Pakistan Berhasil Transisi ke Energi Surya

Pakistan menjadi salah satu contoh negara berkembang dengan revolusi tenaga surya tercepat di dunia. Negara ini bakal mengalami kelebihan produksi listrik.

24 Nov 2025 14:35 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

BELEM, SENIN — Di tengah gelombang berita buruk untuk melawan perubahan iklim, Pakistan berangsur mencatat keberhasilan dalam transisi energi. Pada 2026, negara ini untuk kali pertama akan mengalami kelebihan produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS.

Pakistan menjadi salah satu contoh negara dengan revolusi tenaga surya tercepat di dunia. Dalam enam tahun, pangsa tenaga surya dalam bauran energi negara ini melonjak dari 0 persen menjadi 30 persen. Pada tahun depan, surplus listrik akan terjadi di beberapa kawasan industri utama.

”Pakistan akan mengalami permintaan negatif dari jaringan listrik on grid selama jam-jam siang tertentu karena panel surya di luar meteran sepenuhnya mengimbangi konsumsi dari jaringan,” kata Sekretaris Kementerian Perubahan Iklim Pakistan Aisha Moriani, di sela-sela konferensi iklim COP30, Brasil, kepada Reuters, Senin (24/11/2025).

Di kawasan Eropa dan Australia, harga listrik terkadang menjadi negatif akibat kelebihan pasokan listrik dari tenaga surya. Pakistan menjadi salah satu negara berkembang dengan produksi PLTS dapat melampaui permintaan dari jaringan listrik on grid di kawasan-kawasan penting dalam jangka waktu yang lama.

Sekretaris di Kementerian Perubahan Iklim dan Koordinasi Lingkungan Pakistan, Aisha Humera Moriani, berbicara dalam sesi pleno di Konferensi Tingkat Tinggi Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa COP30, Selasa (18/11/2025) di Belem, Brasil.

Menurut Moriani, permintaan negatif kemungkinan besar terjadi di Kota Lahore yang memiliki penetrasi PLTS tertinggi. Kota lainnya ialah Faisalabad dan Sialkot sebagai kawasan industri yang mendorong adopsi energi surya.

”Pakistan akan mengalami lebih banyak peristiwa permintaan negatif, terutama pada sore pada musim panas yang cerah, hari libur industri, dan hari-hari bersuhu sedang dengan produksi energi surya yang tinggi,” tutur Moriani yang merupakan negosiator utama Pakistan di COP30.

Peningkatan konsumsi listrik dari panel surya membuat perusahaan listrik Pakistan terdampak negatif. Permintaan listrik berbasis jaringan turun. Permintaan listrik Pakistan yang terhubung ke jaringan diperkirakan akan tumbuh 3-4 persen tahun ini, lebih lambat dari rata-rata data sebelumnya.

”Tahun depan, konsumsi listrik diperkirakan akan meningkat lebih tajam. Namun, bisa karena penggunaan panel surya yang lebih tinggi,” kata Moriani.

Adopsi cepat

Pemadaman listrik dan kenaikan harga listrik telah mendorong Pakistan mempercepat adopsi PLTS bagi 250 juta rakyatnya. Islamabad kini menjadi importir panel surya terbesar ketiga di dunia.

”Tantangan Pakistan bukanlah apakah energi terbarukan akan tumbuh, melainkan seberapa cepat jaringan, regulasi, dan desain pasar dapat berkembang untuk mengimbanginya,” tutur Moriani.

Moriani menjelaskan, Pakistan berencana memberlakukan tarif baru bagi pengguna panel surya berskala besar. Negara di Asia Selatan ini juga hendak mengubah struktur biaya guna memastikan bisnis yang menggunakan panel surya menanggung biaya pemeliharaan jaringan secara merata.

Penumpang menunggu di stasiun kereta api di tengah kabut asap tebal di Lahore, Pakistan, Sabtu (22/11/2025).

Berkat lonjakan penggunaan PLTS, emisi dan tagihan listrik sebagian warga di Pakistan berkurang. Pakistan juga mulai mengurangi konsumsi energi fosil.

Pakistan telah menegosiasikan ulang kontrak terkait impor gas alam cair (LNG) dengan Qatar serta membatalkan pesanan kargo dari Eni, perusahaan energi Italia. ”Pakistan menginginkan harga yang lebih rendah, jadwal pengiriman yang fleksibel, dan kemungkinan jumlah kargo yang lebih sedikit,” kata Moriani.

Ia tidak bernegosiasi formal dengan Qatar di COP30. Akan tetapi, ia berinteraksi dengan para menteri energi dan pebisnis untuk menyelaraskan strategi impor gas Pakistan dengan fiskal, prospek permintaan, dan pola musiman. ”Pakistan menginginkan stabilitas dan keterjangkauan, bukan peningkatan ketergantungan pada LNG,” ujarnya.

Di samping itu, Pakistan mengajukan pinjaman kepada Asian Development Bank (ADB) untuk meningkatkan jaringan energi, khususnya pembangkit listrik tenaga air (PLTA). ADB telah menyetujui pengajuan sebesar sebesar 330 juta dollar AS, pekan lalu.

Keberhasilan transisi

Pakistan mewakili fenomena transisi energi yang sedang marak terjadi di Asia, Amerika Selatan, Afrika, dan Timur Tengah. Kebanyakan negara-negara tersebut dibantu oleh banjirnya panel surya, baterai, dan komponen turbin angin murah dari China yang memimpin manufaktur energi bersih.

”Kita telah menyaksikan dunia mulai merasakan keuntungan, yang memungkinkan negara-negara berkembang ini memanfaatkan peluang untuk benar-benar melompat ke era energi berikutnya,” kata Lars Nitter Havro, peneliti di Rystad Energy, Norwegia.

Selain Pakistan, ada Chile, Yunani, dan Hongaria yang melaju pesat dalam menambah PLTS. Chile telah memasang sejumlah besar PLTS di Gurun Atacama yang terpencil, sedangkan Yunani menambah panel surya di perbukitan dan pulau-pulau Mediterania. Satu dekade silam, Hongaria bahkan tidak memiliki panel surya.

Pembangkit listrik tenaga surya, angin, dan baterai lebih murah dan lebih mudah dipasang daripada bahan bakar fosil. ”Di negara-negara yang tidak memiliki infrastruktur bahan bakar fosil, kami melihat lebih banyak dinamika lompatan yang terjadi,” ujar Havro.

Para buruh memilah batang pisang di pasar buah dan sayur di Karachi, Pakistan, Se;lasa (18/11/2025)

CNN melaporkan, menurut para analis, energi terbarukan untuk kali pertama menyalip batubara sebagai sumber listrik global pada paruh pertama 2025. Kapasitas energi terbarukan global diproyeksikan akan berlipat ganda selama lima tahun ke depan, yaitu meningkat sebesar 4.600 gigawatt (GW). 

”Tidak ada jalan untuk mundur,” ujar Malgorzata Wiatros-Motyka, analis listrik di lembaga pemikir iklim Ember.

Namun, masih ada sejumlah hal yang perlu diperbaiki. Transformasi menuju energi bersih di seluruh sektor kelistrikan belum bisa terwujud karena permintaan energi tumbuh pesat. Kebutuhan terhadap energi fosil tetap tinggi, seperti yang terjadi di China yang sudah cukup sukses melakukan transisi energi bersih.

Beberapa negara juga mengalami tantangan transisi energi. Negara-negara berupaya menghubungkan energi terbarukan yang bergantung pada cuaca (intermiten) dengan baterai yang dapat menyimpan energi. Indonesia, contoh lainnya, kesulitan untuk menghentikan pembangkit listrik tenaga batubara dengan kapasitas 6,7 GW pada 2030 karena masalah pendanaan. (AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase