Hubungan perdagangan Indonesia-Rusia dapat menjadi alternatif untuk menghadapi tekanan Amerika Serikat. Hal ini sekaligus menunjukkan kebebasan Indonesia.
20 Jun 2025 19:06 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Perdagangan bebas antara Indonesia dan negara-negara yang tergabung dalam Uni Ekonomi Eurasia atau EAEU akan segera diterapkan. Setelah ratifikasi dari parlemen semua negara EAEU dan Indonesia, hubungan perdagangan berpotensi meningkat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, penandatanganan konklusi negosiasi sudah dilakukan pada Kamis (19/6/2025) sebelum pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Penandatanganan ini dilakukan Airlangga dan Menteri Perdagangan Rusia Andrey Slepnev.
”Legal drafting dan dokumen final akan disaksikan di forum EAEU Summit Desember 2025 mendatang di St Petersburg,” kata Airlangga, Jumat (20/6/2025), dari St Petersburg, Rusia, melalui pesan tertulis.
Oleh karena itu, dia meyakini perjanjian perdagangan bebas (FTA) antara Indonesia dan negara-negara EAEU dapat diterapkan 2025 ini setelah kesepakatan diratifikasi parlemen setiap negara. Sampai saat ini, anggota Uni Ekonomi Eurasia adalah Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgistan, dan Rusia.
Dengan adanya FTA Indonesia-EAEU ini, menurut Airlangga, komoditas yang akan bergerak adalah di sektor farmasi; energi baru terbarukan, termasuk reaktor modular kecil; keamanan siber; smelter aluminium; pupuk potasium; dan minyak sawit mentah (CPO). Selain CPO, Indonesia berpotensi lebih leluasa mengekspor stainless steel, katoda tembaga, dan sel baterai kendaraan listrik (EV battery cell).
”Rusia juga tertarik investasi di hilirisasi,” tambah Airlangga.
Upaya memperluas dan mendiversifikasi hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara lain, seperti China dan Rusia, yang sudah dilakukan Presiden Prabowo ini penting. Ini akan mencegah tekanan negara-negara besar ”superpower” seperti AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/20/316ea46a-f759-4182-9ed4-659937393078_jpg.jpg)
Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Vladimir Putin di Istana Konstantinovsky, St Petersburg, Kamis (19/6/2025). Seusai pertemuan bilateral dan pertukaran beberapa perjanjian kerja sama, keduanya menyampaikan keterangan pers bersama.
Putin mengatakan keyakinannya bahwa kedua negara akan mendapatkan peluang berbagai kerja sama baru setelah penandatanganan perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia. ”Harapan saya bahwa perjanjian ini akan ditandatangani pada waktu dekat,” kata Putin.
Putin menjanjikan, perusahaan-perusahaan Rusia akan bekerja di pasar Indonesia secara efektif. Selain itu, dia menjanjikan akan menambah pasokan minyak dan gas alam cair ke pasar Indonesia.
Kerja sama Indonesia dan Rusia sudah dilakukan, salah satunya kemitraan PT Pertamina (Persero) dengan perusahaan minyak dan gas asal Rusia, Rosneft, pada kilang pengolahan dan petrokimia di Tuban, Jawa Timur. Kemitraan ini berlangsung sejak 2016.
”Kami bersedia untuk ikut serta dalam proyek baru di lepas pantai Indonesia dan juga memodernisasi infrastruktur supaya mendongkrak produksi minyak dari ladang tua. Kami terbuka untuk kerja sama dengan mitra Indonesia di bidang nuklir,” kata Putin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/ccdc941fe8fc6a8525f680907e2444ee-WhatsApp_Image_2025_06_19_at_19.48.33.jpeg)
Putin menambahkan, proyek nuklir di bidang damai, seperti kesehatan, pertanian, serta pelatihan staf, bisa dilakukan. Selain itu, kerja sama yang ditawarkan terkait teknologi modern serta pemanfaatan teknologi luar angkasa untuk kepentingan damai.
Presiden Prabowo mengapresiasi sambutan Putin dan berharap kunjungan ini membawa kemajuan signifikan bagi hubungan kedua negara.
Secara terpisah, pengajar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Hariyadi Wirawan, menilai kunjungan ke Rusia bisa menjadi ekspresi Presiden Prabowo untuk mendiversifikasi ekonomi dengan negara-negara non-Barat.
Sejumlah kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tidak bijaksana dan tidak bisa diprediksi membuat banyak negara, terutama negara berkembang, ketar-ketir. Oleh karena itu, upaya untuk membuat kontak dagang dengan negara-negara yang berpotensi sebagai jaring pengaman sangat diperlukan.
”Upaya memperluas dan mendiversifikasi hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara lain, seperti China dan Rusia, yang sudah dilakukan Presiden Prabowo ini penting. Ini akan mencegah tekanan negara-negara besar superpower seperti AS,” ujar Hariyadi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/20/f6971e7a-0088-4688-93cb-e06a67b10fa4_jpg.jpg)
Hariyadi mengatakan, langkah ini sekaligus menunjukkan kebebasan Indonesia dalam keputusan politik untuk bersahabat dengan siapa pun. Adanya kesepakatan FTA Indonesia-EAEU ini bisa meningkatkan hubungan dagang Indonesia-Rusia yang masih relatif kecil, baik volume maupun jenisnya.
Uni Ekonomi Eurasia, menurut dia, masih jauh dari kerja sama ekonomi negara-negara lain, seperti Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). Kendati demikian, pembentukan EAEU menjadi perlawanan Rusia untuk mencegah negara-negara wilayah Eropa Timur dan Asia Tengah dipengaruhi Barat sepenuhnya.
Penulis:
Nina SusiloEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti