Kasus keracunan MBG terjadi di Kota Bandung. Korbannya mencapai ratusan siswa SMP.
02 Mei 2025 12:08 WIB · Nusantara
Dalam sembilan hari terakhir di Jawa Barat, terjadi dua kasus keracunan masal di tiga sekolah yang mengikuti program Makan Bergizi Gratis. Peristiwa terkini menimpa 342 siswa SMPN 35 Bandung.
Kamis (1/5/2025) siang, 11 siswa SMPN 35 yang menggunakan baju olahraga tengah berkumpul di halaman sekolah. Sekolah itu terletak di daerah Dago Pojok, Kecamatan Coblong.
Para siswa tengah bersiap untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler baris-berbaris. Tampak mereka didampingi seorang guru sebagai pelatih kegiatan itu.
Meskipun sedang libur peringatan Hari Buruh, para siswa bersemangat mengikuti kegiatan ini. Cuaca yang cukup panas hari itu bukanlah halangan.
Mereka merajut impian menjadi petugas paskibraka yang mengibarkan sang saka merah putih mewakili Bandung bahkan di tingkat nasional.
Dua di antara para siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ini adalah Muhammad Ramadhan (13) dan Marsya Adeli Putri (14). Keduanya tetap berlatih meski dua hari sebelumnya keracunan makanan. Total ada 342 siswa SMP itu yang keracunan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/02/cc445733dcb50895d996723ff870000a-IMG_20250502_WA0040.jpg)
Para siswa mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (29/4/2025), sekitar pukul 11.00 WIB. Diduga, makanan sudah mulai berbau sebelum dikonsumsi para siswa.
Para siswa mendapatkan menu MBG hari itu adalah makaroni, ikan kakap, sayur, tempe saus barbekyu dan buah melon.
Selang 7-8 jam kemudian, para siswa mulai merasakan gejala keracunan. Mereka diare, mual hingga muntah-muntah.
"Lauk makaroni dan sayur agak bau. Saya hanya makan sedikit, " ungkap Marsya, siswa kelas 8.
Meski hanya makan sedikit, Marsya mengaku mengalami sakit perut hingga diare. Dia berulang kali buang air dari sore hingga malam hari.
"Saya merasa mual dan diare hingga Rabu. Buang air besar hingga sembilan kali. Setelah berobat, kini kondisi saya mulai membaik, " ungkap Marsya.
Kondisi yang sama dirasakan Ramadhan. Ia juga mencium sejumlah menu makanan MBG, seperti makaroni dan ikan, yang berbau sebelum dikonsumsi.
Ramadhan tetap memakannya dengan lahap karena sudah merasa lapar. Akibatnya, dia juga merasa mual dan beberapa kali buang air besar.
"Saya merasa mual hingga mencret pada Selasa malam. Orangtua saya segera melaporkan peristiwa ini ke sekolah, " tutur siswa kelas 7 ini.
Kondisi Marsya dan Ramadhan kini berangsur membaik. Keduanya bahkan telah mengikuti upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional pada Jumat (2/5/2025) pagi.
"Semoga makanan MBG untuk ke depannya lebih baik. Jangan terulang lagi peristiwa ini, " harap Marsya.
Ganjar Sulandiana, Humas SMPN 35 Kota Bandung mengatakan, mayoritas 342 siswa dan dua guru yang mengalami keracunan sudah membaik. Mereka sudah mengikuti upacara Hardiknas pada Jumat ini di sekolah.
"Sebanyak 95 persen korban telah bersekolah hari ini. Untuk pelaksanaan program MBG dihentikan sementara hingga hasil investigasi Dinas Kesehatan Kota Bandung tuntas,” kata Ganjar.
Kepala Dinkes Kota Bandung Anhar Hadian menuturkan, terus memantau kondisi para korban keracunan. Rata-rata para korban menjalani rawat jalan di puskesmas setempat.
Adapun dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang selama ini mendistribusikan paket MBG ke SMPN 35 dan tiga sekolah lain untuk sementara berhenti beraktivitas. Tiga sekolah lainnya adalah SDN 24 Coblong dan SDN 189 Neglasari, dan SMAN 19.
Dari penelusuran Dinkes Kota Bandung, tidak ditemukan kasus keracunan di tiga sekolah lainnya. Sebab siswa di dua SDN tersebut mengonsumsi makanannya lebih pagi. Sedangkan siswa SMAN 19 yang mendapatkan MBG pukul 13.30 WIB tidak memakannya karena sudah berbau.
"Kami sudah mengirimkan sampel makanan ke Laboratorium Kesehatan Daerah Jabar untuk diteliti pemicu siswa mengalami keracunan. Hasilnya baru diketahui satu hingga dua pekan, " tambah Anhar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/01/5971bb095a0a4daa556838b9e6d7041c-IMG_20250501_122652.jpg)
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan prihatin dan menyatakan kejadian ini merupakan peringatan agar pengawasan terhadap pelaksanaan MBG diperketat.
Menurutnya, insiden ini menjadi pelajaran penting untuk semua pihak, terutama dalam aspek pengawasan bahan makanan, kebersihan, dan operasional MBG.
Meski Pemkot tidak memiliki kewenangan untuk mengganti SPPG, Farhan menegaskan komitmen pemerintah kota untuk memperkuat fungsi pengawasan.
Farhan juga menyebutkan, meski SMPN 35 terdampak, SMAN 19 Bandung yang mengonsumsi menu serupa selamat dari keracunan karena tidak memakan makanan yang sudah berbau.
“Ini juga jadi pelajaran penting, anak-anak perlu diajari untuk tidak mengonsumsi makanan jika mencium bau tidak sedap,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/08/3987c9dd3218c94d309859804457ed02-IMG_3288.JPG)
Ia menyatakan, telah berkoordinasi dengan Dinkes, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian untuk memperkuat pengawasan distribusi makanan MBG.
“Saya lega karena para korban sudah pada pulih dan tidak ada yang dirawat inap,” ujar Farhan.
Dari catatan Kompas, sudah terjadi dua kasus keracunan makanan yang diduga paket MBG dalam sembilan hari terakhir. Total korban dalam dua kasus ini mencapai 507 pelajar dari SMA hingga SMP.
Kasus sebelumnya ada 165 siswa yang keracunan seusai mengonsumsi paket MBG di Cianjur pada 21 April 2025. Mereka yang mengalami gejala keracunan merupakan siswa dari dua sekolah penerima program MBG, yakni Madrasah Aliyah Negeri 1 Cianjur dan SMP PGRI 1 Cianjur.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/23/6c4695da6c64ea26fc4c56798c75ec87-Videoshot_20250423_110914.jpg)
Data hasil pemeriksaan, ditemukan tiga jenis bakteri pada wadah MBG. Bakteri yang ditemukan dari pemeriksaan sampel di wadah makanan ini adalah Staphylococcus sp, Escherichia coli, dan Salmonella sp. Semuanya rentan menyebabkan diare.
Program MBG pada hakikatnya memberikan makanan bergizi bagi pelajar sejak dini. Segera evaluasi menyeluruh pelaksanaan MBG agar tidak memicu masalah kesehatan bagi generasi muda masa depan bangsa.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari