Pasar Belum Membaik, Bagaimana Prospek IPO Saham Beraset Jumbo?

Meski antrean IPO berkurang tahun ini, perusahaan beraset besar masih mendominasi.

14 Mar 2025 17:36 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Pelemahan pasar saham saat ini memberikan tantangan bagi saham-saham yang baru melakukan penawaran saham perdana atau IPO di 2025. Meski kondisi pasar melemahkan aktivitas IPO, sejumlah perusahaan beraset besar tetap percaya diri mencari pendanaan di bursa.

Sebanyak 10 emiten baru mewarnai pasar modal Indonesia sejak awal tahun sampai 15 Maret 2025. Sepuluh perusahaan itu mampu menghimpun dana dari IPO sebesar Rp 3,88 triliun. Di antara mereka, ada dua perusahaan yang mampu menggalang dana jumbo, yakni PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), masing-masing Rp 0,62 triliun dan Rp 2,3 triliun.

Pengamat pasar modal, Alfred Nainggolan, saat dihubungi Kompas, Jumat (14/3/2025), di Jakarta, menilai, perkembangan IPO sejauh ini menunjukkan tren penurunan penggalangan dana di pasar modal.

Menurut catatannya, jumlah pencatatan saham baru dan penghimpunan dana IPO jauh lebih besar pada periode sama di 2024 dengan 19 perusahaan yang mampu menghimpun dana hingga Rp 3,4 triliun. Bahkan, pada 2023 lebih banyak lagi, dengan 27 perusahaan yang mampu menggalang dana mencapai Rp 12,4 triliun.

”Secara nilai atau dana IPO memang lebih besar (tahun ini). Namun, secara jumlah IPO mengalami penurunan jauh. Tahun ini, kita memprediksi secara jumlah (perusahaan) akan mengalami penurunan atau di bawah target Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 66 perusahaan IPO,” tuturnya.

Pergerakan indeks terpantau dari monitor di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Jumat (7/2/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir pekan di tutup di zona merah. IHSG turun 1,93 persen atau 132,96 poin ke level 6.742,58 dari hari sebelumnya. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 07-02-2025

Saat ini, menurut dia, memang bukan momentum positif untuk IPO karena pasar saham tengah berada di tren penurunan atau bearish. Sejak awal tahun, IHSG telah mengalami koreksi sekitar 7 persen dari level 7.000 ke 6.543. Investor asing yang mendominasi sumber aset di pasar modal sudah mencatatkan penjualan bersih hingga sekitar Rp 24 triliun.

”Hal ini, mengindikasikan kondisi ekspektasi pelaku pasar pesimistis terhadap kondisi makro yang ada saat ini,” ujarnya.

Saham defensif

Namun, kondisi ini tidak mengurungkan niat perusahaan beraset besar untuk melanjutkan penawaran saham perdana di pasar modal. Data BEI per akhir Februari menunjukkan, ada 24 perusahaan yang mengantre untuk melantai di bursa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 perusahaan beraset besar atau di atas Rp 250 miliar.

Hal ini berbeda dengan periode sama tahun lalu, di mana pada awal Maret 2024, sebanyak 17 perusahaan yang bersiap IPO mayoritas berasal dari kelas aset menengah, yakni antara Rp 50 miliar sampai dengan Rp 250 miliar.

Alfred menilai, IPO tidak akan terlalu menantang bagi perusahaan beraset besar karena mereka punya kemampuan lebih besar untuk mengapitalisasi pasar dan memperoleh dana. Hal ini akan sejalan dengan valuasi dan tingginya harga IPO mereka.

”Selain itu, perusahaan yang sudah memiliki anchor investor saat IPO, tentu tidak terlalu mempertimbangkan kondisi pasar mengingat sudah ada kesepakatan dalam penyerapannya,” kata Alfred menambahkan.

Kemampuan defensif tersebut lebih sulit dilakukan emiten beraset kecil yang IPO di tengah pelemahan pasar. Saham bervaluasi rendah yang mereka tawarkan saat IPO akan lebih cepat menurun dibandingkan dengan perusahaan eksisting yang sejenis. Selain peforma harga, likuiditas atau transaksi harian saham juga menjadi tantangan bagi saham-saham tersebut.

Foto bersama jajaran direksi PT Raharja Energi Cepu Tbk dengan Bursa Efek Indonesia usai acara peresmian pencatatan saham perdana perseroan dengan kode RATU di Jakarta, Rabu (8/1/2024).

Hal ini tecermin dari beberapa kinerja saham dengan dana IPO kecil atau menengah. Saham PT Raja Ratu Roti Cemerlang Tbk (BRRC) yang pada 9 Januari ditawarkan kepada publik dengan harga Rp 210 kini terjerembap ke harga Rp 55 per lembar. PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) yang kini dihargai Rp 93, turun dari harga tertinggi Rp 140 setelah IPO di harga Rp 100 per lembar.

Demikian juga dengan saham PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) yang dirilis pada 10 Maret di harga Rp 118, saat ini turun hingga Rp 62 per lembar.

Sementara itu, harga saham beraset jumbo yang menggalang dana IPO dalam nilai besar hanya terkoreksi sedikit. Saham RATU yang melantai di bursa 8 Januari di harga Rp 1.150, kini ada di harga Rp 4.960 per lembar, meski telah terdiskon dari harga tertinggi sekitar Rp 9.000-an. Harga saham CBDK sejak masa IPO juga masih tumbuh 42 persen ke harga Rp 5.775 per lembar, kendati telah terpangkas 50 persen dari harga tertingginya.

Andalkan fundamental

Faktor tren sektoral yang mendukung fundamental perusahaan, menurut Analis Pasar Modal Stocknow.id, Hendra Wardana, juga menjadi faktor lain yang mendorong kebutuhan pendanaan disambut positif.

”Sektor-sektor yang tengah naik daun, seperti energi terbarukan, kesehatan, dan manufaktur juga menjadi faktor yang membuat perusahaan besar lebih percaya diri untuk IPO,” katanya saat dihubungi terpisah.

Sejarah mencatat bahwa saham IPO dengan prospek bisnis yang menjanjikan tetap mampu menarik investor meskipun pasar bergejolak. Dengan demikian, prospek kinerja saham IPO ke depan sangat bergantung pada kualitas perusahaan yang melantai di bursa.

”Jika IPO didominasi oleh perusahaan dengan fundamental solid dan valuasi wajar, kepercayaan investor akan meningkat, mendorong saham-saham IPO untuk bertumbuh dan menarik lebih banyak emiten untuk mengikuti jejak yang sama,” tuturnya.

Selain faktor regulasi, strategi penentuan harga, menurut dia, menjadi hal krusial. Jika valuasi terlalu tinggi, risiko saham turun setelah menjadi perusahaan terbuka semakin besar, yang dapat merugikan investor dan menciptakan sentimen negatif bagi calon emiten lainnya. 

Contoh obat-obatan yang didistribusikan melalui Goapotik dari PT Medela Potentia Tbk dipamerkan dalam acara Public Expose PT Medela Potentia Tbk di Jakarta, Kamis (13/3/2025).

Faktor fundamental keuangan dan bisnis yang kuat menjadi pengungkit kepercayaan diri PT Medela Potentia, yang akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 15 April mendatang. Perusahaan distributor farmasi dan produsen alat kesehatan itu menilai sektor bisnis mereka tetap dibutuhkan di tengah krisis sehingga akan tumbuh positif. 

”Kami secara fundamental kuat dan kita ada di industri defensif. Contoh waktu pandemi Covid-19, bisnis kita jalan terus, karena orang sakit enggak bisa ditunda. Kalau pasar sekarang sepi, no matter what, pasar akan kembali. Yang penting fundamental kita, penjualan, profit margin bagus,” kata Presiden Direktur Medela Potentia, Krestijanto Pandji, di Jakarta, Kamis (13/3/2025).

Keyakinan akan kinerja fundamental yang bagus dibuktikan dengan pendapatan sebesar Rp 14,5 triliun, dengan laba bersih mencapai Rp 341 miliar di 2024. Setelah mendapatkan modal tambahan dari IPO untuk ekspansi bisnis, perusahan itu menargetkan peningkatan pertumbuhan pendapatan dan laba 11-12 persen di 2025.

Dalam aksi IPO ini, Medela Potentia berencana melepas 3,5 miliar lembar saham setara dengan 25 persen dari modal ditempatkan. Setiap saham akan ditawarkan dengan harga Rp 180-Rp 230 per lembar saham sehingga potensi penerimaan dana IPO dapat mencapai maksimal Rp 805 miliar.

Dalam waktu dekat, produsen permen dengan merek terkenal, Yupi, PT Yupi Indo Jelly Gum, juga akan segera menghimpun dana jumbo maksimal Rp 2,13 triliun di pasar modal. Ini ditargetkan dengan menawarkan sebanyak-banyaknya 854 juta lembar saham atau sama dengan 10 persen dari total modal yang ditempatkan, dengan harga IPO Rp 2.100-Rp 2.500 per saham.

Dalam prospektusnya, mayoritas dana IPO akan digunakan untuk keperluan pembiayaan belanja modal, seperti membangun pabrik baru di Jawa Timur, dan ekspansi bisnis baik ke pasar internasional maupun pasar dalam negeri. Pemanfaatan ini akan mendukung penguatan perusahaan sebagai produsen soft candy asli Indonesia yang sudah mampu melebarkan sayap di pasar Asia Tenggara dan puluhan negara lainnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase