Newcastle keluar dari pengasingan tanpa trofi selama 70 tahun. Burn dan Isak memutus lingkaran karma Newcastle yang berulang kali gagal di final turnamen domestik.
17 Mar 2025 07:44 WIB · Olahraga
Kisah Newcastle United layaknya keluarga Buendia dalam novel 100 Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez. Keluarga Buendia terjatuh dalam jebakan reinkarnasi sehingga terlahir menjadi generasi berikutnya hanya untuk mewarisi lagi kesialan.
Nasib itu pula yang dialami Newcastle selama 70 tahun. Namun, kesialan 70 tahun tanpa trofi domestik itu terpatahkan pada final Piala Liga Inggris menghadapi Liverpool, yang dimenangi Newcastle dengan skor 2-1.
Jelang laga final yang berlangsung di Stadion Wembley, London, Minggu (16/3/2025) malam WIB, tidak sedikit dari para pendukung Newcastle yang cemas penantian panjang akan trofi masih terus berlanjut. Kecemasan mereka bukan tanpa alasan. Sudah 70 tahun lamanya para pendukung Newcastle menantikan gelar juara singgah di kota mereka. Pengalaman berbicara, Newcastle senantiasa gagal dalam setiap final yang mereka jalani.
Piala FA 1955 menjadi trofi domestik terakhir yang mereka menangi. Setelah itu, penantian panjang Newcastle berlanjut. ”The Magpies” berusaha memutus lingkaran kesialan dengan menembus final Piala FA 1974, 1998, dan 1999, tetapi gagal.
Demikian pula usaha untuk meraih gelar di Piala Liga Inggris pada 1976 dan 2023 juga berakhir kekecewaan. Di Liga Inggris, Newcastle hampir menjadi juara pada 1996 dan 1997. Sebagaimana nasib keluarga Buendia, Newcastle pada akhirnya terjebak dalam samsara tiada tepi.
Keterasingan Newcastle dari trofi itu pada akhirnya runtuh di tangan Eddie Howe. Mantan manajer Bournemouth itu tampaknya sudah belajar banyak dari kekalahan Newcastle di final Piala Liga Inggris dua musim lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/be7b31ba-56f3-436d-9547-9266fa874ca6_jpg.jpg)
Kala itu, Newcastle takluk dua gol tanpa balas dari Manchester United walau mampu mendominasi penguasaan bola hingga 61 persen. MU yang tertekan justru bisa tampil efisien dengan melepaskan 10 tendangan ke gawang.
Howe membawa pengalaman menyakitkan tersebut sebagai modal berharga menatap final kali ini. Lawan yang mereka hadapi pun amat berat, Liverpool, yang musim ini baru merasakan satu kekalahan di Liga Inggris. Jika dua musim lalu Newcastle percaya dominasi penguasaan bola akan membawa mereka pada kejayaan, kali ini Howe mengubah pendekatannya.
Menghadapi Liverpool yang lebih diunggulkan karena berstatus juara bertahan, Newcastle bermain lebih terstruktur dengan memperkuat lini tengah. Sepanjang laga, Liverpool memang menjadi lebih dominan dalam mengontrol jalannya laga. Namun, dominasi penguasaan bola Liverpool menjadi tidak berarti apa-apa.
Newcastle yang unggul di lini tengah berkat intensitas Bruno Guimaraes, Sandro Tonali, dan Joelinton dalam menekan. Mereka sukses memaksa Liverpool melepaskan umpan-umpan jauh yang tidak efektif untuk menembus pertahanan Newcastle.
Tidak seperti Liverpool, Newcastle tahu ancaman seperti apa yang mereka mau. Howe memanfaatkan bek jangkung 198 sentimeter (cm), Dann Burn, dalam setiap skema sepak pojok. Burn akan bergerak menjauhi pengawalan Virgil van Dijk serta Ibrahima Konate. Eksekutor sepak pojok kemudian mengarahkan bola kepada Burn yang relatif bebas tanpa gangguan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/ba9c140f-1b94-4924-b38f-1bf2c53ca41d_jpg.jpg)
Skema tersebut berbuah gol pembuka Newcastle pada pengujung babak pertama. Alexis Mac Allister yang hanya bertinggi 173 cm tidak berdaya memenangi duel udara dengan Burn.
”Pertandingan berjalan sesuai dengan keinginan mereka. Mereka mendapat energi ekstra menjelang babak pertama lewat gol tersebut (Dan Burn), yang mungkin pantas mereka dapatkan setelah 45 menit pertama karena mereka lebih mengancam kami daripada kami mengancam mereka,” ujar Manajer Liverpool Arne Slot.
Tanpa kehadiran Anthony Gordon yang masih menjalani hukuman, serangan Newcastle kehilangan fleksibilitasnya. Akan tetapi, Alexander Isak mampu mengisi lubang yang ditinggalkan Gordon. Alih-alih menginstruksikan Isak untuk berduel dengan Van Dijk, Howe memintanya bergerak melebar.
Pos sayap kanan Liverpool yang ditinggalkan Trent Alexander-Arnold akibat cedera menjadi sasaran Isak. Jarell Quansah yang menggantikan Alexander-Arnold dinilai akan kalah berduel dengan Isak. Oleh sebab itu, Van Dijk dan Konate berinisiatif membantu Quansah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/c6039555-ecce-43f6-8231-c1d32e7124a8_jpg.jpg)
Taktik itu membuat Van Dijk dan Konate melebar, meninggalkan posisinya sebagai bek tengah. Harvey Banes dan Joelinton lantas tidak menyia-nyiakan momentum itu untuk merangsek masuk dan memberikan ancaman ke gawang Liverpool.
Meski kalah dalam penguasaan bola, Newcastle unggul dalam hal penciptaan peluang. ”The Magpies” total menciptakan tiga kesempatan emas dan melepaskan enam tendangan tepat sasaran, lebih banyak dari Liverpool yang hanya menciptakan dua tendangan tepat sasaran.
Gol kedua Newcastle yang dicetak Isak berawal dari upaya serangan di sisi kanan pertahanan Liverpool. Skema serangan lainnya direncanakan Howe adalah memanfaatkan bola kedua (second ball) secara lebih klinis. Isak melepaskan tembakan keras dari dalam kotak penalti seusai menerima pantulan bola dari Jacob Murphy. Pola atau skema permainan Newcastle tidak didapatkan secara instan. Mereka bisa melakukannya setelah berlatih secara berulang-ulang menjelang final.
”Dengan cara permainan yang ditetapkan, kami telah berlatih secara konsisten pada skema tertentu selama dua minggu untuk pertandingan ini,” kata Howe.
Liverpool baru bisa merespons pada akhir pertandingan melalui Federico Chiesa yang mencetak gol seusai lolos dari perangkap off-side. Namun, momentum kebangkitan Liverpool terlambat hadir sehingga mereka telah lebih dulu kehabisan waktu sebelum bisa mencetak gol penyeimbang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/9e6bd823-a9b0-4919-9641-2144498c5de5_jpg.jpg)
Karena kekalahan ini, satu-satunya peluang Liverpool meraih juara hanyalah di Liga Inggris. Sebelumnya, ”Si Merah” sudah tersingkir dari Piala FA dan Liga Champions Eropa.
”Hari ini, bukan soal lari. Lebih ke duel. Secara mental, selalu sulit kalah di final,” ucap Slot.
Dengan kehadiran trofi domestik pertama setelah 70 tahun memendam kesunyian, seisi kota Newcastle kini bersukaria. Burn dan Isak layak dikenang dalam keabadian sebagai pahlawan laga final yang mengeluarkan Newcastle dari lingkaran keterasingan trofi. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .