Giliran Kurdi Jadi Sasaran Setelah Assad Jatuh

Milisi Kurdi kini jadi sasaran milisi kubu pemenang perang saudara di Suriah. Baku tembak terus berlangsung di Manbij dan Deir Az-zour.

12 Des 2024 16:56 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

DAMASKUS, KAMIS — Nasib orang-orang Kurdi di Suriah tetap tidak menentu meski kekuasaan Presiden Suriah Bashar al-Assad telah berakhir. Dalam laporan Aljazeera dan Associated Press pada Kamis (12/12/2024), diulas soal teka-teki masa depan Kurdi di Suriah. Sorotannya, antara lain, ialah serangan sejumlah regu milisi Tentara Nasional Suriah (SNA) terhadap regu Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di Manbij.

Baku tembak dilaporkan terus terjadi sampai Kamis. Selain milisi SDF, korban baku tembak termasuk warga sipil di kota yang berada 81 kilometer di timur laut Aleppo itu. Selain SNA, serangan juga dilaporkan dilancarkan regu-regu milisi sokongan Turki. Kelompok baru yang menguasai Suriah juga bertahun-tahun berperang dengan Turki.

Wakil Juru Bicara Departemen Pertahanan Amerika Serikat Sabrina Singh mengatakan, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin telah berkomunikasi dengan Menhan Turki Yasar Guler. Mereka membahas soal orang Kurdi di perbatasan Turki-Suriah.

”Turki jelas menghadapi ancaman dari dalam Suriah dan mereka berhak melindungi diri. Karena itu, kami terus berdialog, tidak hanya dengan Turki, tetapi juga dengan pemangku kepentingan di kawasan,” ujarnya pada Rabu di Washington DC.

Regu SDF juga baku tembak dengan milisi sekutu Hayat Tahrir al-Sham di Deir az-zour. SDF mengendalikan Deir az-Zour beberapa hari setelah kekuasaan Assad berakhir pada 8 Desember 2024.

Pada Senin (9/12/2024), SDF juga diketahui menembak pesawat nirawak MD-9 milik Amerika Serikat. Tidak diketahui apa penyebab SDF menembak aset militer milik sekutu utamanya itu.

Singh membenarkan ada MQ-9 AS ditembak di perbatasan Suriah-Turki. Akan tetapi, ia menolak menyebut siapa penembak pesawat itu.

Kelompok bersenjata

SDF merupakan salah satu kelompok milisi bersenjata Kurdi di Suriah. AS menjadi sekutu utamanya.

Sementara SNA dulu dikenal sebagai Pasukan Pembebasan Suriah, FSA. Pasukan awal FSA terdiri dari prajurit dan perwira Suriah yang desersi. Awalnya disokong Arab Saudi dan sekutunya, kini SNA disokong pula oleh Turki.

Anti-government fighters inspect a tank, left behind by fighters from the Syrian Democratic Forces (SDF), in the northern Syrian town of Tal Rifaat on December 2, 2024. A US-backed, Kurdish-led force in Syria said on December 2, it is seeking to evacuate Kurds around Aleppo to safe areas under its control, after pro-Turkey factions seized a town where tens of thousands of Kurds were living. (Photo by Aref TAMMAWI / AFP)

Seperti SDF, SNA juga cenderung sekuler. Walakin, SNA tidak seliberal SDF yang bisa menerima perempuan menjadi perwira.

SNA bergabung dengan faksi pimpinan HTS dalam serangan kilat yang meruntuhkan kekuasaan Assad. Sebelum menjadi HTS, kelompok itu dikenal sebagai Jabhat Al-Nusra yang merupakan cabang Al Qaeda di Suriah.

Pemimpin HTS, Ahmed al-Sharaa alias Abu Mohammed al-Golani, mengatakan, Suriah baru terbuka untuk semua golongan. Sementara sejumlah petinggi SNA menyatakan siap menerima Kurdi di Suriah selepas Assad. Syaratnya, Kurdi meninggalkan hasrat memisahkan wilayah mereka dari Suriah.

Meski melawan pemerintahan Assad, SNA tidak mau Suriah terpecah. Sementara Kurdi, sejak Perang Dunia I berakhir, berusaha membentuk negara sendiri. Kini, hingga 30 juta orang Kurdi terpencar di Iran, Irak, Suriah, dan Turki.

SDF, juga milisi lain bentukan Kurdi, berulang kali menjadi sasaran tentara Turki dan milisi Suriah sokongan Turki selama perang saudara Suriah berkobar. Di sisi lain, SDF dan aneka pasukan Kurdi jadi mitra AS memerangi kelompok teror di Suriah dan Irak.

AS menyerang dari udara, SDF memburu milisi Al Qaeda dan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di darat. Kombinasi serangan itu menjadi kunci NIIS bisa dikalahkan beberapa tahun lalu. Kini, menurut para petinggi SNA di Suriah timur, NIIS kembali menguat. (AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H