Orang terpinggirkan menjadi pusat doa, khotbah, dan pernyataan Paus Fransiskus. Orang-orang itu akan mengantarkan Paus ke pemakaman.
26 Apr 2025 10:22 WIB · Internasional
VATIKAN, SABTU-Rangkaian pemakaman Paus Fransiskus pada Sabtu (26/4/2025) digelar sesuai wasiat dan keinginannya. Salah satunya, pelayat dari kalangan orang miskin dan terpinggirkan diberi kesempatan memberi penghormatan tepat sebelum peti jenazah dimasukkan ke makam.
Dilaporkan Vatican News, terpilih 40 orang yang akan menyaksikan peti jenazah Paus untuk terakhir kali sebelum makam ditutup. Mereka terdiri dari gelandangan, transgender, imigran, dan narapidana. Penghormatan akan diberikan persis di dekat Basilika Santa Maria Maggiore.
Dalam tajuk rencananya, Vatican News menulis orang-orang itu mendapat kesempatan istimewa. Paus tidak diantarkan oleh kumpulan orang berkuasa. Paus akan diantarkan oleh orang-orang yang banyak diperhatikan dan menjadi pusat doa-doanya.
"Orang miskin mendapat tempat istimewa bagi Tuhan. Dengan demikian, mereka juga ada di hati dan pengajaran Bapa Suci, yang memilih nama Fransiskus agar tidak pernah melupakan mereka," demikian pernyataan tertulis Sekretaris Komisi Migrasi pada Konferensi Wali Gereja Italia, Uskup Benoni Ambarus.
Rombongan pelawat terakhir itu diberi kesempatan istimewa sesuai wasiat Paus. Selama masa Kepausannya, Paus Fransiskus dikenal memberi perhatian khusus kepada orang terpinggir. Gelandangan, migran, orang miskin, hingga transgender kerap disinggung Paus dalam berbagai doa, khotbah, dan pernyataan.
Paus juga memerintahkan alokasi sumbangan untuk mendukung aktivitas rehabilitasi narapidana. "Bapa Suci selalu mengajak orang bertindak. Beliau mencontohkannya. Sebagian besar wujud pertolongan itu hanya diketahui Tuhan, sebagian diumumkan. Hal yang jelas, beliau terlibat secara pribadi," kata Uskup Ambarus.
Uskup Ambarus mengatakan, para pelayat terakhir itu pernah bertemu Paus setidaknya sekali. Sebagian merupakan bagian dari kelompok yang disokong layanan biarawati di Roma.
"Mereka yang kini dipenjara merasakan kehilangan orangtua. Karena itu mereka menyurati saya, apa yang mereka rasakan. Mereka merasa kehilangan ayah sembari tetap berpegang pada harapan yang diberi Paus pada mereka," kata Ambarus.
Ia juga mengingat momen Paus membuat Dana Perwalian Yesus Pekerja Ilahi selama Pandemi Covid-19. Dana awalnya 1 juta euro untuk membantu pengangguran, pekerja tanpa dokumen, dan orang-orang yang terancam kehilangan pekerjaan.
"Paus juga memberikan satu juta euro untuk merenovasi salah satu wisma yang dijadikan apartemen bagi kelurga miskin. Bukan cuma untuk Roma, seluruh periode Kepausan Paus Fransiskus dipenuhi sumbangan ke berbagai penjuru dunia," kata Ambarus.
Penulis:
Kris MadaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji