PUSAT KEBUGARAN

”Nge-gym” Tengah Malam Pun Kuhajar

Tanpa kenal waktu, pengunjung kini bisa datang ke ”gym”. Ada konsumen yang ingin menurunkan berat badan. Lucunya, pelanggan lain jadi rajin datang karena patah hati.

14 Feb 2026 05:33 WIB · Urban

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Oleh Dwi Bayu Radius

Masyarakat di kota-kota besar yang lintang pukang mendulang cuan sejak pagi hingga larut malam menciptakan anomalinya tersendiri. Mereka memburu pusat kebugaran atau gym di perkantoran, mal, hingga perumahan pada jam-jam yang tak lazim.

Coki Sandy (45) melangkah menuju Anytime Fitness dengan mantap. Ia sendiri saja diiringi musik techno atau elektronik yang berdentam-dentam. Bukan di ruko, kompleks perumahan, atau gelanggang olahraga, Coki hendak menjaga kebugaran di pusat perbelanjaan.

Pintu mal di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, itu masih bisa dibuka. Lantai dasar lengang dan remang-remang, tetapi begitu naik eskalator, tampaklah gym yang masih terang benderang. Bukan pula jam yang lumrah karena ia datang lewat tengah malam.

Coki menggunakan dumbel, deadlift untuk angkat beban, dan perangkat yang menguatkan kaki. Ia santai saja berolahraga yang diselingi dengan mengakses ponselnya. Setelah dua jam cari keringat, warga Pondok Aren, Tangerang Selatan, itu melepas lelah.

”Meski jamnya abnormal, better than nothing (lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa),” ujarnya diikuti tawa, Minggu (1/2/2026). Saat subuh, kantuk menyerang dan Coki terlelap sejenak. Pagi menjelang, ia pun langsung tancap gas lagi untuk bergumul dengan agendanya.

Samantha Mardhatillah berlatih kebugaran di Anytime Fitness Mampang, Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2026). Gaya hidup sehat kaum urban mendorong sejumlah pusat kebugaran buka 24 jam untuk memenuhinya.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
10-2-2026

Dibebani kerja

”Memang, lagi padat banget. Gara-gara sibuk, olahraga bukan prioritas. Mundur terus jadi baru bisa ke gym. Jadi, ya, diselip-selipkan saja,” ujarnya. Pegawai perusahaan teknologi informasi itu dibebani durasi kerja yang semakin panjang. Waktu luang pun terus berkurang.

”Dunia lagi enggak baik-baik saja, sih. Jadi, kerjaan bejibun. Kalau sudah kelar, baru olahraga,” tutur Coki yang sudah dua tahun menjadi pelanggan gym tersebut. Saat ditanya sehat atau tidaknya mengakrabi pusat kebugaran dengan jadwal yang unik, ia mengaku jarang sakit.

Coki pun tak pernah mengonsumsi obat-obatan. Paling-paling, ia hanya minum vitamin. Coki rata-rata mengunjungi gym tiga kali seminggu. ”Dulu, badan saya rentan. Hampir tiap bulan sakit. Seringnya flu. Terus, olahraga rutin, sakitnya setiap tiga bulan. Lalu, jadi enam bulan sekali,” katanya.

Beberapa pengunjung berolahraga di pusat kebugaran FITX GYM Fatmawati di Jakarta. Jaringan gim tersebut buka 24 jam.

Jika flu sudah menyergap, bronkitis ikut-ikutan merecoki sehingga ia sembuh lebih lama. Gym yang senantiasa terbuka tentunya menggembirakan karena Coki sangat terbantu. Imunitas melesat, ia pun sudah lupa kapan terserang sakit terakhir kalinya.

Paling penting, Coki sudah bergerak daripada sekadar rebahan. Ia pun tak harus berolahraga pada pagi, siang, atau sore. ”Kayak sekarang, enggak pengin tidur lagi, manfaatkan waktu dengan ke gym saja. Justru menghabiskan tenaga supaya ngantuk,” jelasnya.

Coki meyakini kesehatan holistis yang tak hanya merawat fisik, tetapi juga memadukannya dengan ketenangan atau pikiran positif. ”Saya enggak mesti tidur nonstop delapan jam. Meski beberapa jam terus enggak ngantuk, buat saya sudah cukup. Nanti tidur lagi dua atau empat jam,” katanya.

Rangga Putera Perdana (29) berlatih kebugaran di Anytime Fitness Mampang, Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2026). Gaya hidup sehat kaum urban mendorong sejumlah pusat kebugaran buka 24 jam untuk memenuhinya.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
10-2-2026

Agung Setiawan (27) juga terseret-seret urusan kantor yang menumpuk. Saat ditemui, ia baru menuntaskan fitnesnya di FITX GYM Grogol, Jakarta, nyaris pukul 01.00. Karyawan pergudangan perusahaan pakaian itu lantas menyambangi kedai kecil di sudut pelataran parkir untuk memesan makanan.

Sejumlah pengunjung lain masih saja keluar masuk gym yang megah dengan beberapa kursi di lobi dan ruang olahraga di lantai atas. ”Tadi, sibuk karena overtime (lembur). Jadi, aku baru sempat ke gym sekarang. Pukul 08.00, aku sudah mesti ke kantor lagi,” imbuhnya.

Selama hampir dua jam, Agung berlari dengan treadmill, mengayunkan dumbel, dan melatih otot kaki menggunakan leg press. ”Faedahnya jelas. Ketimbang bengong sampai pagi, nge-gym tengah malam pun aku jabanin,” ujarnya sambil terbahak, Jumat (6/2/2026).

Ia pergi ke gym empat kali setiap pekan, masing-masing berdurasi sekitar dua jam. Agung sudah terbiasa melatih fisiknya dengan siklus yang ganjil. ”Kalau lama enggak fitnes, katakanlah seminggu, badan malah sakit waktu mulai olahraga lagi. Yang penting, jedanya jangan terlalu lama,” ujarnya.

Rangga Putera Perdana (29) berlatih kebugaran di Anytime Fitness Mampang, Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2026). Gaya hidup sehat kaum urban mendorong sejumlah pusat kebugaran buka 24 jam untuk memenuhinya.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
10-2-2026

Warga Cikupa, Tangerang, Banten, itu semula langganan gym di dekat rumahnya. Sejak akhir Januari lalu, ia bertugas di Jakarta sehingga berburu lokasi yang baru. ”Yang paling enggak biasa, aku datang pukul 03.00. Lagi susah tidur, aku kebantu banget. Habis badan capek, tidur juga nyenyak,” tuturnya.

Masyarakat kota besar kian menggandrungi gym tanpa kenal waktu hingga memikat mereka yang hendak mengincar peluangnya, mulai dari dalam sampai luar negeri. ”Prospeknya bagus sehingga kami selalu berekspansi,” kata Marketing Communication FITX GYM Wilson Kristian.

Sejak beroperasi pada Mei 2025, FITX GYM telah membuka delapan cabang. Tersebar di Jakarta, Tangerang Selatan, dan Bandung, sekitar 10.000 member atau anggota sudah direngkuh. Gaya hidup metropolitan mengungkungi warganya hingga waktu untuk berolahraga semakin sempit.

Banyak karyawan yang lembur dan ingin beristirahat dulu sebelum ke gym, bersua relasi seusai bekerja, atau sayang jika melewatkan kongko bareng sobatnya. ”Enggak bisa olahraga dari pagi sampai malam hari. Malah, ada konsumen yang janjian sama PT (personal trainer atau pelatih pribadi) pukul 01.00,” jelasnya.

Alat olahraga berderet di pusat kebugaran FITX GYM Fatmawati di Jakarta. Jaringan gim tersebut buka 24 jam.

Jenama asal Indonesia itu bahkan berani menawarkan sarana-sarana yang tak konvensional seperti barber, tempat tidur, sampai merias kuku atau nail art. ”Kalau pengin terlelap habis angkat beban, silakan saja. Di semua cabang, fasilitasnya sama,” ujarnya.

Pelanggan juga bebas memasuki gym di cabang mana pun. Wilson pun mengemukakan asmara yang terjalin di antara pelanggan. ”Banyak yang jadian, mungkin sampai puluhan pasangan. Siapa tahu bisa ketemu jodoh di gym,” imbuhnya seraya terbahak.

Anytime Fitness yang bermarkas di Minnesota, Amerika Serikat, turut mengisi ceruk pasar kebugaran di Indonesia sejak tahun 2019. ”Sudah ada sekitar 60 cabang di Jabodetabek, Bandung, Denpasar, Surabaya, dan Semarang,” ujar Marketing Manager Anytime Fitness Indonesia Riadi Arsandi.

Di Jakarta yang tak pernah tidur, contohnya, gym bagai oase untuk merenggangkan badan sejenak di sela berkutat dengan kesibukan. Pekerja yang bermukim di Bekasi atau Bogor, misalnya, bisa melipir dulu saat dini hari sebelum bersih-bersih lalu mengejar kereta ke Jakarta.

”Di gym, kan, tersedia kamar mandi. Kalau yang mampir tengah malam, pulang langsung tidur pulas. Jadi, enggak ada alasan buat absen berolahraga,” ujarnya. Di cabang mana pun, mulai dari dalam sampai luar negeri, konsumen bisa mengunjungi Anytime Fitness karena sudah terkoneksi secara global.

Farah Hulaila Putri berlatih kebugaran di Anytime Fitness Mampang, Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2026). Gaya hidup sehat kaum urban mendorong sejumlah pusat kebugaran buka 24 jam untuk memenuhinya.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
10-2-2026

Sakit hati

Principal Operator Anytime Fitness, Sandra Ang, bermitra dengan waralaba dunia itu untuk membuka cabang di Mampang, Jakarta Selatan, dan Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, lantaran kesadaran masyarakat yang kian pesat untuk menjaga kebugaran. Cabang di Mampang saja sudah memikat sekitar 800 anggota.

”Padahal, baru dibuka pada Juni 2025. Prospeknya cerah. Target saya membuka sampai 15 gym. Malah, saya pengin lokasinya di daerah yang sedang berkembang,” imbuhnya. Ia tengah mengincar Depok dan Bogor karena Jakarta sudah begitu sesak, termasuk pusat kebugarannya.

”Di gym, jam berapa pun, selalu ada yang datang. Motifnya macam-macam. Ada yang mau menurunkan berat badan. Lucunya, banyak juga yang patah hati,” ujarnya seraya tersenyum. Sandra menaksir, sekitar 30 persen pelanggannya ingin move on alias melupakan mantan pacarnya.

Rangga Putera Perdana (29) berlatih kebugaran di Anytime Fitness Mampang, Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2026). Gaya hidup sehat kaum urban mendorong sejumlah pusat kebugaran buka 24 jam untuk memenuhinya.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
10-2-2026

Paling tidak, energi yang mereka curahkan masih lebih baik daripada bersahabat dengan alkohol, dugem, atau narkoba. Emosi pun terkonversi untuk mengangkat beban. ”Mungkin nangis-nangis di gym. Waktu inget mantan pacarnya yang ngeselin, jadi kuat naikin barbel,” ujarnya sembari tergelak.

Pengajar Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana, Eka Widrian Suradji, memandang kunjungan ke gym pada jam-jam yang nonreguler tak menjadi persoalan selama jadwalnya konsisten dan kebutuhan istirahat tercukupi.

Eka menekankan pentingnya pelanggan gym untuk menjaga siklus sirkadian dan memenuhi waktu recovery atau pemulihan tubuh. ”Kalau yang bersangkutan tidur 6-7 jam sehari, tak apa-apa. Misalnya, pukul 21.00-23.00 ke gym terus pukul 00.00 tidur sampai pukul 07.00,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dwi Bayu Radius
 | 

Editor:

Dahono Fitrianto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan