Banyak hal bisa jadi bahan bakar timnas sepak bola putri di SEA Games Thailand 2025. Satu yang pasti, saat inilah peluang terbaik ”Garuda Pertiwi” melaju jauh.
03 Des 2025 10:35 WIB · Olahraga
PSSI
Partisipasi timnas sepak bola putri di SEA Games tak pernah rutin. Prestasi terbaik timnas putri pun baru sebatas menembus semifinal. Namun, segala hal yang tidak berpihak itu merupakan bahan bakar terbaik bagi ”Garuda Pertiwi” untuk menyalakan motivasi tingginya di SEA Games Thailand 2025.
Ketika terakhir kali timnas sepak bola putri Indonesia menembus semifinal SEA Games pada edisi Kuala Lumpur, Malaysia, 2001, Claudia Scheunemann (16) bahkan belum lahir. Di satu sisi, Claudia yang kini menghuni timnas sepak bola putri memang masih berusia muda. Akan tetapi, pemain paling senior pun, Vivi Oktavia Riski (28), hanya sekali merasakan SEA Games. Itu pun terhenti pada fase grup.
Di sisi lain, jarak waktu yang terbentang ternyata begitu jauh sejak pencapaian paling bagus timnas putri di SEA Games. Jarak itu semakin terasa karena Garuda Pertiwi juga tak rutin ikut serta pada pesta olahraga se-Asia Tenggara ini. Kesempatan menyamai atau melebihi pencapaian terbaik itu tak selalu ada.
SEA Games Thailand 2025 akan jadi panggung perdana timnas putri setelah absen pada dua edisi sebelumnya. Ini juga akan menjadi partisipasi keenam Indonesia dari total 13 edisi sepak bola putri dipertandingkan. Claudia dan Vivi akan jadi tumpuan kekuatan Indonesia bersama 21 pemain lain yang dipilih Pelatih Akira Higashiyama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/03/b349f562ce449ee7fc980c0c92237768-Media_4.png)
Pertandingan kontra tuan rumah Thailand pada Kamis (4/12/2025) pukul 18.30 di Stadion Chonburi, Chonburi, akan menandai momen kembalinya Garuda Pertiwi ke panggung SEA Games. Selain bersama Thailand, Indonesia juga tergabung dengan Singapura di Grup A.
Sebulan lalu, ketika timnas putri melanjutkan pemusatan latihan di Yogyakarta, asisten manajer Iwan Setiawan menegaskan soal keyakinan mereka membawa pulang medali emas. ”Kami ingin menciptakan sejarah agar sepak bola putri di Indonesia bisa terus berkembang,” ujarnya.
Keyakinan itu mungkin tampak muluk, tetapi sebenarnya wajar, apalagi timnas putri dilingkupi motivasi tinggi. Mereka punya banyak ”bahan bakar” untuk menyalakan api semangat demi meraih prestasi di Thailand.
Bagi Claudia dan kawan-kawan, SEA Games adalah ajang pembuktian. Ini jadi bahan bakar pertama untuk membuktikan bahwa timnas putri layak dikirim untuk bersaing di pesta olahraga regional. Selama ini, timnas putri tak pernah rutin diikutkan SEA Games meskipun ajang ini tidak mensyaratkan kualifikasi. Artinya, siapa pun sebenarnya bisa ikut serta bergantung pada keputusan negara masing-masing.
Setelah pada edisi Filipina 2005 jadi juru kunci, Indonesia tak dikirim lagi ke SEA Games selama empat edisi beruntun. Padahal, kondisi di Filipina, hanya ada satu grup yang diisi lima tim. Indonesia takluk dari Myanmar, Vietnam, Thailand, dan Filipina yang memang mulai mengembangkan sepak bola putrinya.
Timnas putri debut di SEA Games pada edisi 1997 di Jakarta. Indonesia, yang saat itu tergabung di Grup B bersama Myanmar dan Malaysia, lolos ke semifinal setelah imbang dua kali. Di semifinal, Indonesia kalah dari Thailand 1-2 yang akhirnya keluar sebagai juara.
Pada edisi Kuala Lumpur, Malaysia, 2001, Indonesia kembali ikut serta dan tergabung di Grup B bersama Vietnam dan Singapura. Indonesia mengunci tiket ke semifinal setelah mengalahkan Singapura 1-0. Indonesia terhenti, lagi-lagi, oleh Thailand di semifinal.
Situasi berbeda dialami Indonesia pada SEA Games Vietnam 2003. Indonesia tergabung di Grup A bersama Vietnam, Malaysia, Filipina. Namun, Indonesia gagal ke semifinal meski sama-sama bermain imbang dua kali dan kalah sekali seperti Malaysia dan Filipina. Indonesia berada di posisi paling buncit karena kalah selisih gol dan head to head.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/03/1c9d76ffecde0de856e83de1d11f29c8-_1_TIMNAS_PUTRI_vs_NEPAL_03.jpg)
Bagi timnas putri, SEA Games juga adalah momentum pembuktian lain setelah di Kejuaraan ASEAN 2025 kalah saing dari Vietnam, Thailand, dan Kamboja. Indonesia, yang berstatus sebagai juara Piala AFF sebagai turnamen kelas dua di bawah Kejuaraan ASEAN, hanya bisa mencicipi fase grup.
Timnas putri juga dalam kondisi ”terluka” setelah kalah dari Taiwan, 0-5, dalam laga internasional FIFA di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Sabtu (29/11/2025). Keinginan untuk membasuh luka dan meraih kemenangan akan jadi bahan bakar lainnya di SEA Games.
Di Grup A, Indonesia awalnya tak hanya bergabung dengan Thailand dan Singapura. Ada juga Kamboja yang membuat penghuni grup genap empat tim. Namun, tim putri Kamboja mundur dari SEA Games, seperti tim putra, karena alasan keamanan. Alasan keamanan yang dimaksud NOCC berkaitan dengan kontak senjata antara militer Kamboja dan Thailand yang dimulai sejak Juli 2025.
Berbeda dengan tim putra, berkurangnya peserta tak membuat hasil undian fase grup direvisi. Grup A tetap dengan tiga tim tersisa, begitu pula Grup B yang tetap berisi Vietnam, Myanmar, Filipina, dan Malaysia. Jatah tiap grup untuk ke semifinal pun tetap sama, yakni dua tim untuk juara dan runner up grup.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/21/8e57ba65108c4aa839d475731b8568ce-SEA_Games_Womens_Football.jpg)
Timnas putri memang menghadapi tantangan berat karena segrup dengan tuan rumah yang secara prestasi ataupun pengalaman lebih unggul. Thailand boleh saja sedang dalam kondisi terluka setelah untuk pertama kalinya sejak 1997 gagal menembus Piala Asia 2026. Alhasil, mereka juga dipastikan tidak akan bisa berlaga di Piala Dunia Putri 2027.
Namun, Thailand pernah dua kali tampil di Piala Dunia Putri, yakni pada edisi 2015 dan 2019. Di SEA Games, Thailand merupakan tim tersukses kedua setelah Vietnam. Tim ”Gajah Putih Betina” berhasil meraih lima emas dari perhelatan multicabang dua tahunan ini. Thailand juga rutin mengirim tim ke SEA Games sejak sepak bola putri pertama kali dipertandingkan pada edisi 1985 di Bangkok.
Kendati demikian, Thailand seharusnya hanya menjadi satu-satunya tantangan berat timnas putri di fase grup. Garuda Pertiwi memang pantang merasa inferior ketika menghadapi Thailand dan tetap harus berjuang meraih poin penuh, tetapi peluang juga terbuka dengan memaksimalkan laga kontra Singapura.
Di atas kertas, Indonesia unggul atas Singapura. Pada pertemuan terakhir di Piala AFF 2024, timnas putri menang 3-0. Hasil ini melengkapi lima pertemuan sebelumnya yang juga selalu dimenangi Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/28/525bf772-17f4-4067-82c5-0888d235ed16_jpg.jpg)
Artinya, saat ini adalah kesempatan terbesar Indonesia untuk bisa melaju jauh di SEA Games, minimal menyamai pencapaian menembus semifinal. Apalagi, timnas putri ditargetkan Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk merebut medali perunggu.
”Dari hasil evaluasi tim Kemenpora, kemarin kalau tidak salah, PSSI mengusulkan tim sepak bola putri (target) perunggu,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, yang juga Ketua Umum PSSI, dalam konferensi pers di Gedung Kemenpora, Jakarta, Jumat (21/11/2025).
Target dari Kemenpora memang perunggu. Namun, segala aspek yang seolah tidak berpihak kepada timnas putri dan para pemainnya, termasuk ketiadaan kompetisi rutin, menjadi bahan bakar besar untuk mewujudkan impian menciptakan sejarah, meraih prestasi yang lebih tinggi dari target.
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait dengan penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji