OPEC menambah produksi minyak sebesar 547.000 barel per hari pada September 2025. Penambahan produksi sudah terjadi sejak April.
04 Agt 2025 11:31 WIB · Internasional
LONDON, SENIN — Sejumlah anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak beserta mitra atau OPEC+ sepakat untuk menggenjot produk minyak dunia. Keputusan ini dapat menurunkan harga minyak meski ancaman Amerika Serikat terhadap minyak Rusia dan Iran membayangi.
Delapan anggota OPEC+ mengadakan pertemuan virtual, Minggu (3/8/2025) waktu setempat. OPEC+ terdiri dari Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.
Dalam pernyataan seusai pertemuan, OPEC+ mengumumkan akan menambah produksi minyak sebesar 547.000 barel per hari (bph) pada September 2025. Keputusan ini berdasarkan pertimbangan prospek ekonomi global yang stabil dan fundamental pasar yang sehat saat ini, sebagaimana tecermin dari rendahnya stok minyak.
”Penghapusan penyesuaian produksi sukarela tambahan dapat ditunda atau dibatalkan sesuai dengan perkembangan kondisi pasar. Fleksibilitas ini akan memungkinkan grup untuk terus mendukung stabilitas pasar minyak,” bunyi pernyataan OPEC+.
Delapan negara OPEC+ akan mengadakan pertemuan bulanan untuk meninjau kondisi pasar secara berkala. Jadwal pertemuan berikutnya adalah 7 September 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/03/11/FILES-SAUDI-ENERGY_88053771_1583943905_jpg.jpg)
Sejak April 2025, delapan negara OPEC+ telah menambah produksi sebesar 138.000 bph. Setelah itu, mereka menggenjot produksi sebesar 411.000 bph pada Mei, Juni, dan Juli 2025. Pada Agustus 2025, produksi ditambah menjadi 548.000 bph. Upaya ini merupakan bagian dari rencana pemulihan produksi minyak 2,2 juta bph secara bertahap.
Beberapa tahun terakhir, OPEC+ memangkas produksi dengan sukarela untuk menopang harga minyak. OPEC+ berencana memulihkan seluruh produksi hingga September 2026. Dengan melihat langkah delapan negara itu, pemulihan bisa selesai lebih cepat dari jadwal.
”OPEC+ telah melewati ujian pertama, yaitu mencabut pembatasan produksi 2,2 juta barel sejak April tanpa membuat harga anjlok. Tugas selanjutnya akan lebih sulit: memutuskan apakah dan kapan untuk mencabut pembatasan dari sisa 1,66 juta barel sambil tetap menavigasi ketegangan geopolitik dan menjaga kohesi,” kata Jorge Leon, analis di Rystad Energy.
Pengumuman OPEC+ tidak mengagetkan. Menurut pengamat, langkah delapan negara OPEC+ bertujuan untuk mendapatkan kembali pangsa pasar. Ketika produksi meningkat, harga minyak dan bensin biasanya akan turun. Saat ini, harga minyak masih tinggi.
Minyak Brent yang menjadi patokan global ditutup dengan harga sekitar 70 dollar AS per barel pada Jumat (1/8/2025). Angka ini naik dari level terendah pada 2025, yakni 58 dollar AS per barel pada April.
”Mengingat harga minyak yang cukup kuat di sekitar 70 dollar AS, hal ini memberi OPEC+ keyakinan tentang fundamental pasar,” kata Amrita Sen, pendiri bersama Energy Aspects, seraya menambahkan bahwa struktur pasar juga menunjukkan stok yang sedikit.
Peningkatan produksi itu terjadi saat Badan Energi Internasional (IEA) dan lembaga lain meramalkan persediaan minyak akan jauh melebihi permintaan pada akhir tahun 2005 dan tahun 2026. Akibatnya, bisa terjadi kelebihan pasokan dan harga yang lebih rendah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/05/426dfe78-4e2f-4743-b8d2-4f519de220a9.jpg)
Namun, kelompok yang dipimpin Arab Saudi itu menepis pesimisme tersebut. Konsumsi minyak meningkat akibat musim panas sehingga negara-negara Teluk Persia banyak menggunakan AC.
Selain itu, produksi minyak terserap baik melebihi ekspektasi pasar, terutama di Asia. Di China, terjadi aktivitas penimbunan stok.
”OPEC+ sedang berupaya menemukan keseimbangan antara merebut kembali pangsa pasar dan menghindari penurunan harga minyak yang tajam agar tidak menggerus keuntungannya,” kata Tamas Varga dari PVM Oil Associates.
Namun, OPEC+ harus menghadapi tantangan ketidakpastian dari tekanan Amerika Serikat kepada Rusia dan Iran. Lembaga riset Clearview Energy Partners berpendapat, tingginya harga minyak kemungkinan juga akibat potensi hilangnya pasokan minyak Rusia di pasar.
”Presiden AS Donald Trump belum mengendurkan ancaman untuk memberikan sanksi kepada energi Rusia jika Kremlin tidak mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina,” demikian analisisnya, Minggu.
Trump memberi Presiden Rusia Vladimir Putin batas waktu hingga 8 Agustus 2025. Dia mengancam akan memberi Rusia sanksi dan mengenakan tarif sebesar 100 persen kepada negara-negara yang tetap mengimpor minyak Rusia.
Trump telah menekan India dan China agar tidak membeli minyak Rusia. Di samping itu, Trump memaksa China untuk berhenti mengimpor minyak Iran.
Setelah India, China merupakan pembeli minyak terbesar kedua Rusia melalui jalur laut. Laporan tahun 2024 oleh Badan Informasi Energi AS memperkirakan 80-90 persen minyak Iran dikirim ke China.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/07/21a21e98-9782-40f1-9ea4-94505f4d19f2_jpg.jpg)
Beijing menolak. ”China akan selalu memastikan pasokan energinya dengan cara yang sesuai dengan kepentingan nasional kami. Paksaan dan tekanan tidak akan menghasilkan apa-apa. China akan dengan tegas mempertahankan kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunannya,” tulis Kementerian Luar Negeri China di pelantar X, pekan lalu.
Beijing tidak bisa begitu saja meninggalkan minyak dari Rusia dan Iran. ”Ini pasokan energi strategis yang terlalu penting, dan Beijing membelinya dengan harga obral,” ujar Danny Russel, peneliti di Asia Society Policy Institute.
Direktur pelaksana konsultan Teneo, Gabriel Wildau, ragu bahwa Trump akan benar-benar menerapkan tarif 100 persen. ”Ancaman akan menggagalkan semua kemajuan terkini dan mungkin menghancurkan peluang bagi Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk mengumumkan kesepakatan dagang jika mereka bertemu pada musim gugur ini,” katanya.
Terlepas dari itu, keputusan delapan negara OPEC+ bisa menyenangkan Trump. Selama ini, Trump menyerukan OPEC memacu produksi agar harga bensin di AS lebih rendah. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nur Adji