Meski berarti satu tempat bagi pemain lokal tergantikan ketika ada satu pemain dinaturalisasi, PSSI menjanjikan pembinaan sepak bola putri dalam negeri tetap berjalan.
28 Jun 2025 17:23 WIB · Olahraga
Setelah naturalisasi gencar dilakukan di timnas sepak bola putra Indonesia, program serupa mulai diterapkan pula di timnas putri. Meskipun PSSI menolak label ”jalan pintas”, upaya yang ditempuh menunjukkan kesan demikian di tengah pembinaan dalam negeri yang belum sepenuhnya berjalan.
Di lapangan latihan Dewa United Arena, Kabupaten Tangerang, Sabtu (28/6/2025) pagi, Viny Silfianus menyunggingkan senyum ketika berhasil lepas dari pengawalan Isabelle Nottet dan Isa Warps. Viny menguasai bola saat dua pemain lainnya itu bertugas mengejarnya.
Viny dan Isa merupakan bagian dari skuad final timnas putri untuk kualifikasi Piala Asia Putri 2026. Mereka menjalani latihan menjelang laga perdana di Grup D kontra Kirgistan di Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (29/6/2025) malam.
Isa adalah pemain naturalisasi baru yang dipanggil ke ”Garuda Pertiwi” pada 13 Juni. Tiga hari sebelumnya, Isabelle bersama tiga pemain lain, yakni Felicia de Zeeuw, Iris de Rouw, dan Emily Nahon, resmi dinaturalisasi menjadi WNI. Keempat pesepak bola itu sebelumnya adalah warga negara Belanda.
Sebelum Isa, Felicia, Iris, dan Emily, timnas putri telah menaturalisasi dua pemain keturunan Indonesia, yakni Noa Leatomu dan Estella Loupatty. Semua pemain naturalisasi ini menjadi bagian 23 pemain dalam skuad final dari total 38 pemain yang dipanggil.
Adapun Isabelle Nottet merupakan pemain keturunan Belanda yang statusnya masih mengikuti trial bersama timnas putri. Bersama Pauline van de Pol dan Isabel Kopp, mereka masih berada dalam fase pemantauan dan berpotensi dinaturalisasi. Mereka ikut berlatih dengan skuad final.
Sebenarnya, ketika ada satu pemain dinaturalisasi, dipanggil, dan dipilih memperkuat timnas, berarti ada satu tempat bagi pemain lokal yang tergantikan. Di posisi bek, fenomena itu begitu terlihat nyata. Kehadiran Emily Julia Frederica Nahon, di satu sisi, misalnya, berbarengan dengan ”menghilangnya” Shalika Aurelia di sisi lainnya.
Padahal, Shalika bisa dibilang langganan timnas Indonesia. Dia bahkan membela timnas sejak 2018 saat memperkuat tim U-16. Pada 2022, Shalika pun menciptakan sejarah dengan menjadi pemain perempuan Indonesia pertama yang membela klub sepak bola Eropa, yakni klub Serie B Liga Italia, Roma Calcio Femminile.
Shalika juga tampil apik dengan klub asal Filipina, Makati FC, di PFF Women’s League atau Liga Putri Filipina 2025. Di klub itu, Shalika tampil dalam 10 laga dan menjadi andalan di lini pertahanan tim dengan membantu 4 kali nirbobol. Dia juga menyumbang 1 gol dan 1 asis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/28/b99a485e-2db1-46d3-86ae-2cf29d1bcdd7_jpeg.jpg)
Nama bek lain, Agens Hutapea, juga ”menghilang” dari skuad timnas. Seperti Shalika, dia bahkan tidak dipanggil Pelatih Satoru Mochizuki pada pemilihan awal. Padahal, Agnes turut berkontribusi membawa timnas lolos ke Kejuaraan AFF Putri 2025.
Program naturalisasi PSSI itu, kan, konsisten. Tidak mengambil bangsa lain, tetapi mengambil bangsa kita yang kebetulan bermain di luar negeri.
Saat timnas putri mulai membuka diri untuk para pemain diaspora, Agnes tak menampik bahwa sempat ada kekhawatiran dalam benaknya. Terlebih, menurut Agnes, para pemain diaspora didukung dengan latihan dan kompetisi rutin karena tergabung dengan klub dan bermain di liga. Sementara Agnes, pertama dan terakhir kali mencicipi liga pada 2019 alias enam tahun lalu.
Kompetisi sepak bola putri Indonesia, Liga 1 Putri, digelar untuk pertama kali pada 2019 dan hingga saat ini mati suri. Kondisi ini banyak disesalkan para pesepak bola putri yang tidak bisa menguji hasil latihan lewat kompetisi dan akhirnya menjadi minim pengalaman bertanding.
Padahal, kompetisi adalah tolok ukur pembinaan. Tanpa kompetisi reguler dalam negeri, sulit menilai perkembangan pembinaan sepak bola putri.
Alhasil, wadah satu-satunya bagi pesepak bola putri untuk berlatih dan bertanding ialah timnas. Namun, mereka kini perlu bersaing dengan para pemain diaspora hasil pembinaan di luar negeri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/28/4381f19a-3520-41df-84b4-e08ad030189e_jpeg.jpg)
Di sisi lain, Agnes mencoba mencari sisi positif dengan melihat kehadiran para pemain diaspora sebagai pemacu semangat. ”Saya mencoba percaya diri untuk bersaing. Bahwa saya bisa bersaing. Walaupun mungkin latihan dan fasilitas serta lingkungannya berbeda dengan mereka, semangat dan keberaniannya sama,” ujarnya.
Sementara Viny mengatakan, kehadiran para pemain naturalisasi bisa memperkuat tim. Pemain yang sempat mengemban tugas sebagai kapten timnas ini akan memanfaatkan kehadiran para pemain naturalisasi untuk memetik pelajaran. Apalagi, menurut Viny, para pemain naturalisasi ini punya kelebihan tertentu dari segi kecepatan, operan, penguasaan bola, dan penyelesaian akhir.
”Perbedaan kualitas mungkin ada. Tapi, kami bisa mengimbangi mereka semua. Dan, aku sih berharap mereka bisa memberikan yang terbaik juga. Bisa cepat beradaptasi juga dengan kami. Semoga kami bisa memberikan yang terbaik,” ucap Viny.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir, yang memantau sesi latihan pada Sabtu (28/6/2025), mengatakan, timnas putri terbuka bagi siapa pun, termasuk pemain muda dan diaspora. Jalan naturalisasi, kata Erick, ditempuh karena kolam talenta pemain masih kurang. Alasan ini pula yang membuat Liga Putri masih belum berjalan lagi.
Meski demikian, Erick menjanjikan pembinaan di dalam negeri pun akan tetap berjalan meski timnas menerapkan naturalisasi. ”Jadi, ya, memang yang namanya pembinaan dari dalam, ataupun pemain diaspora yang ingin bergabung, ya kami sangat terbuka. Karena memang talenta pool timnas putri kita masih sangat kurang,” ujar Erick.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/28/06ca029f-b278-44fa-9223-5fed9a84bf89_jpeg.jpg)
”Talentanya di bawah tidak cukup, tim nasionalnya enggak cukup. Nah, ini yang kita lagi coba bangun bersama. Jadi, ya, kembali kesinambungan antara pembinaan di dalam negeri dan juga pemain kita yang ada di luar negeri, ya kita maksimalkan sama-sama,” tuturnya.
Erick menambahkan, negara tetangga seperti Vietnam juga menciptakan terobosan-terobosan untuk memperkuat olahraga mereka, termasuk sepak bola. Salah satu terobosan itu adalah dengan mulai menarik diasporanya. Menurut Erick, apa yang dilakukan Vietnam juga harus menjadi dorongan bagi PSSI untuk tidak berpuas diri agar tidak kalah saing dari mereka atau negara Asia Tenggara lainnya.
Namun, Erick enggan menyebut pencarian diaspora dan naturalisasi sebagai jalan pintas untuk meraih prestasi. Sebab, menurut dia, cabang olahraga lain di negara lain pun diperkuat pemain-pemain diaspora.
”Tetapi, ini, kan, bukan berarti kita mencari shortcut, ya, atau jangka pendek terus tidak. Tapi, karena memang kalau olahraga itu global,” ucap Erick.
”Dan, program naturalisasi PSSI itu, kan, konsisten. Tidak mengambil bangsa lain, tetapi mengambil bangsa kita yang kebetulan bermain di luar negeri,” katanya lagi.
Naturalisasi mungkin menjadi upaya jangka pendek untuk membentangkan jalan pengembangan sepak bola putri. Namun, tanpa fondasi bernama pembinaan yang berjenjang dan berkelanjutan, mimpi Garuda Pertiwi hanya akan mengudara di antara bayang-bayang pesepak bola putri dalam negeri yang terpinggirkan.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto