Pasangan Baru, Upaya Bangkit Ganda Campuran Indonesia

Dejan/Fadia dan Rinov/Lisa tampil dalam turnamen bulu tangkis India Terbuka. Mereka menjadi bagian dari formasi baru ganda campuran Indonesia.

15 Jan 2025 15:22 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Pebulu tangkis ganda campuran Indonesia kesulitan bersaing di level elite dalam lima tahun terakhir. Formasi baru sejak menjelang akhir 2024 dan awal 2025 menjadi upaya untuk mencari pasangan yang bisa menembus persaingan top dunia.

Pada masa awal kompetisi 2025, dua ganda campuran baru dari wajah lama menjalani debut pada turnamen India Terbuka. Perjalanan mereka pada turnamen yang berlangsung di Indira Gandhi Sports Complex, New Delhi, 14-19 Januari itu berakhir berbeda.

Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti melaju ke babak kedua setelah mengalahkan Mads Vestergaard/Christine Busch (Denmark) dengan skor 21-12, 21-16 di babak pertama, Rabu (15/1/2025). Sebelum Dejan/Fadia tampil, Rinov Rivaldy/Lisa Ayu Kusumawati kalah dari unggulan keempat asal Malaysia, Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie, 17-21 17-21.

Selain dua ganda campuran tersebut, Indonesia hanya memiliki tiga wakil lain, salah satunya Gregoria Mariska Tunjung yang memenangi babak pertama, Selasa. Sementara itu, Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto menjalani babak awal pada Rabu sesi sore hingga malam waktu Indonesia. Semula, Anthony Sinisuka Ginting masuk dalam daftar undian, tetapi batal tampil karena cedera lengan saat bermain di Malaysia Terbuka, sepekan sebelumnya.

India Terbuka, yang berlevel Super 750, menjadi turnamen BWF World Tour yang kedua pada 2025. Di Malaysia Terbuka Super 1000, skuad Indonesia hanya mendapat perempat final sebagai hasil maksimal, yaitu melalui Putri Kusuma Wardani dan Lanny Tria Mayasari/Fadia.

Putri dan Lanny absen di India untuk langsung bersiap tampil dalam turnamen Indonesia Masters di Jakarta, 21-26 Januari. Akan tetapi, Fadia melanjutkan perjalanan ke India untuk bermain pada ganda campuran.

Laga babak pertama India Terbuka menjadi pertandingan pertama Fadia dalam ganda campuran sejak terakhir kali bermain pada nomor tersebut dan ganda putri saat masih yunior. Kejuaraan Dunia Yunior 2018 di Kanada menjadi ajang terakhir Fadia bermain pada ganda campuran saat berpasangan dengan Rehan Naufal Kusharjanto. Mereka mencapai final pada kejuaraan tertinggi untuk atlet berusia 18 tahun ke bawah tersebut.

Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti menjalani debut sebagai pasangan dalam turnamen India Terbuka. Mereka memenangi babak pertama di New Delhi, Rabu (15/1/2025).

Fadia dimainkan kembali pada nomor ganda campuran bersama Dejan, yang berpartner bersama Gloria Emanuelle Widjaja dan berlatih di PB Djarum, sejak 2022. Dejan pun berstatus sebagai pemain pelatnas sejak akhir 2024, sementara Gloria direncanakan berpasangan bersama Rehan yang tak lagi menjadi anggota pelatnas.

Dalam debut, Dejan/Fadia memenangi pertandingan dalam waktu 33 menit. Mereka bermain dalam irama cenderung cepat, termasuk ketika Fadia mengatur pola permainan dan mencegat pukulan lawan di depan net.

Selanjutnya, hasil latihan mereka sejak pekan ketiga Desember 2024 akan diuji oleh Gregory/Jenny Mairs (Inggris) atau Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin (China) pada babak kedua. Jika melawan Jiang/Wei yang menjadi unggulan kedua, Dejan akan berbagi pengalaman dengan Fadia karena enam kali berhadapan dengan mereka ketika berpasangan dengan Gloria. Dejan/Gloria tertinggal 2-4, tetapi bisa mengalahkan Jiang/Wei pada babak pertama All England 2024.

Dejan mengatakan, dia dan Fadia fokus pada diri sendiri saat bertanding bersama untuk pertama kalinya. ”Kami berusaha bermain seperti taktik yang disiapkan, sudah berjalan cukup baik, tetapi belum mantap. Kami juga berusaha menjaga komunikasi,” kata Dejan.

Fadia pun menyoroti faktor komunikasi karena enam tahun lamanya tak bertanding pada nomor ganda campuran. Berbeda dengan ganda putri, ketika setiap pemain lebih fleksibel dalam berbagi peran, pemain putri pada ganda campuran memiliki peran utama dalam mengatur permainan di lapangan depan. Adapun pemain putra menjadi eksekutor dalam menyerang.

”Di ganda campuran, pergerakan kaki saya harus lebih cepat agar bisa mencari celah untuk membuka serangan,” kata Fadia.

Rinov Rivaldy/Lisa Ayu Kusumawati untuk pertama kalinya berpasangan dalam turnamen BWF. Mereka kalah pada babak pertama India Terbuka di New Delhi, Rabu (15/1/2025).

Sementara itu, Rinov menilai, dia dan Lisa masih harus membangun ikatan dan mengingat kebiasaan cara bermain partner. Meskipun mereka sering bermain bersama dalam latihan, situasi dalam pertandingan terasa berbeda karena adanya tekanan. ”Kebiasaan satu sama lain harus lebih diingat. Tadi, kami juga masih banyak melakukan kesalahan,” katanya.

Sebelum berpasangan bersama Lisa, Rinov berpasangan dengan Pitha Haningtyas Mentari sejak Maret 2018. Setelah menjadi juara dunia yunior 2017, Rinov/Pitha kesulitan bersaing pada level lebih tinggi. Dari tiga gelar juara, pencapaian tertinggi didapat dari level Super 300, yaitu dari Spanyol Masters 2021 dan 2024.

Setelah India Terbuka, Rinov/Lisa dan Dejan/Fadia akan tampil di Indonesia Masters. Namun, awal perjalanan mereka akan berbeda, Rinov/Lisa langsung main di babak utama, sedangkan Dejan/Fadia dari babak kuaifikasi. Adapun Pitha akan menjalani debut bersama pemain yang lebih muda, Verrell Yustin Mulia.

Turnamen Super 500 di depan pendukung sendiri itu menjadi ajang tampilnya ganda campuran lain yang dipasangkan seusai Olimpiade Paris 2024, di antaranya Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah, Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, dan Jafar Hidayatullah/Felisha Albertha Nathaniel Pasaribu.

Formasi-formasi tersebut dibentuk sebagai upaya untuk membangkitkan kekuatan ganda campuran Indonesia yang menurun dalam lima tahun terakhir, tepatnya setelah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir pensiun. Setelah peraih emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 itu tak lagi bertanding, hanya Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti yang bisa menjuarai BWF World Tour level tinggi, itu pun mereka tak bisa tampil konsisten di level atas.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra