Juga kewajiban militer, penyediaan dan pembangunan pabrik senjata, hingga pembangunan instalasi nuklir untuk persenjataan di beberapa negara dewasa ini. Dengan demikian, sewaktu-waktu dibutuhkan, mereka siap berperang. Itu semua dilakukan demi perdamaian model Livius.
Persiapan perang ini diupayakan sedemikian rupa, supaya pihak lain tidak berani melakukan provokasi, apalagi memulai peperangan, atau lebih baik lagi membatalkan keinginan perang sama sekali.
Benarkah demikian? Asumsi Noah Harari, dalam Homo Deus (2015) bahwa perang dianggap usang, ternyata tak terbukti. Menurut Harari, meski negara-negara membangun persenjataan canggih, yang mengancam peperangan, kemampuan diplomasi akan mencegah inisiatif perang.
Faktanya, perang sudah pecah antara Rusia dan Ukraina, Israel dan Palestina, dan belakangan dalam negeri Suriah, dan lain-lainnya. Bahkan, kekhawatiran sudah muncul mengenai kemungkinan bakal meletusnya Perang Dunia III.
Ironi perdamaian sebagaimana dicerminkan dalam sengketa politis antarnegara-negara yang bertikai masih mirip dengan situasi Pax Romana (Lt) di masa lalu, yang secara harfiah berarti ”Perdamaian Romawi”.
Pax Romana merupakan situasi kedamaian politis yang berlangsung pada tahun 27 sebelum Masehi hingga tahun 180 sesudah Masehi, atau berawal ketika Caesar Augustus mulai memerintah sehingga sering pula disebut Pax Augusta dan berakhir ketika Marcus Aurelius meninggal.
Pax Romana dilukiskan dalam sejarah sebagai masa yang relatif panjang, ketika wilayah-wilayah yang dikuasai Roma mengalami perdamaian karena kekuatan militer Romawi. Apakah dunia masih akan mengulang sejarah lama ini, menikmati perdamaian atas dasar kekuatan militer?
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/16/df6686f1-abb6-4ea8-9473-5749441ff850_jpg.jpg)
Dalam pertimbangan modern, muncul esai Immanuel Kant, ”Menuju Perdamaian Abadi” (Toward Perpetual Peace, 1795) yang mengisyaratkan bahwa kebebasan pilihan untuk menjalankan kebaikan merupakan dasar moral yang bisa diandalkan.
Kebebasan pilihan yang mempertimbangkan kelestariannya. Artinya, yang menjaga keselarasan dengan kebebasan yang lain juga, berlaku dalam rangka menetapkan keadilan dunia, yang dijamin hukum alam dan sejarah manusia. Inilah yang akan mengantarkan pada perdamaian abadi.
Namun, kebebasan ini hanya dimungkinkan, dalam negara republik, di mana pemerintah menghormati hak milik dan kontrak sosial, di mana kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif saling terpisah; dan yang melarang penguasa untuk menjadikan kekuasaan publik sebagai hak milik atau warisan, seperti halnya penguasa di masa lalu.
Hal itu sebagaimana diungkapkan Paul Guyer (Introduction pada topik Immanuel Kant dalam Steven M Cahm (ed), Political Philosophy: The Essential Texts. Oxford: Oxford University Press, 2005).
Kontras dengan kekuatan dan kekuasaan sang kaisar, Yesus dilukiskan sebagai bayi mungil yang lemah, yang lahir di kandang hewan, di kota kecil Betlehem.
Pemikiran Immanuel Kant inilah yang kiranya mendasari pembicaraan-pembicaraan tentang perdamaian di PBB. Apakah cita-cita Immanuel Kant ini bisa terlaksana?
Dalam masa Natal ini, dunia memperingati kelahiran Yesus yang dipercaya oleh orang Kristiani sebagai pembawa damai. Ironisnya, ia dilahirkan justru dalam masa Pax Romana, ketika Caesar Augustus menjabat sebagai penguasa tertinggi Romawi.
Kontras dengan kekuatan dan kekuasaan sang kaisar, Yesus dilukiskan sebagai bayi mungil yang lemah, yang lahir di kandang hewan, di kota kecil Betlehem. Ia tidak mempersiapkan perang melawan siapa pun, tetapi menawarkan perdamaian yang berbeda dari Pax Romana.
Ia tak memberikan jaminan terhadap tawaran damainya, dalam bentuk kekuatan-kekuatan fisik yang ekstravagan ataupun ekstramundan.
Jaminan damai yang ia tawarkan berupa ajakan, sebagaimana diungkapkan oleh para malaikat yang menampakkan diri kepada para gembala di padang Betlehem, mengawali pemberitaan mereka mengenai kelahiran Yesus itu, ”Gloria in altissimis Deo, et super terram pax in hominibus bonae voluntatis” (Lk 2, 14).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/11/02/f3f3daf8-34f3-46ac-8e80-a920a79f1e1d_jpg.jpg)
Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai di atas Bumi bagi orang-orang yang berkehendak baik. Allah dimuliakan di surga, tak menjadi soal. Sudah selalu demikian, bagi orang-orang yang percaya.
Akan tetapi, damai di atas Bumi, mungkinkah diwujudkan? Itulah yang menjadi persoalan.
Selama dunia masih dikuasai orang-orang yang tak mempunyai maksud baik, selama para penguasa masih ingin menjaga stabilitas dengan mengandalkan kekuatan militer dan nafsu kekuasaan, selama orang-orang biasa juga masih kepingin berebut kekuasaan, tampaknya perdamaian pun tak akan terwujud. Kecuali damai yang kabur dan ambigu yang ditawarkan dunia.
Dalam situasi seperti ini, perayaan Natal tetap mengingatkan bahwa manusia masih punya harapan bahwa ”kehendak baik” (benevolentia) masih bisa terwujud dan dengan itu perdamaian sejati akan terjadi di dunia ini.
Sudiarja, Dosen Filsafat pada Sekolah Tinggi Driyarkara
Penulis:
SudiarjaEditor:
Sri Hartati Samhadi, Yohanes KrisnawanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase