BAHAN BAKAR MINYAK

”Panic Buying” di Kalbar Mereda, Stok BBM di Kalimantan Diklaim Aman

Antrean panjang pembeli bahan bakar minyak sempat terjadi di sejumlah SPBU di Kalbar. Pemerintah setempat mencabut surat edaran pembatasan pembelian BBM.

26 Mar 2026 16:03 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/SUCIPTO

Oleh Sucipto .

BALIKPAPAN, KOMPAS — Kebijakan pembatasan pembelian bahan bakar minyak atau BBM yang sempat diberlakukan di Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, resmi dicabut. Kebijakan yang semula diniatkan untuk mengurai antrean justru memicu kepanikan warga atau panic buying.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan, sebelumnya terbit surat edaran (SE) pembatasan BBM di Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang selama libur Lebaran 2026. Tito mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan pemerintah daerah dan kebijakan tersebut sudah dicabut pada 26 Maret 2026.

”Setelah disampaikan kepada publik, dicabut. Bahwa (stok) aman, stok cukup, ya, kembali normal lagi,” ujar Tito dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (26/3/2026).

Pemerintah Kota Singkawang dan Pemerintah Kabupaten Bengkayang menyatakan pembatasan awalnya diniatkan untuk mengurai antrean di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) selama libur Lebaran 2026. Namun, hal itu justru ditangkap sebagai sinyal kelangkaan oleh masyarakat sehingga terjadi antrean panjang di SPBU.

Kendaraan mengisis bahan bakar di salah satu SPBU di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, Selasa (3/3/2026). Konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh perang AS-Israel dan Iran dikhawatirkan akan mempengaruhi lonjakan harga minyak dunia yang juga akan berimbas pada harga BBM di Indonesia.

Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengonfirmasi bahwa setelah pemantauan di 11 SPBU, antrean kendaraan kini telah terurai dan kondisi berangsur normal.

Guna meyakinkan masyarakat, PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan meningkatkan pasokan BBM di Kalimantan Barat selama libur Lebaran hingga 140 persen dari kondisi normal. 

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan Edi Mangun menyatakan, percepatan distribusi juga difokuskan pada titik-titik krusial, seperti Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya.

”Dengan berbagai upaya percepatan yang dilakukan, kondisi saat ini mulai berangsur kondusif,” kata Edi.

Pertamina menerapkan strategi Integrated Terminal Pontianak selama 24 jam, penambahan armada mobil tangki dengan pengawalan kepolisian, hingga percepatan sistem QR Code agar penyaluran lebih tepat sasaran. Pertamina juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat mengganggu ritme distribusi.

Stok Kaltim aman 

Berbeda dengan dinamika di Kalbar, kondisi di SPBU Kalimantan Timur terpantau stabil selama libur Lebaran 2026. Berdasarkan pantauan lapangan pada 25-26 Maret 2026 di Kota Balikpapan, tidak terlihat adanya antrean panjang.

Di sejumlah titik strategis, seperti SPBU Gunung Guntur, Jalan MT Haryono, hingga jalur protokol lintas kabupaten/kota, arus kendaraan yang mengisi BBM terlihat normal, bahkan lengang. Antrean panjang terjadi sore hari di beberapa titik saat warga pulang silaturahmi atau bertamasya.

”Saya keluar rumah terus sejak libur Lebaran. Normal saja isi bensin. Antrean sedikit panjang di SPBU biasanya sore saja ketika pulang dari rumah keluarga,” ujar Agus Rahmat (39), warga Balikpapan Utara.

Suasana lengang di salah satu SPBU di Jalan MT Haryono Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (26/3/2026).

Edi Mangun memastikan stok BBM Pertamina, baik subsidi maupun nonsubsidi, berada pada level mencukupi di Kaltim dan Kalimantan secara umum. Untuk memastikannya, Pertamina membentuk satuan tugas atau satgas sejak awal Maret 2026.

”Sejak 9 Maret hingga 1 April 2026 satgas bertugas. Personelnya baik dari internal Pertamina maupun bersama stakeholder terkait,” kata Edi.

Satgas juga memantau potensi penimbunan BBM di tengah kondisi Timur Tengah yang belum stabil. Seperti diberitakan sebelumnya, konflik tersebut membuat lalu lintas kapal minyak di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi krusial dunia, terhambat. 

Pemerintah Indonesia menyampaikan cadangan BBM nasional saat ini berada dalam kondisi aman dan melampaui standar minimal cadangan nasional. Pada awal Maret 2026, pemerintah menyatakan daya tampung cadangan BBM Indonesia maksimal sekitar 25 hari.

Sebagai alternatif ketika impor minyak dari Selat Hormuz terkendala, Pemerintah Indonesia sedang menjajaki kemungkinan impor dari negara lain, salah satunya Amerika Serikat (Kompas, 2/3/2026).


Kerabat Kerja

Penulis:

Sucipto .
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati