Paolini Menguji Konsistensi Swiatek di Cincinnati

Iga Swiatek menjalani semester II-2025 dengan lebih baik dibandingkan enam bulan pertama. Dia tiga kali lolos ke final dalam empat turnamen.

18 Agt 2025 13:43 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

CINCINNATI, MINGGU — Musim kompetisi 2025 berbeda bagi Iga Swiatek dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Setelah selalu gagal ke final dalam waktu setahun setelah menjuarai Perancis Terbuka 2024, petenis putri Polandia itu akan tampil di final untuk ketiga kalinya dari empat turnamen dalam rentang dua bulan.

Swiatek akan menjalani final pada turnamen WTA 1000 Cincinnati, Amerika Serikat, Senin (18/8/2025) malam waktu setempat atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Lawannya adalah Jasmine Paolini, finalis Grand Slam Perancis Terbuka dan Wimbledon 2024.

Laga tersebut akan menjadi kesempatan bagi mereka menjadi juara untuk pertama kalinya dalam salah satu turnamen pemanasan Grand Slam Amerika Serikat Terbuka itu. Bagi Paolini, kemenangan akan bermakna lebih besar karena dia selalu kalah dalam lima pertemuan sebelumnya dengan Swiatek. Paolini bahkan hanya bisa memenangi satu set dari total 11 set.

”Saya harus bermain dalam level sangat tinggi melawan Iga di final. Saya harus fokus pada diri sendiri dan meningkatkan permainan dibandingkan pertemuan sebelumnya. Saya harus bermain baik sejak awal, berusaha bermain agresif,” tutur Paolini, dalam laman resmi WTA, setelah mengalahkan Veronika Kudermota dengan skor 6-3, 6-7 (5), 6-3 di semifinal.

Meski dominan dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, Swiatek tak pernah memandang sebelah mata petenis Italia itu. Bertubuh mungil (tinggi 163 cm) dibandingkan petenis lain pada umumnya, Paolini bisa bergerak dengan lincah di semua jenis lapangan.

Petenis Polandia, Iga Swiatek, melayangkan pukulan servis saat menghadapi Elena Rybakina (Kazakhstan) pada semifinal WTA 1000 Cincinnati di Mason, Ohio, Amerika Serikat, Minggu (17/8/2025).

”Jasmine adalah petenis yang bisa bergerak dengan cepat. Tak hanya itu, dia pun punya banyak variasi pukulan dan taktik, seperti bergerak ke dekat net dengan baik. Saya harus mempersiapkan taktik yang tepat,” ujar Swiatek, yang menang 7-5, 6-3 atas Elena Rybakina di semifinal.

Bagi Swiatek, final pertamanya di WTA Cincinnati ini menjadi final ketiga dalam empat turnamen terakhir. Pada pekan ketiga Juni, dia lolos ke final WTA Bad Homburg yang merupakan final pertama di lapangan rumput, tetapi kalah dari Jessica Pegula.

Tiga pekan kemudian, Swiatek menjuarai Wimbledon yang merupakan gelar keenam dari arena Grand Slam. Dia berhasil mengatasi kendala mental tampil di lapangan rumput meski menjadi juara tunggal putri yunior Wimbledon 2018. Gelar juara didapat setelah mengalahkan Amanda Anisimova dengan skor 6-0, 6-0.

Quote

Awalnya saya terkejut bisa bertahan dalam pertandingan dengan kecepatan tinggi. (Iga Swiatek)

Statistik menang-kalah dalam dua bulan terakhir adalah 89,5 persen hasil dari 17 kali menang dan dua kali kalah. Persentase itu meningkat dari 76,2 persen (32 menang-10 kalah) dari enam bulan sebelumnya.

Perjalanan tersebut berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika Swiatek tampil baik pada enam bulan pertama saat persaingan di lapangan tanah liat dipertandingkan. Sebagai petenis dengan kemampuan lebih baik di tanah liat dibandingkan para pesaingnya, Swiatek memiliki empat gelar juara Grand Slam Perancis Terbuka (2020, 2022, 2023, 2024).

Rekor pertemuan Iga Swiatek dengan Jasmine Paolini.

Namun, sejak meraih trofi Suzanne Lenglen di lapangan tanah liat Roland Garros, Paris, 2024, Swiatek tak lagi dominan. Dia selalu gagal menembus final selama setahun, termasuk di turnamen tanah liat 2025, yaitu WTA 1000 Madrid (Swiatek kalah di semifinal), WTA 1000 Roma (babak ketiga), dan Perancis Terbuka (semifinal). Dia pun terlempar dari peringkat dua besar dunia pada Mei 2025 setelah selalu berada pada posisi itu selama lebih dari tiga tahun terakhir.

Menjadi juara Wimbledon, yaitu saat bisa melepas tekanan dari diri sendiri, adalah titik balik petenis 24 tahun itu. Saat berhadapan dengan Rybakina pada semifinal WTA Cincinnati, Swiatek merebut set pertama setelah tertinggal 3-5. Padahal, Rybakina adalah petenis yang memiliki modal besar bermain di lapangan keras, yaitu servis keras. Bola dari forehand-nya juga melaju cepat dan datar.

”Awalnya saya terkejut bisa bertahan dalam pertandingan dengan kecepatan tinggi. Kami bermain dengan intensitas tinggi dan saya tak boleh lengah sedikit pun,” kata Swiatek.

Sinner-Alcaraz

Gelar juara tunggal putra di Cincinnati dalam level ATP Masters 1000 akan diperebutkan dua petenis terbaik, Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz. Pertandingan yang akan berlangsung sebelum final Swiatek melawan Paolini menjadi pertemuan ke-14 Sinner dan Alcaraz sejak mereka bersaing di arena ATP Tour pada 2021.

Dominasi mereka pada persaingan tunggal putra level tinggi membuat Sinner dan Alcaraz selalu bersaing di final dalam lima pertemuan terakhir, empat di antaranya, pada tahun ini. Alcaraz menang dalam tiga final (juga unggul 8-5 secara keseluruhan), tetapi dia tak akan melupakan hasil pada pertemuan terakhir sebelum bersaing di Cincinnati.

Petenis Spanyol, Carlos Alcaraz, melayangkan pukulan servis saat melawan Damir Dzumhur (Bosnia Herzegovina) pada laga babak 64 besar ATP Masters 1000 Cincinnati di Mason, Ohio. Amerika Serikat, Minggu (10/8/2025) waktu setempat. Alcaraz menang 6-1, 2-6, 6-3.

Pertemuan itu terjadi pada final Wimbledon yang menjadi peluang Alcaraz mencetak hat-trick juara. Akan tetapi, Sinner mengalahkannya 4-6, 6-4, 6-4, 6-4.

Hasil itu menjadi pembalasan kekalahan Sinner dari Alcaraz pada final Perancis Terbuka, tiga pekan sebelumnya. Alcaraz menggagalkan tiga match point Sinner dalam final epik lima set selama 5 jam 29 menit.

”Saya sangat antusias dengan final nanti. Jannik menang dalam pertemuan terakhir, saya menang dalam dua final sebelumnya. Final Cincinnati menjadi final pertama kami di lapangan keras pada tahun ini dan saya antusias dengan tantangannya,” kata Alcaraz.

Alcaraz mengakui bahwa Sinner lebih favorit menang di lapangan keras seperti di Lindner Family Tennis Center yang digunakan untuk turnamen ATP/WTA Cincinnati. Dalam lima pertandingan sejak babak kedua hingga semifinal, Sinner selalu menang dua set, sedangkan Alcaraz dua kali bermain tiga set.

Meski demikian, ada faktor yang bisa menjadi pemakluman. Alcaraz menghadapi lawan yang cenderung lebih berat dibandingkan petenis yang berhadapan dengan Sinner. Pada babak kedua, Alcaraz melawan petenis yang berpengalaman di arena ATP Tour, Damir Dzumhur, hingga harus bermain tiga set 6-1, 2-6, 6-3.

Petenis Spanyol, Carlos Alcaraz, mengembalikan bola saat melawan Damir Dzumhur (Bosnia Herzegovina) pada laga babak 64 besar ATP Masters 1000 Cincinnati di Mason, Ohio. Amerika Serikat, Minggu (10/8/2025) waktu setempat. Alcaraz menang 6-1, 2-6, 6-3.

Di perempat final, Andrey Rublev pun memaksanya bermain tiga set, sedangkan Sinner berhadapan dengan Felix Auger-Aliassime yang performanya berada di bawah Rublev.

”Final melawan Carlos akan menjadi pertandingan sangat-sangat sulit. Semoga bisa menjadi pertandingan berlevel tinggi. Itu tak hanya baik bagi penonton, melainkan juga bagi kami sebagai pemain. Kita lihat apa yang akan terjadi di final nanti,” kata Sinner. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto