Negosiasi AS dan Uni Eropa Alot, Trump Naikkan Tarif Lebih Tinggi

Negosiasi tarif antara AS dan Uni Eropa disebut tak membuahkan hasil. Secara sepihak, Trump tetapkan tarif produk UE ke pasar AS sebesar 50 persen.

24 Mei 2025 17:25 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

BRUSSELS, SABTU — Negosiasi soal penetapan tarif perdagangan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat berjalan alot. Situasi itu mendorong Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif seluruh barang impor asal Eropa menjadi 50 persen.

Sebelumnya, pada 2 April lalu, Trump menetapkan tarif bea masuk produk Uni Eropa ke pasar AS sebesar 24 persen.

Ancaman juga dilayangkan Trump kepada perusahaan teknologi AS, Apple, yang memilih memproduksi gawai-gawainya di luar AS. Trump menetapkan tarif 25 persen untuk semua produk telepon genggam yang bukan diproduksi di AS.

”Pembahasan kita dengan mereka (UE) tidak membuahkan hasil. Oleh karena itu, saya merekomendasikan tarif langsung sebesar 50 persen terhadap UE mulai 1 Juni 2025. Tidak ada tarif jika produk tersebut diproduksi di AS,” tulis Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social.

Di Ruang Oval, dia menegaskan pintu telah tertutup untuk berunding dengan UE. ”Saya tidak mencari kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan. ”Kami telah menetapkan kesepakatan. Kesepakatannya 50 persen.”

Trump menambahkan hubungan dagang UE-AS telah merugikan AS. ”Mereka tidak memperlakukan negara kita dengan baik. Mereka bersatu untuk mengambil keuntungan dari kita."

Pernyataan Trump itu membuat pasar saham global anjlok dan diikuti jatuhnya nilai tukar dollar AS terhadap mata uang euro. Indeks S&P 500 turun sekitar 0,67 persen. Indeks utama Wall Street semuanya turun sekitar 1 persen dua jam setelah perdagangan dimulai. Nasdaq turun 1,5 persen dan ikut mengerek turun nilai saham Apple hingga 2,5 persen.

Adapun bursa saham di Paris dan Frankfurt berakhir melemah sekitar 1,5 persen. Sementara FTSE 100 London, yang awalnya naik, juga berakhir di zona merah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjuk salah satu jurnalis saat sesi tanya jawab di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington, Jumat (23/5/2025), seusai menandatangani perintah eksekutif baru.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam wawancara dengan stasiun televisi Fox mengatakan, AS menilai UE bermasalah karena kolektivismenya. Dia menyebut 27 negara diwakili oleh apa yang disebutnya sebagai ”satu kelompok di Brussels”.

Bessent mengatakan, banyak negara tidak tahu apa yang sedang dinegosiasikan oleh UE atas nama mereka. Kepada stasiun televisi Bloomberg, ia menyampaikan, penurunan tarif akan bergantung pada sikap negara atau blok perdagangan yang datang dan bernegosiasi dengan itikad baik.

Sepekan terakhir, Washington dan Brussel sudah mengirimkan daftar tuntutan dalam proses perundingan dagang mereka. Washington mengirimkan sejumlah tuntutan, termasuk yang disebutnya sebagai hambatan non-tarif, mulai dari mengadopsi standar keamanan pangan AS hingga menghapus pajak layanan digital nasional.

Sebaliknya, UE menawarkan kesepakatan yang dipandang akan saling menguntungkan kedua negara, seperti pembelian lebih banyak gas alam cair dan kacang kedelai AS hingga kerja sama untuk mengatasi masalah kelebihan kapasitas produksi baja. AS dan UE dalam hal ini pada posisi yang sama, yakni menyalahkan China.

Meski begitu, dilansir dari The Wall Street Journal, penasihat ekonomi Trump memperkuat argumen Bessent bahwa prioritas perdagangan negara anggota UE berbeda satu sama lain. Penasihat Trump menilai Eropa enggan membuat penawaran konkret untuk mengatasi masalah yang dihadapi AS, antara lain biaya layanan streaming, Pajak Pertambahan Nilai, dan regulasi otomotif.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance (tengah-kanan) bertukar sambutan dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen (tengah-kiri) selama pertemuan bilateral yang diadakan di kediaman Kepala Misi di Kedutaan AS di Paris, Perancis, pada Selasa (11/2/2025). (Foto oleh AFP/IAN LANGSDON)

AS juga menilai UE belum memberikan komitmennya untuk menerapkan kebijakan tarif terhadap China.

UE sendiri telah dikenai tarif impor terhadap produk baja, aluminium dan kendaraan sebesar 25 persen dan tarif ”timbal balik atau resiprokal” sebesar 10 persen untuk hampir semua barang lainnya. Tarif resiprokal ini yang ditetapkan pada 2 April 2025 itu akan naik menjadi 20 persen setelah jeda 90 hari Trump berakhir pada 8 Juli.

Marcos Sefcovic, Komisioner Komisi Eropa untuk Urusan Perdagangan dan Keamanan, mengingatkan bahwa kesepakatan perdagangan bisa terjadi bila negosiasi didasari atas rasa hormat satu sama lain, bukan ancaman.

”Uni Eropa sepenuhnya terlibat, berkomitmen untuk mengamankan kesepakatan yang menguntungkan keduanya,” tulis Sefcovic di platform X. Dia berencana berkomunikasi dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick.

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul juga mengingatkan, pengenaan tarif oleh Trump pada UE tidak akan membantu siapa pun. ”Tindakan itu hanya akan menyebabkan pembangunan ekonomi di dua pasar terpuruk,” katanya.

Mary Lovely, peneliti senior Institut Ekonomi Internasional Peterson, mengatakan, pernyataan Trump ini hanyalah taktik negosiasi yang diharapkan akan berujung pada kesepakatan.

Namun, Lovely mengingatkan, dalam jangka panjang pendekatan Trump bisa mendorong munculnya pemikiran bahwa AS tidak bisa diandalkan sebagai mitra dagang. AS hanya akan bertindak berdasarkan keinginan sendiri, bukan berdasarkan aturan hukum yang telah disepakati sebelumnya.

Tekanan kepada Apple

Keputusan Apple untuk melanjutkan produksi gawai populernya di Asia juga membuat Trump berang. Kini, Apple bersama sejumlah perusahaan ritel, seperti Amazon dan Walmart, menjadi sasaran tembak Trump.

”Saya sudah lama memberi tahu Tim Cook dari Apple bahwa saya menginginkan iPhone mereka yang akan dijual di AS diproduksi dan dibuat di Amerika Serikat, bukan India, atau tempat lain mana pun,” tulis Trump. ”Jika tidak demikian, Apple harus membayar tarif setidaknya 25 persen kepada AS.”

(FILES) US President Donald Trump (R) and Apple CEO Tim Cook speak to the press during a tour of the Flextronics computer manufacturing facility where Apple's Mac Pros are assembled in Austin, Texas, on November 20, 2019. US President Donald Trump ratcheted up the US trade war on May 23, 2025, threatening to impose a new 25 percent levy against Apple, and a 50 percent tariff on the European Union. The president said Apple had failed to move iPhone production to the United States despite his repeated requests, and he threatened new duties of "at least" 25 percent if they did not comply. (Photo by MANDEL NGAN / AFP)

Namun, Trump menyebut bahwa tarif itu tidak hanya berlaku untuk Apple saja, tetapi semua gawai pintar yang diimpor ke AS. Tarif itu akan diberlakukan paling cepat akhir Juni. ”Itu juga akan berlaku untuk Samsung dan siapa pun yang membuat produk itu,” kata Trump. ”Jika tidak, itu tidak adil.”

Baru-baru ini Trump membanggakan investasi senilai 500 miliar dollar AS yang dijanjikan Apple pada bulan Februari lalu untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan. Akan tetapi, dia secara terbuka mengkritik Apple dan CEO-nya, Tim Cook, yang memilih Asia sebagai lokasi manufaktur produk-produk perusahaan teknologi itu.

”Saya memiliki sedikit masalah dengan Tim Cook kemarin,” kata Trump. ”Saya berkata kepadanya: ’Tim, kamu teman saya. Saya memperlakukanmu dengan sangat baik. Kamu datang ke sini dengan 500 miliar dollar AS. Tetapi, sekarang saya dengar kamu membangun di seluruh India. Saya tidak ingin kamu membangun di India’.”

Analis berpandangan skeptis bahwa keinginan Trump ”membawa pulang” produksi Apple kembali ke AS bisa dilakukan dengan cepat. Akan tetapi, Apple harus berhadapan dengan sikap Pemerintah AS yang tidak dapat diprediksi saat ini.

”Setiap saat, segala sesuatunya dapat berubah dalam semalam, sehingga sangat sulit bagi perusahaan seperti Apple merencanakan bisnis mereka,” kata Ben Wood, kepala analis di firma riset CCS Insight Inggris. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari