Parade Militer China, Ajang Xi Jinping Unjuk Kekuatan

Parade militer terbesar ini jadi cara China menunjukkan kekuatan militer pada dunia internasional. Parade juga menjadi cara China mengirim pesan pengaruh geopolitik.

03 Sep 2025 14:21 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

BEIJING, RABU — China menggelar parade militer terbesar pada Rabu (3/9/2025). Parade militer ini bukan digelar untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, sekaligus menjadi ajang China untuk unjuk kekuatan persenjataan. Hal ini menjadi sinyal pengaruh geopolitik China yang kian menguat.

Sebelum parade di Lapangan Tiananmen dimulai, Presiden Xi Jinping berpidato. Dalam pidato singkatnya di hadapan 50.000 pengunjung, Xi menyampaikan, ”Saat ini, umat manusia dihadapkan pada pilihan damai atau perang, dialog, atau konfrontasi, menang-menangan, atau zero sum.”

Xi melanjutkan, ”Rakyat China berdiri teguh di sisi sejarah yang benar.” 

Xi juga mengawali pidatonya dengan mengenang para korban perang dan menyerukan pemberantasan akar perang untuk mencegah terulangnya sejarah kelam.

Sebelum Xi berpidato, upacara dimulai dengan salut artileri 80 meriam untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Salut meriam lalu diikuti lagu kebangsaan, ”Pawai Relawan”. Lagu ini digubah pada tahun 1935 selama tahun-tahun awal perlawanan terhadap invasi pasukan Jepang.

Setelah berpidato, Xi menginspeksi pasukan dan peralatan militer. Xi melintasi seluruh formasi yang berbaris di sepanjang Jalan Chang’an, pusat kota Beijing, dengan limusin hitam bergaya klasik.

Ia berdiri melalui celah di atap mobil dengan empat mikrofon berjajar di depannya. Ia juga menyapa barisan pasukan yang ia lewati. Pasukan yang ia lewati serempak meneriakkan semboyan seperti, ”Kami melayani rakyat.”

Xi'an Y-20 Kunpeng aircraft and two jet fighters perform an air refueling maneuver during a military parade to commemorate the 80th anniversary of the end of World War II held in front of Tiananmen Gate in Beijing, China, Wednesday, Sept. 3, 2025. (Alexander Kazakov, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP)

Setelah menginspeksi pasukan, Xi ditemani Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tiba lebih awal di Gerbang Tiananmen untuk menyaksikan parade.

Saat menuju platform atau panggung, Xi berhenti sejenak. Ia menjabat tangan lima veteran Perang Dunia II, beberapa di antaranya berusia lebih dari 100 tahun.

Mengenakan setelan jas ala mantan pemimpin besar China Mao Zedong, Xi juga menyapa lebih dari 20 pemimpin negara mitra di karpet merah, di antaranya Presiden RI Prabowo Subianto.

Kehadiran Presiden Prabowo dinilai mengejutkan. Awalnya Presiden Prabowo mengumumkan batal hadir karena di Indonesia saat ini tengah dilanda gelombang unjuk rasa memprotes besarnya tunjangan anggota DPR di tengah kondisi ekonomi rakyat yang sulit.

Namun, Presiden Prabowo terbang menuju China pada Selasa (2/9/2025) malam. Ia tiba di China pada Rabu pagi.

Istri Xi, Peng Liyuan, terdengar mengucapkan, ”Senang bertemu Anda”, dan ”Selamat datang di Tiongkok” kepada beberapa tamu dalam bahasa Inggris.

Selama parade, Xi duduk di antara Putin dan Kim. Semua mata tertuju pada bagaimana trio Xi, Putin, dan Kim yang jarang meninggalkan Korea Utara berinteraksi satu sama lain. Mereka terlihat bercakap-cakap, sementara pasukan dan perlengkapan militer berparade di hadapan mereka.

Menurut pejabat militer China, sebagian besar persenjataan dan peralatan dalam parade tersebut baru pertama kali diperlihatkan kepada publik. Persenjataan tersebut meliputi senjata strategis berbasis darat, laut, dan udara, peralatan perang presisi canggih, dan drone.

Sebuah helikopter yang membawa spanduk besar dan jet tempur terlihat terbang dalam formasi di atas selama parade yang berdurasi 70 menit itu. Parade itu dinilai sarat dengan simbolisme dan propaganda. Kegiatan ini berpuncak pada pelepasan 80.000 merpati perdamaian dan balon warna-warni.

From left, Russian President Vladimir Putin, Chinese President Xi Jinping and North Korean leader Kim Jong Un arrive at a reception following a military parade to commemorate the 80th anniversary of the end of World War II in Beijing, China, Wednesday, Sept. 3, 2025. (Vladimir Smirnov, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP)

Tanggapan Trump

Parade yang dikoreografi dengan apik tersebut menuai tanggapan pedas dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Saat parade dimulai, Presiden Trump mengunggah cuitan di Truth Social.

”Sampaikan salam hangat saya kepada Vladimir Putin dan Kim Jong Un karena kalian berkonspirasi melawan AS,” demikian cuitan Trump.

Diketahui, parade militer tersebut berlangsung di tengah ketegangan hubungan antara Washington dan para sekutu akibat kebijakan ”America First” dan perang dagang.

Trump juga menyoroti peran AS dalam membantu China mengamankan kemerdekaannya dari Jepang. Padahal, sebelum parade, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya tidak melihat parade tersebut sebagai tantangan bagi AS.

Juru bicara Pemerintah Jepang menolak berkomentar mengenai parade tersebut. Juru Bicara Pemerintah Jepang justru menambahkan bahwa Jepang dan China sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia sedang membangun ”hubungan yang konstruktif”.

Helicopters fly past during a military parade to commemorate the 80th anniversary of the end of World War II held in front of Tiananmen Gate in Beijing, China, Wednesday, Sept. 3, 2025. (Alexander Kazakov, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP)

Acara puncak

Parade militer tersebut disebut sebagai klimaks dari pekan yang penuh sorotan kepada Xi. Pada Minggu dan Senin lalu ia menjamu sejumlah pemimpin negara yang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin.

SCO disebut sebagai gaya kolaborasi non-Barat di kawasan tersebut dan berupaya menjadi alternatif bagi aliansi tradisional. Selama KTT tersebut, Xi mengecam ”perilaku perundungan” dari beberapa negara. Sementara Putin membela serangan Rusia di Ukraina dan menyalahkan Barat karena memicu perang Rusia-Ukraina.

Banyak tamu dari pertemuan Tianjin, termasuk Presiden Belarus Alexander Lukashenko dan beberapa pemimpin lainnya, bergabung dengan Xi untuk parade di Beijing. Namun, tidak ada pejabat tinggi Barat di antara dua lusin pemimpin dunia yang hadir dalam acara tersebut.

Bagi China, perayaan dan parade tersebut merupakan cara untuk menunjukkan seberapa jauh China telah berkembang. Dalam PD II, China merupakan garda terdepan.

Fakta ini sering diabaikan dalam laporan yang lebih terfokus pada perjuangan untuk Eropa dan pertempuran laut AS di Pasifik. Invasi Jepang sebelum perang dan konflik itu sendiri menewaskan jutaan rakyat China.

Bagi dunia internasional, parade militer tersebut merupakan unjuk kekuatan untuk meningkatkan dukungan bagi Partai Komunis dan Xi. Parade militer ini juga menjadi cara China untuk menggambarkan dirinya sebagai alternatif global bagi era pascaperang yang didominasi AS.

Untuk mendukung parade, keamanan di sekitar Beijing telah diperketat dalam beberapa pekan terakhir. Pihak berwenang menutup jalan, sementara personel militer ditempatkan di jembatan dan sudut-sudut jalan.

A dove stands in Tiananmen Square at the end of a military parade marking the 80th anniversary of victory over Japan and the end of World War II, in Beijing on September 3, 2025. (Photo by GREG BAKER / AFP)

Penghalang dipasang untuk menjaga jarak satu blok dari publik. Sementara gedung-gedung komersial di sepanjang rute parade dikosongkan dan ditutup hingga parade berakhir.

Bisa dibilang parade militer tersebut sangat terorganisasi dan dikontrol dengan ketat. Parade itu juga bukan jenis parade di mana orang banyak berbaris di jalan untuk menonton. Bagi kebanyakan orang, satu-satunya cara untuk menonton adalah melalui televisi atau siaran langsung. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji