Pemerintah diharapkan segera menghadirkan kebijakan pro-pertumbuhan ekonomi dan pro-pasar.
11 Mar 2025 17:59 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan sepanjang perdagangan Selasa (11/3/2025) kembali terkoreksi akibat faktor kekhawatiran ekonomi Amerika Serikat dan faktor dalam negeri. Pemerintah Indonesia diharapkan segera menghadirkan kebijakan pro-pertumbuhan ekonomi dan pro-pasar.
Pada Selasa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 52 poin atau -0,79 persen ke level 6.545 dibandingkan dengan penutupan pada perdagangan hari sebelumnya atau Senin (10/3/2025). Penurunan ini sedikit lebih dalam dari perdagangan Senin yang sebesar -0,57 persen dengan faktor penjualan bersih investor asing sebesar Rp 844 miliar. Adapun sejak awal 2025, investor asing telah mencatatkan penjualan bersih hingga Rp 23 triliun.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menyampaikan, pelemahan IHSG dipengaruhi koreksi dalam di pasar saham AS. Dalam penutupan perdagangan Senin (10/3/2025) sore waktu setempat, seluruh indeks harga saham dan komoditas bursa AS rontok.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/11/3d0418ba49feedc6c981c0c7ac891694-Screenshot_20250311_173115_Ajaib.jpg)
Bursa S&P 500, Dow 30, Nasdaq, dan Russel 2000 terpangkas lebih dari 2 persen. Penurunan Nasdaq paling parah, anjlok 4 persen. Ini penurunan paling buruk sejak 2022.
”Kalau melihat data makroekonomi AS, sejauh ini menunjukkan perlambatan. Tapi, wajar saja terdapat kekhawatiran bahwasanya probabilitas resesi karena kebijakan Presiden AS Donald Trump relatif meningkat tahun ini,” tuturnya kepada Kompas.
Panin Sekuritas, dalam analisisnya, melaporkan, potensi resesi AS menjadi kekhawatiran investor dalam jangka pendek. Kekhawatiran ini muncul setelah Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) Distrik Atlanta memperkirakan bahwa perekonomian negara mereka akan terkontraksi di triwulan pertama 2025.
Presiden Trump menginformasikan bahwa kebijakan tarif yang ia berlakukan akan memberikan tekanan dalam jangka pendek, seiring dengan implementasi tarif 25 persen impor baja dan aluminium untuk Meksiko dan Kanada, akan dimulai pada Rabu (12/3/2025).
Perusahaan investasi dan perbankan multinasional, Goldman Sachs, baru-baru ini pun memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS sepanjang 2025 ke level 1,7 persen, dari sebelumnya 2,4 persen. Selain itu, inflasi juga direvisi naik ke 3 persen dari proteksi 2 persen sebelumnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/24/251456e4-6403-4ae7-b0c1-38c89f56aa71_jpg.jpg)
Goldman Sachs juga melihat bahwa kebijakan pengenaan tarif impor pada level sekitar 10 persen di 2025, dua kali lebih tinggi daripada estimasi awal dan lima kali lebih tinggi daripada awal pemerintahan Donald Trump di 2016.
Tekanan IHSG juga dipicu turunnya keyakinan investor pada ekonomi dalam negeri. Goldman Sachs juga mengeluarkan penilaian kinerja pasar modal Indonesia. Mereka memangkas peringkat Indonesia menjadi market-weight dari sebelumnya overweight, dengan rekomendasi obligasi menjadi netral.
Panin Sekuritas mencatat, penilaian tersebut disebabkan oleh kekhawatiran meningkatnya defisit fiskal seiring pembentukan Badan Pengelola Investasi Danantara serta kebijakan 3 juta rumah yang akan memperparah defisit fiskal.
Pasar modal domestik di sisi lain masih didukung proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah dan kinerja fundamental mayoritas perusahaan terbuka yang masih positif.
Nafan menilai, setidaknya proyeksi pertumbuhan ekonomi masih stabil. Dana Moneter Internasional (IMF), misalnya, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2024-2029 di kisaran 5 persen per tahun. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan 5,1 persen pada 2025 dan 2029.
”Ini kelebihan kita masih jaga stabilitas ekonomi,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/24/2f4b7cb2-0fc5-40ee-9f01-565bcc4507ed_jpg.jpg)
Sementara Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan bisa mencapai 8 persen sampai akhir periode kepemimpinannya di 2029. Target ini diperkirakan terkendala perlambatan konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah. Untuk itu, Nafan mengatakan, investasi harus bisa ditingkatkan, termasuk dari investasi pasar modal.
Sementara itu, di tengah pelemahan pasar modal, pemerintah perlu segera membuat kebijakan pro-market, selain kebijakan promasyarakat dalam program-program populis. ”Pro-market policy yang berkesinambungan diperlukan agar meningkatkan kepercayaan investor asing di Indonesia,” ujarnya.
Kebijakan pemerintah untuk memberikan sentimen positif ke pasar modal saat ini dinilai akan menjadi momen yang tepat. Saat ini, menurut dia, kinerja fundamental perusahaan tercatat mayoritas masih lebih positif dibandingkan dengan kinerja saham yang undervalue (harga saham di bawah nilai intrinsiknya).
”Harga saham sudah terdampak penurunan akibat penjualan bersih investor asing. Paling tidak posisi IHSG sudah di bawah atau undervalue kalau sentimen positif muncul,” katanya.
Pilarmas Investindo Sekuritas dalam laporannya mencatat, selama perdagangan Februari 2025, IHSG bergerak melemah 11,80 pesen. Saham sektor teknologi mendapati posisi terendah karena minus 16,74 persen, sementara saham sektor teknologi paling kuat naik hingga 43,53 persen.
”Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG pada Maret 2025 memiliki peluang melemah terbatas untuk bergerak dengan support dan resistance di level 6.400-6.700,” kata Tim Analis Pilarmas.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Aris Prasetyo