Orang Indonesia Makin Kenal Kripto, tetapi Pemahaman Masih Minim

Generasi muda Indonesia menjadi motor utama pertumbuhan investasi kripto meskipun pemahaman terhadap konsep ini masih minim.

14 Des 2024 08:00 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

Armand Hartono, Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk yang merupakan salah satu ahli waris konglomerat Indonesia, belakangan dibuat gelisah dengan pertanyaan buah hatinya. Pria 49 tahun itu menyadari, anak muda saat ini lebih familiar dengan produk mata uang kripto daripada saham sebagai instrumen pelipat ganda aset.

”Kalau zaman saya ngertinya cuma Tabanas (Tabungan Pembangunan Nasional). Anak saya sudah tanya kripto. Saya bilang, ’Kamu jangan tanya kripto dulu, tanya pasar modal dulu. Sini, Bapak ajarin’,” ungkapnya saat memberi sambutan sebagai Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) dalam acara Hari Ulang Tahun Ke-36 AEI di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (13/12/2024).

Armand Hartono, Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), tengah memberi sambutan dalam acara Hari Ulang Tahun ke-36 AEI, di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (13/12/2024).

Faktanya, produk kripto memang tengah digandrungi anak muda. Data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) sejauh ini mencatat, sebanyak 75 persen dari 21,6 juta pelanggan aset kripto sampai dengan Oktober 2024 berusia 18-35 tahun. Tren ini selaras dengan demografi pelanggan mata uang kripto di dunia, yang menurut situs Stilt.com, yang 94 persen didominasi usia 18-40 tahun.

Rasa ingin tahu generasi muda akan kripto, khususnya di Indonesia, terus meningkat. Survei Consensys, perusahaan perangkat lunak blockchain dan web3 terkemuka, mengumumkan, kesadaran publik terhadap mata uang kripto di Indonesia naik 4 persen dibandingkan pada tahun lalu. Hal ini menempati Indonesia di peringkat kedua tertinggi di Asia bersama Korea Selatan, setelah Turki.

Temuan ini berdasarkan survei terbaru Consensys yang dilakukan bekerja sama dengan YouGov, yang dirilis pada 11 Desember 2024. Survei yang melibatkan 1.041 responden Indonesia berusia 18-65 tahun  itu menyoroti meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap mata uang kripto di Indonesia, di mana keamanan keuangan dan pendidikan tetap menjadi prioritas utama di tengah menurunnya kepercayaan pada layanan keuangan tradisional.

”Tahun 2024 adalah tahun yang monumental bagi kripto karena berbagai alasan—tetapi saya percaya kita berada di arah yang benar. Pemilu Presiden Amerika Serikat baru-baru ini, misalnya, dapat mengarah pada kejelasan regulasi lebih lanjut,” kata Joseph Lubin, Co-Founder Ethereum dan Founder sekaligus CEO Consensys.

Tahun ini kembali menjadi periode emas kripto, mata uang digital yang menggunakan kriptografi untuk keamanan dan terdesentralisasi karena dibangun di atas teknologi rantai blok atau blockchain, yaitu sistem bank data terdistribusi yang mencatat transaksi di seluruh jaringan komputer.

Periode emas ini dipengaruhi pergerakan harga aset tertua mereka, Bitcoin. Per 13 Desember 2024, kapitalisasi pasar Bitcoin telah menyentuh 1.981,45 miliar dollar AS, naik 138,3 persen dari tahun lalu yang sekitar 816,96 miliar dollar AS. Kondisi ini terjadi karena kebijakan lembaga keuangan hingga pemerintahan di banyak negara yang semakin mendukung ekosistem kripto.

Data perkembangan transaksi kripto di Indonesia sampai Oktober 2024.

Pemahaman kurang

Survei Consensys sayangnya menemukan pemahaman responden yang mengenal kripto justru masih kurang. Sebanyak 63 persen responden mengakui bahwa mereka belum sepenuhnya memahami konsep mata uang kripto.

”Hal ini menunjukkan perlunya pemberdayaan masyarakat Indonesia melalui pendidikan yang sederhana dan mudah diakses agar mereka lebih percaya diri dalam menghadapi era digital dan dunia mata uang kripto,” kata Lubin dalam keterangan tertulisnya.

Namun, kurangnya pemahaman masyarakat Indonesia terhadap kripto dibentengi dengan perhatian terhadap isu keamanan. Survei di tahun ini menemukan perhatian pada isu keamanan sedikit melonggar dari survei tahun 2023 lalu. Sebelumnya, survei dilakukan pada lebih dari 18.000 responden berusia 18-65 tahun dari 18 negara di Afrika, Amerika, Asia, dan Eropa.

Bagaimanapun Indonesia tetap menjadi negara paling sadar akan keamanan di Asia, dengan 89 persen responden sangat memperhatikan keamanan transaksi dan investasi mata uang kripto.

Di sisi lain, survei ini menemukan, penurunan signifikan kepercayaan terhadap institusi keuangan tradisional dan layanan internet di Indonesia. Kepercayaan terhadap institusi keuangan, termasuk bank, layanan pinjaman, dan investasi turun sebesar 14 persen. Saat ini, hanya 66 persen masyarakat Indonesia yang menganggap sistem ini penting.

”Temuan ini menunjukkan adanya indikasi pergeseran kepercayaan masyarakat dari sistem tersentralisasi, membuka peluang bagi alternatif desentralisasi untuk mendapatkan perhatian pasar jika mereka mampu mengatasi kekhawatiran tentang keamanan,” ujar Lubin.

Rentetan kasus peretasan dan pembobolan perusahaan pertukaran kripto di dunia antara tahun 2011 - 2024. Indodax menjadi perusahan pertukaran kripto yang baru mengalami kasus peretasan pada September 2024. Kasus yang mencetak kerugian sekitar Rp 300 miliar itu berhasil dipulihkan dalam 80 jam.

Center of Economic and Law Studies (Celios) juga sempat melakukan survei nasional yang dilakukan pada 20-28 Juni 2022 dengan 3.530 responden berusia 24-35 tahun yang dipilih secara acak. Survei itu menemukan, aset kripto menempati posisi ketiga sebagai instrumen investasi yang paling diminati masyarakat Indonesia.

Sebanyak 21 persen responden memiliki investasi pada aset kripto, sementara posisi pertama ditempati oleh reksadana dengan 29,8 persen, dan saham berada di posisi kedua dengan 21,7 persen. Adapun produk emas atau emas digital berada di bawah aset kripto dengan kepemilikan sebesar 12,8 persen.

Terkait kripto, Direktur Celios Bhima Yudhistira menjelaskan, sebanyak 69 persen investor ritel cenderung menilai bahwa aset kripto memiliki risiko yang tinggi. Meski demikian, tingkat pemahaman investor yang disurvei tidak jauh berbeda dengan Survei Consensys di tahun 2024.

”Kalau ditanya paham atau tidak terhadap aset kripto, 75 persen menjawab belum atau tidak paham. Berarti minatnya besar, persepsi risikonya tinggi, tapi pemahamannya itu masih rendah,” kata Bhima dalam keterangannya.

Fyqieh Fachrur, trader platform jual beli kripto di Indonesia, Tokoctypto, mengatakan kepada Kompas, generasi Z dan milenial di Indonesia menjadi motor utama pertumbuhan investasi kripto. Generasi Z dan Milenial bahkan tercatat empat kali lebih aktif berinvestasi dalam aset kripto dibandingkan dengan generasi yang lebih tua. Di Tokocrypto sendiri, lebih dari 60 persen investor berasal dari kalangan muda.

”Ini menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap aset digital sebagai alternatif pengelolaan keuangan. Kami menyadari pentingnya memberikan edukasi yang memadai agar mereka dapat mengelola investasi ini dengan bijak dan memahami risiko yang melekat pada aset kripto,” kata Fyqieh.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta