Ketidakpastian menyelimuti dunia olahraga Iran. Fasilitas dan kantor federasi olahraga di sana terdampak serangan Israel.
24 Jun 2025 16:58 WIB · Olahraga
Respons terhadap serangan Israel dan Amerika Serikat berdampak signifikan pada olahraga Iran, negara yang dulu dikenal dengan nama Persia. Partisipasi Iran di Piala Dunia 2026 masih belum pasti. Otoritas Iran per Senin (23/6/2025) mencatat setidaknya 26 atlet dari sejumlah cabang olahraga menjadi korban jiwa dalam serangan udara Israel ke teritori mereka.
Di tengah ingar-bingar Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat, FIFA dibayangi pertanyaan tentang nasib Iran di Piala Dunia 2026. Iran sudah memastikan diri sebagai salah satu dari enam tim asal Asia di pentas dunia tahun depan.
”Team Melli”, julukan tim nasional sepak bola Iran, melanjutkan tren tampil di Piala Dunia dalam empat edisi beruntun. Hanya Korea Selatan (11 edisi) dan Jepang (8 edisi) yang memiliki rentetan partisipasi Piala Dunia lebih panjang dibandingkan dengan Iran saat ini.
Jika eskalasi konflik terus terjadi selama tahun ini, skuad Iran bakal kesulitan memiliki kesempatan untuk mempersiapkan untuk menuju Piala Dunia 2026. Dalam waktu dekat, Iran sudah memiliki dua agenda laga uji coba pada Oktober mendatang. Mereka dijadwalkan melawan Rusia pada 9 Oktober, lalu menghadapi Chile, 14 Oktober. Lokasi dua pertandingan itu belum ditentukan.
Iran pun akan sulit untuk menggelar kembali pertandingan di Stadion Azadi, Teheran. Laga kandang pamungkas putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 kontra Korea Utara, beberapa waktu lalu, berpotensi menjadi pertandingan terakhir di Teheran dalam beberapa tahun mendatang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/24/e2066e43a564e4bff1c8f3da80666ebd-IMG_4232.jpeg)
Merujuk sejarah Piala Dunia yang telah dilaksanakan sejak 1930, FIFA tidak pernah menganulir keikutsertaan tim yang sudah lolos ke babak utama. FIFA hanya pernah melarang Afrika Selatan dan Yugoslavia berlaga di Piala Dunia dalam dua edisi berbeda.
Afsel dilarang mengikuti Piala Dunia 1966 akibat rezim apartheid yang melanggar aturan antidiskriminasi FIFA. Adapun Yugoslavia tidak bisa tampil di Piala Dunia 1994 karena menerima sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang kejahatan perang dengan Bosnia-Herzegovina. Namun, kedua tim itu sudah dilarang mengikuti babak kualifikasi.
Hingga tulisan ini naik, belum ada pernyataan resmi dari FIFA, terutama Presiden FIFA Gianni Infantino, terkait nasib Iran di Piala Dunia 2026. Kompas juga sudah mengirimkan surel kepada perwakilan juru bicara FIFA, tetapi belum mendapatkan balasan.
Ancaman terhadap Iran di Piala Dunia 2026 justru hadir dari Pemerintah Amerika Serikat selaku salah satu tuan rumah bersama Meksiko dan Kanada. Presiden AS Donald Trump memasukkan Iran dalam daftar 12 negara yang dilarang memasuki wilayah AS berdasarkan aturan travel ban yang ditandatanganinya, awal Juni ini.
Federasi menyampaikan belasungkawa atas kemartiran atlet kami kepada komunitas atlet negara dan keluarga mereka. - Federasi Tinju Iran -
Namun, dalam aturan itu, otoritas AS mengecualikan bagi kontingen olahraga untuk bermain di wilayah AS. Seiring serangan AS kepada Iran, pengecualian itu berpeluang tidak lagi berlaku.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/15/f3483985-ba9a-4f5b-89f2-37f08336ee7c_png.png)
Jika hal itu tetap terjadi, FIFA berpotensi menempatkan Iran untuk tampil di Meksiko. Bermain di Meksiko menjadi pilihan realistis dan adil dari FIFA untuk Team Melli. Selain itu, juga minim potensi gesekan politik dibandingkan dengan Iran tampil di Kanada.
Terdapat tiga grup yang bermain di Meksiko. Grup A, yang bakal ditempati Meksiko, sepenuhnya bermain di negara asal telenovela itu.
Selain itu, terdapat Grup F dan Grup K yang sebagian laganya berlangsung di Meksiko. Namun, agar FIFA tidak perlu mengubah arena pertandingan demi Iran, Team Melli bisa ditempatkan di Grup A.
Jika bisa memuncaki Grup A, Iran akan menjalani laga babak 32 besar di Mexico City. Lalu, apabila lolos ke fase 16 besar, pertandingan juga masih digelar di Meksiko. Sayangnya, laga-laga mulai babak perempat final hingga partai puncak digelar di AS.
Serangan misil Israel sejak 13 Juni lalu yang turut menyasar permukiman warga di sejumlah wilayah Iran juga berdampak pada tewasnya 26 atlet Iran. Teheran telah mengonfirmasi nama-nama dari 11 atlet andalan mereka di pesta olahraga internasional.
Mereka adalah Mehdi Ghaffari (wushu), Helena Gholami (karate), Saber Akbari (bola tangan), Niloufar Ghalehvand (pilates), Hamid Toumari (petembak), Mehdi Pouladvand (penunggang kuda), Najmeh Syams (pesepeda), dan Parsa Mansour (padel).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/24/2b7f3e85-d860-4c82-8d96-2320fc4d6622_jpg.jpg)
Kemudian, tiga korban tewas lainnya adalah petinju, yakni Rouhollah Salek, Sayed Ali Baghernia, serta Reza Bahrami. Federasi Tinju Iran mengutuk serangan brutal Israel yang menewaskan tiga atlet mereka.
”Federasi menyampaikan belasungkawa atas kemartiran atlet kami kepada komunitas atlet negara dan keluarga mereka,” bunyi pernyataan resmi Federasi Tinju Iran yang dilansir Tehran Times, Selasa WIB.
Selain kehilangan atlet, otoritas olahraga Iran juga melaporkan kerusakan sejumlah fasilitas olahraga. Kantor Pusat Federasi Bola Tangan Iran di Teheran juga menjadi sasaran serangan Israel, Senin lalu. Dalam kejadian itu dilaporkan tidak ada korban jiwa dan korban luka.
Federasi Sepak Bola Iran juga masib meliburkan sejumlah agenda pemusatan latihan untuk tim muda mereka. Salah satu tim yang memiliki agenda terdekat ialah tim sepak bola U-23 untuk kualifikasi Piala Asia U-23 2026, September mendatang.
Tim Iran U-23 tergabung di Grup I bersama tuan rumah Uni Emirat Arab, kemudian Hong Kong dan Guam.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar