Pacu ”Lifting” Minyak, Berbagai Inovasi Diupayakan di Rokan

Sejak alih kelola pengelolaan dari Chevron ke Pertamina pada 2021, lifting minyak di Rokan masih stagnan. Produksi kini lebih pada menahan laju penurunan lifting.

11 Jun 2025 21:14 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Aditya Putra Perdana

PEKANBARU, KOMPAS — PT Pertamina Hulu Rokan, pengelola Blok Rokan, Riau, mengupayakan berbagai cara guna memacu produksi siap jual atau lifting minyak bumi. Mulai dari injeksi uap, pengurasan minyak tingkat lanjut surfaktan, hingga minyak nonkonvensional. Perlu upaya gencar mengingat implementasi teknologi saat ini hanya mampu menahan laju penurunan produksi.

Lifting minyak bumi di Rokan saat alih kelola dari PT Chevron Pacific Indonesia ke PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), pada Agustus 2021, sebanyak 158.700 barel per hari (BOPD). Sempat naik menjadi 161.000 BOPD dengan pengeboran masif, lifting minyak bumi di Rokan lalu turun dan stagnan. Saat ini, lifting berkisar 155.000-160.000 BOPD.

Hal tersebut, antara lain, disebabkan laju penurunan produksi secara alamiah akibat kondisi sumur yang sudah tua (mature). Bahkan, dari perkiraan awal, dengan asumsi tanpa adanya pengeboran (drilling), lifting minyak di Rokan pada 2025 sebesar 105.000 BOPD. Upaya pengeboran saat ini menahan cepatnya laju penurunan itu.

”Harusnya ada decline (penurunan produksi) 36 persen. Sekarang, setidaknya kami bisa menahan penurunan 36 persen itu. Dibutuhkan inovasi untuk terus memberi tambahan produksi,” kata General Manager Zona Rokan PHR Andre Wijanarko, di Pekanbaru, Riau, Rabu (11/6/2025).

Suasana di Stasiun Pengumpul atau Central Gathering Station (CGS)-10 di Lapangan Duri, Blok Rokan, Kabupaten Bengkalis, Riau, yang dikelola PT Pertamina Hulu Rokan, Rabu (11/6/2025). Fasilitas di CGS berfungsi memisahkan minyak bumi dengan antara lain gas, air, dan pasir sehingga bisa dijual.

Ia menambahkan, sejumlah upaya yang dilakukan PHR adalah fracturing (perangsangan sumur) dan horizontal well (pengeboran sumur pada sudut mendekati horizontal). Selain itu, pengembangan minyak nonkonvensional, serta injeksi uap (steamflood) dan chemical enhanced oil recovery (CEOR)/injeksi surfaktan.

Andre mengemukakan, CEOR yang saat ini telah dilakukan ialah dengan simple surfactant. Namun, selanjutnya, akan menggunakan alkali-surfactant polymer (ASP) yang diyakini akan memberi dampak lebih besar terhadap peningkatan produksi.

”Injeksi perdana (ASP) akan dilakukan Desember 2025. Kemudian, 2026 dievaluasi untuk dilihat berapa tambahannya,” kata Andre.

Ia belum mengungkap kebutuhan investasi CEOR injeksi ASP oleh PHR. Namun, yang jelas, keekonomian mesti tercapai. Dengan bertambahnya proyek-proyek di Rokan, ia menyebut investasi pasti akan bertambah. Upaya tersebut juga menjadi bagian dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Suasana di sekitar pompa angguk (sucker rod pump) di Lapangan Duri, Blok Rokan, Kabupaten Bengkalis, Riau, yang dikelola PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Rabu (11/6/2025). Pompa angguk berfungsi memompa minyak bumi di dalam sumur produksi ke permukaan tanah. Saat ini, lifting atau produksi siap jual minyak bumi di Blok Rokan berkisar 155.000-160.000 barel per hari.

Injeksi uap

Pantauan Kompas di North Duri Development (NDD) Area 14, Lapangan Duri, Blok Rokan, Kabupaten Bengkalis, Riau, Selasa (11/6/2025), injektor uap tertancap di atas tanah di area itu. Berjarak sekitar 50 meter, terdapat pompa angguk (sucker rod pump) yang memompa minyak bumi dari dalam sumur produksi ke permukaan tanah. Satu injeksi steamflood umumnya dikelilingi oleh enam pompa angguk.

PHR melakukan injeksi uap (steamflood) perdana di NDD Area 14 pada Selasa (14/1/2025). Injeksi perdana tersebut dilakukan lebih cepat dari rencana, yakni Mei 2025. Upaya pengembangan di Lapangan Duri itu menjadi salah satu cara meningkatkan lifting minyak bumi.

Sebagai catatan, steamflood mulai digunakan operator Blok Rokan sebelumnya, sejak 1985 di Lapangan Duri. Hal itu tidak terlepas dari karakteristik minyak mentah di lapangan tersebut yang berjenis minyak berat (heavy oil) sehingga dibutuhkan uap panas mengangkatnya.

Kini, seiring alih pengelolaan Blok Rokan pada 2021, teknologi steamflood juga digunakan oleh PHR untuk mengoptimalkan produksi minyak mentah di Lapangan Duri.

Lapangan Duri ialah salah satu lapangan di Blok Rokan atau WK Rokan. Pengelolaan WK Rokan berpindah pengelolaan dari Chevron ke PHR pada Agustus 2021. Di blok migas seluas sekitar 6.200 kilometer persegi tersebut terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul.

Saat ini, Rokan bersama Blok Cepu di Jawa Timur menjadi dua blok migas dengan lifting minyak bumi terbesar di Indonesia sekaligus tulang punggung ketahanan energi nasional. WK Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi PT Pertamina (Persero).

Merujuk data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi lifting minyak bumi nasional pada 2024, yakni 579.700 BOPD. Angka tersebut melanjutkan tren penurunan lifting dari tahun-tahun sebelumnya. Pada 2022 realisasi sebesar 612.300 BOPD, lalu 2023 sebesar 605.000 BOPD.

Berbagai upaya tengah dilakukan pemerintah guna menahan laju penurunan lifting minyak bumi secara alamiah akibat kondisi lapangan-lapangan yang sudah tua (mature). Peningkatan itu dibutuhkan. Sebab, dari kebutuhan nasional sekitar 1,6 juta BOPD, produksi nasional hanya sekitar 600.000 BOPD, sehingga sisanya harus dipenuhi dengan impor.

Pegawai PT Pertamina Hulu Rokan mengamati injector uap (steamflood) yang tertancap di North Duri Development (NDD) Area 14, Lapangan Duri, Blok Rokan, Kabupaten Bengkalis, Riau, Rabu (11/6/2025). Injeksi perdana steamflood di area sumur itu dilakukan pada Januari 2025. Adapun steamflood lama dikembangkan di blok itu guna membantu mengangkat minyak ke permukaan mengingat jenis minyak di Lapangan Duri yang berat (heavy oil).

Keekonomian

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, secara potensi, volume yang bisa diraih dari penerapan EOR terbilang besar. Ia pun tidak meragukan kemampuan perusahaan migas di Indonesia, termasuk PHR, untuk mengaplikasikan EOR dalam meningkatkan produksi minyak.

Namun, yang selama ini kerap menjadi kendala ialah persoalan sulit tercapai keekonomian. ”Sebab, ada penambahan biaya produksi yang pada akhirnya, secara keekonomian proyek, marginnya tidak masuk. Bagaimanapun, ujungnya, ini kan terkait bisnis,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Komaidi, dukungan insentif dari pemerintah menjadi krusial agar penerapan EOR berjalan optimal. ”Bisa dengan penambahan bagi hasil (untuk KKKS), keringanan pajak, atau insentif lainnya. Saat produksi bertambah, pada akhirnya impor minyak juga bisa berkurang,” lanjutnya.

Menteri ESDM Bahlila Lahadalia mengatakan, dalam memenuhi target lifting minyak nasional 1 juta barel per hari pada 2030, tidak bisa dilakukan dengan cara-cara biasa. Sebab, jika tidak, realisasi lifting minyak akan stagnan. Sementara tambahan produksi minyak dalam negeri diperlukan untuk menekan ketergantungan impor.

Ia pun mendorong tiga pilar dalam meningkatkan produksi minyak nasional, yakni penerapan teknologi mutakhir; reaktivasi sumur-sumur migas yang tidak aktif; dan eksplorasi secara intensif terhadap cekungan-cekungan migas yang belum tergarap.

Selain itu, pemberian insentif untuk menarik investor migas, di antaranya terkait peningkatan bagi hasil untuk kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). ”Jadi target negara tingkatkan lifting (tercapai), tetapi para KKKS juga tidak rugi. Tetapi negara juga harus untung, jadi kita atur win-win (solusi),” ujarnya dalam Konvensi dan Pameran Indonesian Petroleum Association di Tangerang, Banten, Rabu (21/5/2025).


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Putra Perdana
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul