Natal Sederhana untuk Solidaritas Kemanusiaan

Natal bukan sebatas perayaan keagamaan. Peringatan hari lahir Yesus Kristus ini juga menjadi momentum untuk hidup sederhana dan menjalarkan solidaritas kemanusiaan.

24 Des 2024 05:00 WIB · Politik & Hukum

Oleh Kurnia Yunita Rahayu

JAKARTA, KOMPAS— Kesederhanaan dan keberpihakan terhadap lingkungan menjadi nilai utama yang diusung dalam perayaan Natal Nasional 2024. Semangat itu tidak terlepas persoalan sosial ekonomi yang masih membelit masyarakat. Aksi solidaritas terhadap warga miskin, berkebutuhan khusus, dan korban bencana akan dilakukan di berbagai wilayah.

Perayaan Natal Nasional 2024 mengambil tema ”Marilah Sekarang Kita Pergi ke Betlehem”. Frasa yang diambil dari penggalan ayat di Alkitab itu disebut sebagai refleksi atas tiga nilai yang relevan untuk diterapkan di tengah masyarakat Indonesia, yakni pengharapan, kesederhanaan, serta inklusivitas. Tak hanya itu, kisah kelahiran Yesus Kristus juga tidak terlepas dari simbol kesederhanaan serta ajakan kepada seluruh manusia dan alam untuk bersuka cita.

”Karena itu, tidak cuma kepedulian dan belas kasih pada manusia, tetapi juga pada lingkungan hidup. Implementasi tema Natal Nasional Tahun 2024 akan dilakukan melalui beberapa aksi kemanusiaan dan ekologis di sejumlah daerah,” kata Thomas Djiwandono, Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2024 dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (23/12/2024).

Wakil Menteri Keuangan itu melanjutkan, aksi kemanusiaan dimaksud meliputi bakti sosial di Kota Timika, Papua Tengah, dan Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Para korban banjir dan tanah longsor di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, serta penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, Nusa Tenggara Timur, juga akan didatangi. Selain itu, perbaikan ekologis juga akan dilaksanakan di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Thomas A.M Djiwandono Wakil Menteri Keuangan

Adapun puncak perayaan Natal Nasional akan diselenggarakan di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, 28 Desember mendatang. Menurut rencana, acara tersebut akan dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto, pimpinan lembaga negara, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), para tokoh lintas iman, dan 12.000 umat Kristiani.

Koordinator Bidang Perayaan Natal Nasional 2024, Chatarina Girsang, mengatakan, untuk pertama kalinya pemerintah akan memberikan penghargaan kepada para tokoh yang berdedikasi pada kemanusiaan dan lingkungan saat merayakan Natal secara nasional. Apresiasi ini diberikan kepada mereka yang memiliki  komitmen menyebarkan cinta kasih kepada sesama manusia dan lingkungan, serta menerapkan kesederhanaan.

Solidaritas lintas iman

Sekretaris Komisi Kepemudaan KWI Frans Kristi Adi Prasetya yang  hadir dalam jumpa pers tersebut mengatakan, tema Natal Nasional kali ini tidak terlepas dari pesan kuat  kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada September lalu. Saat memimpin misa akbar di GBK, Paus menyerukan ajakan untuk mengabarkan suka cita. Hal itu dimaknai sebagai upaya mengajak masyarakat untuk bergeser dari situasi penuh ketakutan dan bahaya ke situasi yang penuh kasih.

”Apa yang dibuat oleh panitia Natal ini mencerminkan konsistensi penyelamatan yang dilakukan oleh Allah, solidaritas. Bahwa kita diajak untuk memperhatikan yang lemah, miskin, tersingkir, dan disabilitas,” ujar Kristi.

Menurut dia, ajakan itu  tidak hanya untuk umat Kristiani. Seluruh masyarakat lintas iman juga perlu dirangkul untuk menyelesaikan persoalan sosial, terutama krisis lingkungan. Sebab, kerusakan lingkungan terjadi karena arogansi manusia.

Quote

Kita diajak untuk bersama-sama, berjalan bersama, untuk mewartakan kasih ke semakin banyak orang. Solidaritas kasih yang semakin luas juga untuk saudara-saudara yang berbeda keyakinan, tetapi punya keprihatinan bersama terhadap persoalan kemanusiaan. (Sekretaris Komisi Kepemudaan KWI Frans Kristi Adi Prasetya)

”Kita diajak untuk bersama-sama, berjalan bersama, untuk mewartakan kasih ke semakin banyak orang. Solidaritas kasih yang semakin luas juga untuk saudara-saudara yang berbeda keyakinan, tetapi punya keprihatinan bersama terhadap persoalan kemanusiaan,” kata Kristi.

Ditemui saat berkunjung ke Menara Kompas, Jakarta, Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Victor Tinambunan mengatakan, inti dari perayaan Natal adalah membawa kedamaian dan sukacita. Kedamaian itu ditujukan kepada semua orang tanpa memandang latar belakang agama, ras, dan perbedaan identitas lainnya.

”Natal sebagaimana orang Kristen percaya Tuhan hadir di dunia adalah untuk peduli pada orang-orang terpinggirkan, pada orang miskin. Biarlah Natal ini dimaknai dalam kesederhanaan supaya ada kesempatan untuk berbagi dan membantu orang-orang yang kekurangan,” ujarnya.

Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Victor Tinambunan (tengah) berkunjung ke Menara Kompas, Jakarta, Senin (23/12/2024).

HKBP merupakan salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang memiliki sekitar 6,5 juta jemaat. Menurut Victor, jumlah jemaat yang besar itu juga perlu dibarengi dengan tanggung jawab besar dalam merawat kerukunan bangsa Indonesia yang beragam.  ”Seperti visi HKBP, membawa berkat bagi dunia. Bagaimana membawa kebaikan dan menjalin hubungan harmonis dengan semua orang. Itu sebetulnya visi yang harus diwujudkan bersama-sama,” ucapnya.

Victor juga menyoroti krisis iklim yang melanda Bumi. Krisis iklim merupakan salah satu ancaman terbesar global saat ini dan dalam beberapa tahun mendatang. Bencana alam yang banyak terjadi saat ini merupakan dampaknya.

”Para ahli berkesimpulan, krisis ekologi ini karena ulah manusia. Seperti Mahatma Gandhi mengatakan, sebetulnya Bumi cukup memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi tidak pernah cukup untuk memenuhi kerakusan manusia,” katanya.

Oleh karena itu, Victor mengajak semua pihak agar tidak berlebihan dalam menggelar perayaan Natal. Selain itu, menjaga lingkungan dari ancaman kerusakan, termasuk dengan mengatasi masalah sampah dan menjaga kelestarian hutan. ”Karena Indonesia ini paru-paru dunia, jadi sangat penting bagi kita menjaga alam ciptaan Tuhan untuk tetap lestari,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kurnia Yunita Rahayu
 | 

Editor:

Kurnia Yunita Rahayu
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase