Niko Kovac Melawan Masa Lalu

Piala Dunia punya tempat tersendiri dalam diri Niko Kovac. Pernah gagal saat melatih Kroasia, Niko mencoba melaju jauh bersama Dortmund di Piala Dunia Antarklub.

16 Jun 2025 15:00 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

NEW JERSEY, SENIN — Sebagai pelatih, Niko Kovac pernah bersinggungan satu kali dengan Piala Dunia saat mengarsiteki Kroasia pada 2014. Niko pada akhirnya gagal.

Guratan nasib membawanya kembali memimpin tim, tetapi di Piala Dunia Antarklub dengan membesut Borussia Dortmund. Laga perdana Dortmund kontra Fluminense di Stadion Metlife, New Jersey, Amerika Serikat, Selasa (17/6/2025) pukul 23.00 WIB, tiada ubahnya perjuangan Niko dalam melawan masa lalu.

Kegagalan membawa Kroasia melaju jauh di Piala Dunia 2014 belum bisa dilupakan oleh Niko. Bersaing dengan Brasil, Meksiko, dan Kamerun, laju Kroasia tertahan di fase penyisihan grup setelah hanya mampu menempati peringkat ketiga. Kroasia takluk dari Brasil dan Meksiko. Kemenangan atas Kamerun tidak cukup meloloskan Kroasia ke fase gugur.

Sebelas tahun berselang, Niko kembali tampil di Piala Dunia sebagai pelatih. Bukan Piala Dunia antarnegara, melainkan antarklub. Niko, yang ditunjuk menggantikan Nuri Sahin sebagai pelatih Dortmund, bertemu kembali dengan masa lalunya.

Kenangan buruk gagal membawa Kroasia melaju jauh hendak dibuangnya jauh-jauh. Niko berusaha melawan masa lalu kelam itu dengan memetik poin demi poin pada fase penyisihan Grup F.

Reaksi pelatih AS Monaco, Niko Kovac (kanan) dan pelatih Paris-Saint Germain Mauricio Pochettino saat mendampingi timnya bertandinga pada lanjutan pertandingan Liga Prancis di Stadion The Parc des Princes, Paris, Senin (22/2/2021) dini hari WIB. AFP/FRANCK FIFE

Situasi di Piala Dunia Antarklub nyaris serupa dengan saat Niko menangani Kroasia. Di Grup F, Dortmund bersaing dengan Fluminense yang merupakan klub Brasil. Dua pesaing lainnya adalah Ulsan Hyundai (Korea Selatan) dan Mamelodi Sundowns (Afrika Selatan). Seperti saat melatih Kroasia, Dortmund pun harus bertemu klub asal Brasil, Fluminense, di laga pembuka grup.

Ingatan Niko menyeruak ke masa silam saat Kroasia takluk dari Brasil di laga pembuka. Dia tentu tidak ingin mengulangi kegagalan serupa. Kekalahan dari Brasil semakin menyadarkan Niko betapa pentingnya memenangkan laga pertama. Dia pun memancang target memetik poin penuh atas Fluminense. 

”Pertandingan pertama selalu penting karena, tergantung dari hasilnya, Anda akan berada di bawah tekanan pada pertandingan kedua dan ketiga atau Anda dapat mengambil pendekatan yang lebih santai,” kata Niko dikutip dari laman FIFA.

Meski lebih difavoritkan, Niko tetap menganggap Fluminense sebagai lawan yang berbahaya. Pada edisi Piala Dunia Antarklub 2013, Fluminense melaju hingga final tetapi takluk dari Manchester City. Dalam lima laga terakhir, Fluminense juga masih belum terkalahkan dengan memetik empat kemenangan dan satu hasil imbang. 

Germany Soccer Dortmund Bellingham

”Menurut saya, Fluminense berada di posisi kelima di Liga Brasil. Ini berarti (mereka) adalah lawan yang sangat kuat dan berbahaya. Kami menghormati ketiga tim (di grup kami), tetapi saya rasa kami dan Fluminense adalah favorit di grup saat ini,” ujar Niko. 

Berkembang pesat

Saat gagal bersama Kroasia di Piala Dunia, Niko masih berada pada masa-masa awal karier kepelatihannya. Seiring berjalannya waktu, kemampuan Niko dalam menangani tim semakin berkembang pesat.

Niko membuat keajaiban dengan membawa Dortmund menembus peringkat empat besar atau zona Liga Champions Eropa di akhir musim Bundesliga. Padahal, sebelum Niko bertugas, Dortmund masih menempati peringkat ke-11. Tidak sedikit orang yang terkejut Dortmund akhirnya berhak tampil di Liga Champions musim depan. 

Berbeda dengan Nuri Sahin yang kompromistis terhadap para pemain, Niko jauh lebih keras dan menuntut. Ia menginginkan para pemainnya lebih banyak berlari. Di bawah Şahin, Dortmund kebobolan sembilan gol setelah kehilangan bola.

Di bawah arahan Niko, kebobolan dengan cara seperti itu hanya terjadi sekali. Ini lantaran Niko meminta para pemain segera mundur saat kehilangan bola, lalu menyusun kembali kekuatan, dan bertahan menghadapi serangan.

Germany Soccer Dortmund Bellingham

Dari aspek serangan, Niko bukanlah tipe pelatih yang mengandalkan penguasaan bola. Dia mengubah gaya permainan Dortmund menjadi lebih direct (langsung) dan transisi kilat. Pendekatan ini menjadikan Dortmund lebih efisien dalam menyerang.

”Pelatih memberi tahu kami bahwa kami harus berlari. Tidak peduli siapa yang kami lawan. Awalnya memang sangat sulit. Namun, sejujurnya, itu membantu saya. Saya merasa lebih bugar,” kata penyerang Dortmund, Karim Adeyemi.

Perjuangan Dortmund sedikit terganggu seiring absennya kapten Emre Can, Nico Schlotterbeck, dan Salih Ozcan akibat cedera. Sementara itu, Fluminense juga tidak akan tampil dengan kekuatan penuh akibat cederanya German Kano dan Facundo Bernal. Pemenang laga ini akan mendapat jalan yang lebih lapang menuju fase gugur.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan