Dominasi Thunder dan ironi Pacers tersaji di gim tujuh. Thunder memberi trofi juara pertama ke kota Oklahoma saat Pacers kehilangan gelar dan aset terbaiknya.
23 Jun 2025 13:47 WIB · Olahraga
OKLAHOMA, MINGGU — Oklahoma City Thunder sukses meruntuhkan mitos NBA. Shai Gilgeous-Alexander dan rekan-rekan membuktikan, talenta lebih berharga dari pengalaman. Bersama skuad termuda dan paling berbakat di liga, Thunder melengkapi status tim terbaik di musim reguler dengan trofi juara di akhir musim.
Thunder keluar sebagai juara NBA musim 2024-2025 setelah mengalahkan Indiana Pacers dalam gim tujuh final, 103-91, di Stadion Paycom Center, Senin (23/6/2025) pagi WIB. Di depan belasan ribu pendukungnya, mereka meraih trofi untuk pertama kali sejak klub berpindah kota dari Seattle ke Oklahoma pada 2008.
”Rasanya tidak nyata. Begitu banyak jam, momen, emosi, dan malam yang tidak dapat dipercaya,” kata Shai yang terpilih sebagai Most Valuable Player (MVP) Final, dengan nada bergetar. ”Sungguh gila mengetahui kami semua ada di sini. Namun, kami bekerja keras untuk itu dan pantas mendapatkannya,” lanjutnya.
Tidak ada tim yang lebih pantas juara dibandingkan dengan Thunder. Tim asuhan pelatih Mark Daigneault itu sudah menunjukkan potensi juara sejak musim reguler saat menjadi tim dengan rekor kemenangan terbaik (68-14). Standar performa itu terus menanjak dari babak awal playoff hingga pertandingan penentu di gim tujuh final tadi.
Thunder sempat diragukan sebelum playoff karena skuad yang sangat muda dan minim pengalaman. Mereka memulai musim dengan rerata usia skuad 24,1 tahun, baru menang dalam satu seri playoff sejak 2016. Seperti diketahui, playoff yang merupakan babak eliminasi selalu dikaitkan dengan kematangan dan mentalitas juara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/23/889e125272d0fd5529150734e227961c-2025_NBA_Finals_Game_Seven.jpeg)
Namun, Thunder bisa menutup defisit pengalaman dengan kualitas skuad istimewa. Trio bintang muda, Shai (26), Chet Holmgren (23), dan Jalen William (24) terlalu dominan untuk dihentikan tim-tim lawan. Dukungan pemain spesialis bertahan, Luguentz Dort dan Alex Caruso, membuat Thunder lebih sempurna.
Thunder menutup musim sebagai juara dengan skuad termuda kedua sepanjang sejarah NBA, 25,6 tahun. Hanya skuad Portland Trail Blazers (25,56) pada musim 1996-1997 yang lebih muda. ”Usia hanya angka. Pengorbanan dan kedewasaan adalah hal utama. Mereka memiliki karakter itu (untuk juara),” kata Manajer Umum Thunder Sam Presti.
Shai adalah cerminan utama dari talenta besar skuad Thunder. Pemain tim nasional Kanada itu berhasil meraih gelar MVP Final, MVP musim reguler, dan pencetak skor terbanyak sekaligus dalam satu musim. Sebelumnya, hanya tiga pemain yang bisa meraih itu, yaitu Kareem Abdul-Jabbar, Michael Jordan, dan Shaquille O’Neal.
Shai selalu menunjukkan karakter sebagai pemimpin dan mesin skor utama tim sepanjang playoff. Dia menjadi pahlawan kemenangan di setiap seri, mulai dari Memphis Grizzlies (4-0), Minnesota Timberwolves (4-1), dan Denver Nuggets (4-3), hingga Pacers (4-3). Dia mencatat rerata 30 poin, 6,3 asis, dan 5,4 rebound di playoff.
Laga gim ketujuh mewakili dominasi Thunder dan ironi Pacers. Thunder tidak terbendung bersama trio Shai (29 poin, 12 asis), Jalen Williams (20 poin), dan Chet Holmgren (18 poin, 5 blok). Sementara itu, tim tamu bernasib sial sejak awal setelah guard andalan Tyrese Haliburton mengalami cedera horor achilles di kuarter pertama.
Skuad Thunder sempat kewalahan di paruh pertama, seiring dengan para pemain Pacers yang termotivasi lebih seusai Haliburton cedera. Untungnya, Diagneault berhasil membangunkan tim asuhannya di ruang ganti. Sang pelatih berkata, mereka punya segalanya untuk juara dan tinggal menunjukkan itu dalam 24 menit terakhir.
Benar saja, ketika berada dalam versi terbaik, Thunder tidak tersentuh. Dari ketinggalan 47-48 di paruh pertama, tuan rumah membalikkan keadaan di kuarter ketiga. Mereka berbalik unggul sembilan poin (65-56) hanya dalam kurang dari lima menit. Pelatih Pacers Rick Carlisle sampai terpaksa mengambil dua kali timeout.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/23/85abc50d5a56fe7f08f281b95719ca91-2025_NBA_Finals_Game_Seven_3_.jpeg)
Serangan Thunder tidak terlalu spesial di laga tadi, tetapi daya juang dan pertahanan mereka sulit ditandingi. Mereka berhasil merebut offensive rebound dan memaksa turnover lawan berkali-kali. Dua faktor tersebut membuat percobaan tembakan Thunder unggul jauh dibandingkan dengan Pacers, 87-70.
Dort dan Caruso, masing-masing tiga steal, menjadi pelindung utama pertahanan Thunder. Saking agresif pertahanan tuan rumah, Pacers sempat tertahan di 68 poin selama lima menit lebih dari pengujung kuarter ketiga hingga awal kuarter keempat. Di rentang itu, Thunder bisa mencetak 13 poin tambahan dan unggul 22 poin.
Daigneault berkata, timnya tidak punya pengalaman juara, tetapi memiliki karakter pemenang. ”Mereka bersikap dan berkompetisi seperti seorang juara. Mereka saling mendukung keberhasilan satu sama lain, yang mana itu jarang dalam olahraga profesional. Saya sudah mengatakan berulang kali, ini bukan tim biasa dan sekarang kami menjadi juara,” ujarnya.
Dua pemain cadangan Pacers, TJ McConnell (16 poin) dan Bennedict Mathurin (24 poin) tampil apik untuk mengisi kekosongan Haliburton. Namun, jiwa kepemimpinan Haliburton tetap tidak tergantikan. ”Hati kami hancur melihat apa yang terjadi dengan Tyrese. Dia adalah bagian penting yang membuat grup ini percaya untuk menang,” ujar Carlisle. (AP)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .