Pelaku kesenian ondel-ondel terpaksa mengamen di jalanan demi bertahan hidup di saat panggilan untuk tampil di acara kebudayaan Betawi semakin langka.
24 Jun 2025 07:00 WIB · Metropolitan
Seni tradisional Betawi bertransformasi seiring perkembangan zaman. Ondel-ondel, misalnya, menjadi sarana mengais rezeki dengan kaleng bekas yang berdering di jalanan. Agar identitas budaya ini tetap terjaga dan tidak kehilangan maknanya, butuh pelestarian yang tepat serta dukungan bagi seniman.
Hari belum terlalu malam saat Kamal (17) berdiri di tengah keramaian jalanan Pondok Ranji, Tangerang Selatan, Banten. Wajah merah menyala yang khas pada ondel-ondel pria menutupi wajah aslinya.
Dengan ondel-ondel raksasa yang membalut tubuhnya, Kamal menjadi pusat perhatian di tengah keramaian. Meski usianya masih muda, tubuh besar dan garang yang ia bawa membuatnya tampak seperti makhluk raksasa, menguasai ruang di sekitarnya.
Selagi Kamal berjalan perlahan, berputar, menari, dan mengangguk seolah-olah ondel-ondel itu hidup, di sampingnya, Gilang (17) mendorong speaker mini sambil memegang toples plastik bekas permen.
Di balik ondel-ondel yang tampak ceria, keringat mengucur deras dari tubuh Kamal saat ia membuka kostumnya. Kostum berbahan kain tebal itu terasa panas, berat, dan sempit.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/23/17e47a26-aa2c-4ee3-9fc2-a267e6e75641_png.png)
Meski demikian, Kamal tetap semangat melanjutkan pertunjukannya, karena bagi dirinya dan Gilang, ini lebih dari sekadar pekerjaan. Ini adalah cara mereka bertahan hidup dan menghidupi keluarga.
Kamal dan Gilang adalah bagian dari Sanggar Ilham Betawi, komunitas seni yang berpusat di Jakarta Selatan. Di sana, mereka belajar menghidupkan seni dan tradisi Betawi.
Di Sanggar Ilham Betawi, Kamal dan Gilang tidak hanya berfokus pada ondel-ondel dan orkes. Mereka juga aktif dalam kegiatan seni lainnya, seperti bermain gambang kromong, yang sering membawa mereka tampil di berbagai acara.
Namun, Kamal mengakui bahwa peluang tampil di acara-acara kini semakin langka. Karena itu, ia mulai mengikuti jejak para seniornya untuk mengamen menggunakan ondel-ondel.
”Kadang-kadang kami tampil di acara-acara. Sebenarnya itu lebih membuat kami bangga. Tapi, sekarang sudah jarang tampil karena jarang ada yang mengundang,” ujar Kamal, Senin (9/6/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/18/3c58ae1265da3096bb0f1c32802b025e-WhatsApp_Image_2025_06_17_at_21.50.34.jpeg)
Setiap hari, Kamal dan Gilang menyewa ondel-ondel dengan biaya Rp 50.000. Mereka bergantian mengenakan kostum ondel-ondel, berjalan kaki dari Jakarta Selatan menuju berbagai daerah di Jakarta dan Tangerang Selatan.
Namun, pendapatan mereka sangat tidak menentu, bahkan sering kali hanya cukup untuk menutupi biaya sewa ondel-ondel. Mereka juga sering kali diusir oleh petugas satpam atau keamanan.
”Pada hari yang ramai, kami bisa mendapatkan hingga Rp 200.000. Tapi, ada kalanya kami hanya mendapat sedikit, bahkan tidak cukup untuk menutupi biaya sewa ondel-ondel dan speaker,” ujar Kamal.
Di tempat lain, Alif (40) dan rekan-rekannya di Kampung Ondel-Ondel Kramat, Kelurahan Kramat, Jakarta Pusat, juga kerap mengamen dengan ondel-ondel hingga ke daerah Tangerang Selatan, Cilegon, dan Pandeglang di Banten demi sesuap nasi.
Saat ditemui, ia sedang menyelesaikan pembuatan rangka tubuh ondel-ondel. Di kampung yang dipenuhi dengan ondel-ondel dan sanggar seni ini, Alif melanjutkan warisan almarhum ayahnya, Abdul Hamid bin Mas’ud, yang mendirikan Sanggar Seni Betawi Mamit Cs sejak 1984. ”Kalau bukan anak atau cucu, siapa lagi yang nerusin budaya Betawi ini,” ujar Alif, Senin (9/6/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/09/4c17c9a7-597a-30cb-858d-621318bc8b35_heic.jpg)
Sudah hampir sepuluh tahun, Alif menghidupi dirinya dengan membuat dan tampil ondel-ondel. Dari satu acara ke acara lain, ia tampil mengisi berbagai acara, mulai dari pernikahan, khitanan, hingga undangan pemerintah.
Bagi Alif, seni ondel-ondel bukan sekadar pekerjaan, melainkan juga pengabdian untuk melestarikan warisan budaya Betawi.
Kampung Ondel-ondel Kramat, yang digagas sejak 2018 ini, bertujuan menjadi ruang berkesenian yang layak, mirip seperti Setu Babakan. Di tempat ini, Alif dan para seniman Betawi berharap seni ondel-ondel tidak hanya menjadi pajangan atau bahan pamer, tetapi juga tempat untuk berkarya dan melestarikan budaya Betawi.
Terkait banyaknya ondel-ondel mengamen, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, masih membahas peraturan gubernur (pergub) terkait larangan penggunaan ondel-ondel untuk mengamen.
Menurut Pramono, ikon budaya Betawi tersebut hanya akan diizinkan untuk digunakan dalam acara-acara tertentu, bukan untuk mengamen di jalanan. Penertiban ondel-ondel yang mengamen akan dilakukan secara bertahap.
”Kami sedang menggodok regulasinya. Saya akan mengeluarkan pergub yang mengatur ondel-ondel sebagai salah satu budaya utama Betawi, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024, yang memang hanya memperbolehkan penggunaannya untuk acara-acara resmi, bukan untuk mengamen,” kata Pramono.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/29/202f9309-f619-4054-b5ed-0c8704d76cc9_jpg.jpg)
Budayawan Betawi dari Komunitas Bambu, JJ Rizal, mempertanyakan sikap pemerintah yang seakan-akan merasa risih dengan keberadaan ondel-ondel yang masuk keluar kampung. Padahal, dalam sejarah dan tradisinya, ondel-ondel memang sudah lama berkeliling masuk keluar kampung.
”Ondel-ondel ini adalah kesenian jalanan. Tugasnya adalah menolak bala. Karena itu, ondel-ondel berkeliling, hilir mudik, masuk keluar kampung dan jalanan yang dianggap perlu disatroni agar terhindar dari bala,” ujar Rizal.
Ondel-ondel merupakan simbol keberagaman atau pluralisme. Ini karena budaya Tionghoa dan Bali turut memperkaya makna dari ondel-ondel itu sendiri.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al Hamasy, Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany, Rhama Purna JatiEditor:
Rini Kustiasih, Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari