Petugas imigrasi AS menembak mati seorang warga sipil di Minneapolis. Kejadian ini merupakan yang kedua dalam tiga pekan terakhir.
25 Jan 2026 10:37 WIB · Internasional
AP
MINNEAPOLIS, MINGGU — Situasi di Minnesota, Amerika Serikat, masih memanas. Seorang perawat, Alex Jeffrey Pretti (37), tewas ditembak oleh petugas imigrasi federal di Minneapolis, kota terbesar di negara bagian itu. Demonstrasi terus berlangsung mengecam kebrutalan petugas.
Kepala Kepolisian Minneapolis Brian O’Hara mengonfirmasi seorang laki-laki berusia 37 tahun tewas dalam penembakan, Sabtu (24/1/2026). Ia menolak menyebutkan identitas korban dan penyebab penembakan itu.
Akan tetapi, korban diidentifikasi oleh orangtuanya sendiri. Korban adalah Alex Jeffrey Pretti, seorang perawat di unit perawatan intensif. Petugas yang menembak Pretti merupakan veteran patroli perbatasan yang pernah bertugas selama delapan tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/22/8cb330024784918cd68ae45f418460fb-Protests_after_US_immigration_officer_kills_woman_in_Minneapolis.jpg)
O’Hara meminta semua pihak, baik masyarakat maupun penegak hukum federal, untuk tetap tenang. ”Tuntutan kami hari ini adalah agar lembaga-lembaga federal yang beroperasi di kota kami melakukannya dengan disiplin, kemanusiaan, dan integritas yang sama seperti yang dituntut oleh penegak hukum yang efektif di negara ini,” katanya.
Gubernur Tim Walz telah mengaktifkan Garda Nasional Minnesota untuk membantu polisi setempat di tengah meningkatnya protes. Pasukan Garda akan menuju ke lokasi penembakan dan ke gedung federal, tempat para pejabat berhadapan dengan demonstran setiap hari.
”Pemerintah federal tidak dapat dipercaya untuk memimpin penyelidikan ini. Negara bagian akan menanganinya,” katanya.
Sejak penembakan Renee Good (37) oleh petugas Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) pada 7 Januari lalu, warga melakukan protes harian di beberapa kota. Pretti tewas hanya sekitar satu mil dari tempat Good ditembak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/09/4bd4758b-c878-4010-863b-19ebe60d5ea5.jpg)
Penembakan ini membuat ICE semakin dikecam oleh banyak pihak. Dalam 10 hari pertama 2026, empat migran meninggal saat berada dalam tahanan imigrasi AS. Mereka adalah 2 warga Honduras, 1 warga Kuba, dan 1 warga Kamboja. Pada 2025 tercatat pula rekor kematian tertinggi di tahanan imigrasi AS dalam 20 tahun terakhir, dengan 32 orang tewas.
Dalam aksi protes, orang-orang meneriakkan nama Pretti untuk mengenangnya. Seorang demonstran menyerukan aksi duduk di kantor-kantor kongres untuk mendesak penghentian pendanaan bagi ICE. Para demonstran mengenakan pakaian tebal untuk melindungi diri dari dinginnya malam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/22/e534bcd72805bf4eff854c9380d3db3f-Immigration_Enforcement_Minnesota_4.jpg)
Mereka kemudian pergi ke lokasi penembakan. Dalam aksi itu terdengar teriakan, ”Melawan ICE bukanlah kejahatan dan mengawasi ICE bukanlah kejahatan.”
Penyalahgunaan kekuasaan yang kita lihat dari ICE di Minneapolis dan di seluruh negeri adalah tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Amerika dan tidak dapat dinormalisasi (Senator Jacky Rosen)
Anggota DPR AS dari Partai Republik, Andrew Garbarino, yang memimpin komite pengawas Departemen Keamanan Dalam Negeri, mengirimkan surat kepada departemen tersebut. Ia meminta tiga pejabat tinggi hadir untuk diinterogasi di hadapan komite.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/19/e8e4e1a0-d234-43a5-aea7-9501fd78eb77.jpg)
”Sebagai Ketua Komite Keamanan Dalam Negeri di DPR, prioritas utama saya tetap menjaga keamanan warga AS dan memastikan Departemen Keamanan Dalam Negeri dapat menyelesaikan misi intinya. Kongres memiliki tanggung jawab penting untuk memastikan keselamatan penegak hukum dan orang-orang yang mereka layani dan lindungi,” ujarnya.
Garbarino meminta agar pejabat senior Imigrasi dan Bea Cukai Todd Lyons, Komisaris Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Rodney Scott, serta Direktur Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS Joseph Edlow hadir. Sidang publik akan berlangsung dalam dua bulan mendatang.
Pemimpin Fraksi Demokrat di Senat AS, Chuck Schumer, mengatakan, anggota senat dari partai itu tidak akan memberikan suara pada paket anggaran yang mencakup dana untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri. Hal ini bisa mengganggu birokrasi pemerintah pada 30 Januari mendatang ketika anggaran untuk lembaga itu habis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/19/0f48c9c4-40d3-4399-8d42-f724563afa60.jpg)
Schumer mengatakan, apa yang terjadi di Minnesota adalah sesuatu yang mengerikan. ”Partai Demokrat menginginkan reformasi yang masuk akal dalam RUU anggaran Departemen Keamanan Dalam Negeri. Namun, RUU ini sangat tidak memadai untuk mengendalikan penyalahgunaan kekuasaan oleh ICE. Saya akan memberikan suara menolak,” ucapnya.
Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche menyebutkan penembakan itu sebagai tragedi akibat kegagalan total pejabat kota dan Negara Bagian Minnesota yang telah menolak penegakan hukum federal dan menciptakan eskalasi tersebut. Blanche menyampaikan Departemen Kehakiman AS akan terus meminta pertanggungjawaban mereka yang melanggar hukum federal, termasuk mereka yang melecehkan dan menyerang penegak hukum secara brutal atas nama protes.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/13/569d4ca2c08156549d6c48113bf0fc8b-US_immigration_officer_kills_woman_in_Minneapolis.jpeg)
Senator Jacky Rosen mengecam aksi penembakan itu. ”Penyalahgunaan kekuasaan yang kita lihat dari ICE di Minneapolis dan di seluruh negeri adalah tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Amerika dan tidak dapat dinormalisasi,” katanya melalui platform media sosial X.
Wakil Presiden AS JD Vance juga menanggapi penembakan di Minneapolis dalam sebuah unggahan di X. Ia menuduh para pejabat lokal di Minnesota mengabaikan permintaan dari agen ICE untuk bekerja sama dengan mereka.
”Apa yang paling diinginkan oleh agen ICE adalah bekerja sama dengan penegak hukum setempat agar situasi di lapangan tidak menjadi di luar kendali,” tulisnya. (AP/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji