Papabili, Para Kandidat Pengganti Paus Fransiskus

Meski belum diumumkan prosesi pemilihan Paus baru, sejumlah nama sudah muncul ke permukaan. Inklusif dan progresif mungkin jadi kata kunci.

22 Apr 2025 18:00 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

Sehari Paus Fransiskus wafat, Gereja Katolik Roma mulai mempersiapkan ritual pemakaman hingga pemilihan Paus baru. Paus yang baru akan dipilih melalui konklaf yang berlangsung dalam 15-20 hari setelah Paus wafat.

Di satu sisi umat Katolik berduka atas meninggalnya Paus Fransiskus. Di sisi lain, kepemimpinan gereja tentu tidak boleh kosong. Paus yang baru akan meneruskan tongkat kepemimpinan Paus Fransiskus. Mulai bermunculan nama-nama yang ditengarai berpotensi menggantikan Paus Fransiskus.

Dilansir berbagai media, Selasa (22/4/2025), sejauh ini, sekitar 15 nama kardinal muncul sebagai kandidat kuat untuk menjadi Paus berikutnya. Akan tetapi, Laporan Kolese Kardinal, laman yang menyediakan informasi lebih jauh mengenai para kardinal, mengidentifikasi 22 nama kardinal yang diyakini memiliki kecakapan dan kelayakan untuk terpilih sebagai pemimpin Gereja Katolik Roma yang akan datang.

Menurut laporan tersebut, beberapa orang di antaranya dikenal memiliki kerendahan hati, semangat untuk iman Katolik, dan promosi kebaikan. ”Namun, memprediksi Paus berikutnya sangat tidak pasti dan dia mungkin bukan salah satu dari nama yang disebut,” demikian sebut laman itu.

Paus Fransiskus, misalnya, tidak ada dalam banyak daftar kandidat pada tahun 2013. Ia dinilai terlalu tua untuk menjabat Paus. Namun, ia terpilih menjadi Paus.

Daftar nama ini bisa terus berkembang sejalan persiapan hingga pelaksanaan konklaf. Berikut ini kompilasi daftar nama dari berbagai sumber yang disebut-sebut sebagai kandidat Paus yang baru.

1. Pietro Parolin (70). Parolin adalah orang nomor dua di Vatikan selama hampir seluruh masa kepausan Paus Fransiskus. Jabatannya sebagai Perdana Menteri Vatikan membuatnya menjadi ”diplomat utama” Vatikan. Maka, ia banyak bertemu dengan para pemimpin dunia.

Kardinal asal Italia ini dianggap sangat paham permasalahan geopolitik karena pada periode 2002-2009 dia menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri. Parolin juga menjadi pengarah hubungan Vatikan dengan Vietnam, Korea Utara, Israel, serta China. Sebagai anggota Dewan Kardinal, badan penasihat, Parolin memiliki peran penting dalam kesepakatan Vatikan-China soal pengangkatan uskup pada 2018.

Kardinal Pietro Parolin, Perdana Menteri Vatikan saat menghadiri perayaan Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus di Vatikan, Minggu (13/4/2025).

2. Mario Grech (68). Saat ini dia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Sinode. Kardinal kelahiran Malta ini dipandang progresif karena dia menyerukan gereja agar mau menerima pasangan yang bercerai dan pasangan gay. Akan tetapi, pada saat yang sama dia menyatakan ketidaksetujuan terhadap perceraian dan metode IVF (bayi tabung).

Ini adalah upaya penyeimbangan yang rumit, mengikuti arahan Paus Fransiskus untuk menciptakan gereja yang inklusif dan memperhatikan kelompok marginal sambil mengakui kekhawatiran kelompok konservatif. Grech juga mengakui dialog persaudaraan di antara umat Katolik pada semua tingkatan sekaligus meyakinkan kelompok tradisionalis bahwa Gereja bukan lembaga demokrasi, melainkan bersifat hierarkhis.

3. Pierbattista Pizzaballa (60). Kardinal asal Italia ini adalah pejabat tinggi Vatikan untuk urusan Timur Tengah. Wilayah kerjanya mencakup Israel, Palestina, Jordania, dan Siprus. Ia diangkat sebagai kardinal tahun 2023.

Posisinya sebagai penghubung Vatikan dengan sejumlah keuskupan di Timur Tengah membuat Pizzaballa dipandang memiliki relasi yang sangat baik dengan umat dan para pengambil kebijakan di wilayah tersebut. Akan tetapi, dilansir dari New York Times dia dijauhkan dari politik Vatikan setelah menghabiskan sebagian besar kariernya di Jerusalem.

4. Fridolin Ambongo (65). Kardinal Ambongo adalah Uskup Agung Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, satu-satunya wakil Benua Afrika di Dewan Kardinal. Paus Fransiskus sejak lama memikirkan agar Gereja Katolik lebih inklusif, termasuk dalam penentuan individu yang duduk di jabatan-jabatan tinggi. Pergi ke pinggiran adalah saran Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus, seorang Argentina, adalah orang non-Eropa pertama yang memimpin gereja sejak tahun 741. Meskipun demikian, Fransiskus berasal dari keluarga dengan akar Italia.

Walau begitu, Ambongo memiliki pandangan yang berbeda dengan Paus Fransiskus soal kelompok marginal. Sebagai presiden Simposium Konferensi Episkopal Afrika dan Madagaskar, ia menandatangani surat pada Januari 2024 yang menentang deklarasi Vatikan yang mengizinkan para pastor untuk melakukan pemberkatan nonliturgis atas pernikahan sesama jenis.

Kardinal Fridolin Ambongo Besungu saat memimpin misa untuk mendoakan Paus Fransiskus di Katedral Kongo di Kinshasa, Kongo, Senin (21/4/2025).

5. Matteo Zuppi (69). Kardinal Zuppi asal Italia dipandang memiliki kemiripan pemikiran dengan mendiang Paus Fransiskus, yakni bahwa gereja harus mewakili dan mendukung kaum papa dan kelompok terpinggirkan. Kardinal kelahiran Bologna itu, seperti halnya Paus Fransiskus, menghabiskan separuh hidupnya untuk bekerja dan membantu kelompok warga miskin dan termarginalkan, termasuk migran. ”Menyambut migran adalah tantangan sejarah Eropa,” katanya. ”Kristus mengundang kita untuk tidak berpaling”.

Zuppi adalah anggota komunitas Roma Sant’Egidio. Seperti kerja-kerjanya dengan kelompok marginal, dia juga menjadi utusan khusus Paus Fransiskus untuk perdamaian di Ukraina. Ia gemar bersepeda. Ia mengadvokasi penerimaan migran dan kaum gay Katolik ke dalam Gereja. Zuppi juga diketahui menjabat sebagai Presiden Konferensi Episkopal Italia (CEI) sejak 2022.

6. Luis Antonio Tagle (67). Kardinal asal Filipina ini mendapat julukan Fransiskus Asia. Selama bertahun-tahun dia dianggap sebagai kandidat terbaik untuk mengembang tugas kepausan. Pandangannya moderat dan dia juga dinilai tidak takut untuk mengkritik kekurangan-kekurangan Gereja, termasuk soal pelecehan seksual pada anak di bawah umur.

Ia fasih, juga memiliki selera humor tinggi. Seperti Fransiskus, dia sangat rendah hati. Tagle adalah advokat terkemuka bagi masyarakat yang terpinggirkan, migran, dan kelompok marginal lainnya.

Diangkat sebagai kardinal tahun 2012, saat masa kepausan Paus Benediktus XVI, Tagle telah masuk dalam radar pengganti paus dalam konklaf tahun 2013, ketika Paus Fransiskus terpilih. Ia mendampingi Fransiskus atau membantu mempersiapkan perjalanannya ke Asia, termasuk tur melelahkan selama 11 hari ke Asia Tenggara dan Pasifik pada musim panas tahun 2024.

Foto Kardinal Luis Antonio Tagle dari Filipina yang diambil pada 2 Mei 2016. Kardinal Tagle disebut-sebut sebagai salah satu kandidat untuk meneruskan misi kepausan Vatikan, menggantikan mendiang Paus Fransiskus yang wafat, Senin (21/4/2025).

7. Jean-Marc Aveline (66). Lahir di Aljazair, Aveline menghabiskan sebagian besar hidupnya di Marseille, Perancis. Pengalamannya sewaktu kecil yang harus melarikan diri ke Perancis karena perang di Aljazair, mendekatkan dirinya pada perjuangan para migran. Dilansir dari laman majalah Time, menetap di Marseille, sebuah kota di Perancis dengan populasi warga Muslim cukup signifikan, membuat Aveline memberikan dukungan yang besar pada dialog antariman dan antaragama. Dua hal ini dipandang sebagai prinsip utama kepausan Paus Fransiskus.

8. Peter Erdo (72). Intelektual dan pakar hukum kanon yang disegani, Kardinal Erdo fasih berbicara dalam tujuh bahasa. Kardinal asal Hongaria ini diangkat sebagai kardinal saat usianya masih 51 tahun, salah satu kardinal termuda yang pernah ditujuk oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 2003.

Dianggap memiliki pandangan yang konservatif karena menentang umat yang bercerai dan kemudian menikah lagi agar bisa menerima komuni. Dia juga penentang pernikahan sesama jenis. Erdo pernah membandingkan sikap terbuka terhadap migran sama dengan terbuka terhadap penyelundupan manusia. Akan tetapi, dialog dengan Paus Fransiskus dipandang telah mengubah sikap itu.

9. Jean-Claude Hollerich (66). Kardinal Hollerich adalah seorang Jesuit, seperti halnya mendiang Paus Fransiskus. Hollerich, kardinal asal Luksemburg, menghabiskan lebih dari 20 tahun di Jepang. Dia memiliki pemahaman yang luas tentang relasi budaya Eropa-Asia serta sastra Jerman.

Dipandang sebagai sosok yang teguh pada dogma, Hollerich terbuka terhadap kebutuhan Gereja untuk beradaptasi dengan perubahan masyarakat. Dia juga dikenal sebagai advokat berbagai permasalahan lingkungan hidup dan terus mendorong anak-anak muda untuk lebih terlibat dengan kegiatan-kegiatan gereja.

10. Anders Arbolius (75). Kardinal Arbolius diangkat sebagai kardinal pada 2017. Ia kardinal pertama dari Swedia, negara yang mayoritas penduduknya menganut Lutheran. Seperti Paus Fransiskus, Arborelius menganjurkan untuk menyambut para migran ke Eropa.

Dilansir dari The New York Times, Kardinal Arborelius menyebut tantangan terbesar Gereja adalah membangun jembatan bagi dunia yang tengah terpolarisasi, memberikan pengaruh lebih besar pada perempuan di dalam Gereja, dan membantu keluarga untuk mewariskan keimanan pada generasi berikutnya.

Seorang jemaah menundukkan kepala di hadapan foto mendiang Paus Fransiskus yang disediakan oleh sekolah menengah pertama St Stanislaus di Surabaya, Selasa (22/4/2025).

11. Maung Bo (77). Dia adalah kardinal kedua asal Asia yang masuk dalam daftar kandidat penerus kepausan. Diangkat sebagai kardinal oleh Paus Fransiskus pada 2015, dia menjadi kardinal pertama dan satu-satunya di Myanmar.

Bo menyerukan dialog dan rekonsiliasi di Myanmar yang sering dilanda konflik. Dia juga menyarankan kelompok oposisi melakukan balasan nonkekerasan terhadap kudeta militer oleh Tatmadaw, Februari 2021. Dia dipandang sebagai salah satu pembela warga minoritas Rohingya yang teraniaya. Dia menyebut warga Rohingya adalah korban ”pembersihan etnis”, dan menentang perdagangan manusia yang mencabut nyawa banyak pemuda Myanmar.

12. Peter Turkson (76). Kardinal asal Ghana ini dianggap akan menjadi pilihan progresif bagi Gereja. Diangkat sebagai kardinal tahun 2003 pada masa kepausan Paus Yohanes Paulus II, Turkson diminta untuk membantu Paus Fransiskus memimpin majelis khusus yang mengadvokasi pembangunan di wilayah Amazon serta memimpin dewan untuk keadilan dan perdamaian.

Lahir dalam keluarga besar, Turkson fasih berbicara dalam enam bahasa. Dia pernah berbagi pandangan dengan para pemimpin global dan para ekonom papan atas soal bahaya ekonomi trickle-down bagi kelompok marginal.

13. Robert Francis Prevost (69). Lahir di Chicago, Illionis, Amerika Serikat, salah satu tugas utamanya adalah memberi masukan bagi Paus soal pengangkatan uskup-uskup yang baru. Bertahun-tahun bertugas di Peru dan wilayah Amerika Selatan, Prevost diangkat sebagai kardinal pada tahun 2023. Dia adalah pemimpin Komisi Kepausan untuk wilayah Amerika Latin.

14. Timothy M. Dolan (75). Kardinal berdarah Irlandia-AS ini adalah ekstrovert yang periang. Pada saat yang sama, dia seorang konservatif teologis yang sangat menentang aborsi. Mantan Uskup Agung Milwaukee ini tengah mencoba meningkatkan gairah umat untuk datang ke Gereja di New York. Caranya adalah dengan merangkul populasi Hispanik yang terus bertambah, yang sebagian besar beragama Katolik. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase