Nyepi dan Idul Fitri Berdekatan, Wapres Sebut Keberagaman adalah Kekuatan

Wapres Gibran menyatakan, keberagaman merupakan kekuatan bangsa Indonesia. Perbedaan yang ada justru dinilai mendewasakan dan menyatukan masyarakat.

28 Mar 2025 15:56 WIB · Nusantara

Oleh Kristi Dwi Utami

SLEMAN, KOMPAS — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menghadiri upacara Tawur Agung Kesanga di Kompleks Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (28/3/2025). Dalam kegiatan tersebut, Wapres berpesan agar toleransi antarumat beragama selalu dijaga karena keberagaman merupakan kekuatan Indonesia.

Wapres yang hadir bersama sejumlah menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih mengaku senang bisa hadir di Prambanan yang disebutnya asri dan indah. Candi tersebut bersebelahan dengan Candi Sewu yang merupakan candi Buddha.

”Letaknya bersebelahan dengan Candi Sewu sebagai salah satu simbol toleransi antarumat beragama. Candi Prambanan ini adalah aset bangsa yang diakui oleh UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB). Oleh sebab itu, harus kita jaga dan rawat dengan baik,” kata Wapres dalam sambutannya.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berpidato saat menghadiri upacara Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (28/3/2025). Menurut Gibran, hari raya Nyepi yang berdekatan dengan Idul Fitri merupakan momentum untuk memperkuat semangat toleransi dan kebersamaan antarumat beragama. Tawur Agung yang digelar sebelum hari Raya Nyepi tersebut merupakan ritual penyucian untuk menyeimbangkan unsur tanah, air, api, dan udara, sekaligus menjadi sarana refleksi diri bagi umat Hindu sebelum memasuki Catur Brata Penyepian.

Wapres mengatakan, Indonesia dianugerahi kekayaan alam dan keberagaman, baik suku, agama, adat istiadat, maupun budaya. Pada tahun ini, hari raya Nyepi Saka 1947 berdekatan dengan hari raya Idul Fitri 1446 Hijriah. Wapres pun berpesan agar toleransi dan saling menghormati perbedaan terus diperkuat.

”Keberagamaan adalah kekuatan kita, perbedaan itu mendewasakan kita, perbedaan itu menyatukan kita. Kerukunan dan kesatuan harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres berterima kasih kepada seluruh umat Hindu yang dinilai terus konisten menjaga alam, toleransi, persatuan, dan kerukunan di Indonesia. Wapres juga mengajak umat Hindu untuk turut aktif mendukung dan mengawal program prioritas Presiden Prabowo Subianto supaya bisa berjalan dan bermanfaat maksimal bagi seluruh masyarakat.

”Selamat hari suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947. Semoga kedamaian, kebahagiaan, dan keberkahan selalu menyertai,” ucap Wapres.

Umat Hindu mengikuti rangkaian upacara Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (28/3/2025). Tawur Agung yang digelar sebelum hari Raya Nyepi tersebut merupakan ritual penyucian untuk menyeimbangkan unsur tanah, air, api, dan udara, sekaligus menjadi sarana refleksi diri bagi umat Hindu sebelum memasuki Catur Brata Penyepian.

Ketua Umum Panitia Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi Saka 1947 Gede Narayana mengatakan, ada sejumlah kegiatan dalam rangka menyambut Nyepi. Sebelum Tawur Agung Kesanga yang dilakukan untuk kesejateraan dan keselarasan alam, umat Hindu melakukan Melasti atau menyucikan diri.

”Hindu menganut Tri Hita Karana, yakni menjaga hubungan, tidak hanya kepada Tuhan, tetapi juga kepada manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, di setiap perayaan Nyepi, kami melakukan penyucian atau pembersihan jasmani, rohani, dan lingkungan,” kata Gede Narayana.

Di luar acara ritual, panitia perayaan Nyepi di seluruh Indonesia disebut Gede Narayana melakukan berbagai kegiatan yang merujuk pada tema besar perayaan Nyepi, yaitu ”Manawa Sewa, Madawa Sewa” yang berarti melayani sesama sama dengan melayani Tuhan. Kegiatan-kegitan nonritual tersebut, yakni menanam pohon, mengadakan seminar nasional untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, dan melakukan Boga Sevanam atau pemberian makanan untuk sesama.

”Di seluruh Indonesia kita melakukan Boga Sevanam ini di 29 provinsi di 100 lokasi. Lalu, ada juga Saka Yoga yang melibatkan berbagai komponen,” ujar Gede Narayana.

Umat Hindu mengikuti rangkaian upacara Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (28/3/2025). Tawur Agung yang digelar sebelum hari Raya Nyepi tersebut merupakan ritual penyucian untuk menyeimbangkan unsur tanah, air, api, dan udara, sekaligus menjadi sarana refleksi diri bagi umat Hindu sebelum memasuki Catur Brata Penyepian.

Gede Narayana menyebut, Dharma Santi bakal menjadi puncak perayaan hari raya Nyepi. Dalam kegiatan tersebut, umat Hindu akan melakukan upaksama atau bermaaf-maafan. Acara itu untuk menjalin dan mempererat tali silaturahmi antarumat.

Sementara itu, Ketua Panitia Nyepi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Saka 1947/2025 Nyoman Gunarsa mengatakan, bakal diadakan parade ogoh-ogoh di akhir upacara Tawur Agung Kesanga. Ada delapan ogoh-ogoh dan dua gunungan yang diparadekan.

”Ini bagian dari memberi tontonan dan tuntunan terhadap nilai-nilai yang berada di dalam sosok ogoh-ogoh yang kami buat,” katanya.

Quote

Keberagamaan adalah kekuatan kita, perbedaan itu mendewasakan kita, perbedaan itu menyatukan kita. Kerukunan dan kesatuan harus kita jaga bersama.

Umat Hindu mengikuti rangkaian upacara Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (28/3/2025). Tawur Agung yang digelar sebelum hari Raya Nyepi tersebut merupakan ritual penyucian untuk menyeimbangkan unsur tanah, air, api, dan udara, sekaligus menjadi sarana refleksi diri bagi umat Hindu sebelum memasuki Catur Brata Penyepian.

Putu Devi (27), umat Hindu asal Bali, menuturkan, dirinya terkesan dengan upacara Tawur Agung Kesanga di Prambanan. Menurut dia, Nyepi merupakan momentum refleksi diri.

”Umat Hindu diharapkan mampu memberikan pelayanan yang tulus ikhlas dalam setiap aktivitasnya. Saya berharap, ke depan toleransi bukan lagi menjadi sesuatu yang selalu diucapkan, melainkan langsung dilakukan,” ucap Devi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra