Ocalan, Pemimpin Kemerdekaan Kurdi, Serukan Letakkan Senjata

Abdullah Ocalan memimpin perjuangan kemerdekaan Kurdi sejak tahun 1984. Kini dia menyerukan untuk meletakkan senjata dan membubarkan organisasi PKK.

28 Feb 2025 10:35 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

DIRYABAKIR, JUMAT — Ribuan orang turun ke jalan bersukacita dan menangis bahagia di kota Diryabakir, yang berpenduduk mayoritas etnis Kurdi di tenggara Turki, Kamis (27/2/2025). Mereka menonton dan mendengar rekaman pidato berisi kutipan perintah pemimpin kelompok separatis Partai Pekerja Kurdi (PKK), Abdullah Ocalan (76). Dalam rekaman yang ditayangkan dari kota Istanbul, Ocalan yang masih berada di penjara pengasingan di Pulau Imrali, Provinsi Bursah, memerintahkan seluruh pejuang Kurdi meletakkan senjata dan membubarkan PKK.

Ocalan bertahun-tahun memimpin perjuangan etnis Kurdi untuk membentuk negara tersendiri yang terpisah dari Turki.

Kantor berita Associated Press, Jumat (28/2/2025), melaporkan, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyebut perkembangan di Turki itu sebagai secercah harapan perdamaian. Pemberontakan bersenjata Kurdi pecah di Turki sejak tahun 1984 untuk mendirikan negara Kurdi yang mengalami tekanan dari Pemerintah Turki.

”Semua kelompok perjuangan harus meletakkan senjata. PKK harus membubarkan diri. Saya bertanggung jawab penuh atas keputusan bersejarah ini,” kata Ocalan dalam pernyataan yang ditulis dari dalam penjara pengasingan tempatnya ditahan sejak tahun 1999.

Ocalan ditangkap intelijen Turki dengan bantuan Amerika Serikat di Kenya, Nairobi, tahun 1999, lalu dipenjarakan di Turki. Pernyataan untuk meletakkan senjata tersebut dibacakan anggota parlemen Turki dari Partai DEM yang pro-Kurdi.

Syrian Kurds wave flags bearing pictures of the founder of the Kurdistan Workers' Party (PKK) Abdullah Ocalan, as they gather in the Kurdish-majority city of Qamishli in northeastern Syria to listen to a message from the jailed leader on February 27, 2025. Ocalan issued a historic call on February 27 for his Kurdish militant force to disband and his fighters to lay down their arms. (Photo by Delil SOULEIMAN / AFP)

Maklumat Ocalan disampaikan empat bulan setelah Pemerintah Turki mengajukan usulan perdamaian kepada Ocalan yang lebih dari 40 tahun memimpin perlawanan. Ocalan menjadi salah satu pendiri PKK pada 1978 dan organisasi tersebut sempat berpangkalan di Suriah pada 1990-an.

Perang antara pemerintah pusat Turki melawan pemberontakan Kurdi menelan korban puluhan ribu nyawa melayang. Etnis Kurdi hidup di Turki, Iran, Irak, dan Suriah.

”Hari ini hari yang suci. Hari yang diberkati. Kami merindukan perdamaian dan kebebasan,” kata Emine Atact (45) kepada wartawan AFP di Diryabakir. Ia bersama sekurangnya 3.000 orang yang berkumpul di lapangan kota untuk mendengar pidato mengutip maklumat Ocalan.

Warga lainnya, Ferha Akbuyuk (65), memuji pesan Ocalan sebagai langkah menuju damai dan persaudaraan antara Kurdi dan Turki. ”Ini pesan kemanusiaan, hak asasi manusia, penegakan hukum dan kesetaraan,” kata Akbuyuk.

Meski demikian, ada pula pesimisme warga. Sukru Erdogan (52) mengatakan, tidak ada pesan tentang federalisme atau hak-hak budaya Kurdi. ”Saya kecewa,” ujarnya.

Meski sudah dipenjara lebih dari 25 tahun, Ocalan masih memiliki pengaruh besar di PKK. Analis memperkirakan, seruan meletakkan senjata mungkin didengar sebagian besar anggota PKK. Walau demikian, ada faksi-faksi yang tetap memilih jalur perlawanan bersenjata.

Warga Kurdi Irak berkumpul di Taman Pembebasan di Sulaimaniyah wilayah Otonomi Kurdi, Irak, untuk mendengarkan maklukmat Abdullah Ocalan, Kamis (27/2/2025).

Maklumat Ocalan disampaikan menyambut inisiatif perdamaian yang disampaikan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Oktober 2024. Usulan itu digagas oleh Devlet Bacheli, politisi ekstrem kanan Turki yang mengusulkan amnesti bagi Ocalan jika mau menghentikan jalan kekerasan dan membubarkan organisasinya yang dikategorikan teroris oleh Pemerintah Turki.

Usulan perdamaian Turki-Kurdi muncul di saat Erdogan membutuhkan dukungan Partai DEM di parlemen untuk memberlakukan konstitusi baru yang memungkinkan Erdogan memperpanjang kekuasaan.

Konstitusi Turki saat ini tidak mengizinkan Erdogan yang sudah berkuasa sejak tahun 2003 untuk terus memimpin Turki, kecuali dapat mengadakan pemilu dipercepat demi mengubah konstitusi. Untuk itu, dia membutuhkan dukungan suara Partai DEM.

Partai DEM sejak lama menuntut demokratisasi, hak-hak bagi warga Kurdi, dan perbaikan kondisi pemenjaraan Ocalan. Turki tidak mengatakan apa yang sudah dijanjikan bagi kubu Kurdi sebagai bagian dari upaya bina damai tersebut.

Irak melalui pernyataan Kementerian Luar Negeri menyambut seruan Ocalan untuk meletakkan senjata. Mereka menyebut langkah itu ”positif dan penting” untuk mencapai stabilitas di kawasan.

Demikian pula dengan pemimpin Pasukan Demokratik Suriah, Mazloum Abdi, yang didominasi Kurdi. ”Kami melihat inisiatif ini cahaya positif karena ini tentang perdamaian di sini,” katanya.

Pemimpin Wilayah Kurdistan Turki Nechirvan Barzani memuji maklumat Ocalan. Dalam unggahan di X, Barzani mendesak para pemimpin PKK menghormati dan segera menjalankan perintah tersebut demi proses perdamaian.

Kementerian Luar Negeri Jerman turut menyambut baik perkembangan tersebut yang diharapkan dapat mengakhiri separatisme yang sudah berlangsung puluhan tahun. Jerman menampung banyak imigran Turki, termasuk dari etnis Kurdi yang kerap kali terlibat dalam bentrokan antara kubu Turki dan Kurdi.

Warga di kota Diryabakir, Turki, menyambut gembira pembacaan maklumat pemimpin besar Kurdi, Abdullah Ocalan, untuk meletakan senjata dan membubarkan Partai Pekerja Kurdi (PKK), Kamis (27/2/2025). Seruan itu dianggap pintu pembuka perdamaian Tukri dan separatis Kurdi.

Para pengamat menilai, maklumat Ocalan adalah terobosan besar dalam upaya perdamaian di Turki. ”Perintah Ocalan agar PKK meletakkan senjata dan membubarkan diri adalah langkah besar tidak saja bagi Turki, tetapi juga bagi kawasan Timur Tengah,” kata analis senior Verisk Mapplecroft, Hamish Kinnear.

Pertanyaan berikutnya adalah seberapa jauh pertanyaan tersebut diterima para pemimpin militan Kurdi di Irak utara.

Sejarawan Perancis, Boris James, yang ahli dalam kajian Kurdi mengatakan, reaksi para pejuang bisa beragam. ”Para pemimpin PKK mungkin bisa menerima. Akan tetapi, para pejuang di lapangan bisa berbeda sikapnya,” kata James.

Terlebih adanya pasukan Kurdi yang didukung AS dalam Pasukan Pertahanan Suriah (SDF) yang bertempur melawan Pemerintah Suriah dan melawan milisi dukungan Turki. Kinnear mengatakan, sikap para pemimpin PKK di Turki akan menjadi faktor penentu apakah jalan menuju perdamaian akan berlanjut.

Belum ada sikap resmi Pemerintah Turki. Meski demikian, Efkan Ala, pejabat tinggi partai utama pendukung Presiden Erdogan menyatakan optimistis akan dicapai perdamaian. ”Jika organisasi teroris ini memerintahkan meletakkan senjata dan membubarkan diri, Turki akan bebas dari salah satu masalah yang membelenggu kami,” katanya kepada kantor berita Turki, Anadolu.

Sejak Ocalan dipenjara tahun 1999, berulang kali digelar perundingan damai tanpa mencapai hasil yang diharapkan. Setelah mendukung pendekatan terhadap Ocalan pada Oktober 2024, Erdogan kemudian tidak banyak berkomentar terhadap upaya perundingan damai Turki-Kurdi.

Pemerintahan Erdogan juga sudah menangkap ratusan tokoh oposisi, aktivis, wartawan, dan mencopot wali kota dari kubu Partai DEM dengan tuduhan terkait dengan jaringan teroris (Kurdi).

Meski terus menekan kelompok Kurdi, banyak pihak di Turki berharap maklumat Ocalan akan memberikan konsesi bagi etnis Kurdi yang jumlahnya mencapai 20 persen dari 85 juta penduduk Turki. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .