Pasar Modal Dapat Kembali Menguat jika Demonstrasi Kondusif

Jika keadaan mulai kondusif, pasar akan kembali menguat. Potensi ini didukung data perekonomian.

01 Sep 2025 18:52 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Pasar saham dan obligasi mengalami volatilitas seiring pasar yang masih merespons negatif kondisi sosial dan politik di dalam negeri. Situasi yang makin kondusif bisa membalikkan situasi, didukung dengan membaiknya indikator perekonomian dalam negeri.

Kinerja pasar keuangan di pasar modal terguncang pada Senin (1/9/2025), terutama di pasar saham. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini melemah 1,21 persen ke level 7.736 dibanding penutupan perdagangan sebelumnya. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah 10 tahun pun menguat tipis ke level 6,32 persen.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menyebut, hal ini dipengaruhi oleh kepercayaan pasar yang belum sepenuhnya meningkat. Seperti halnya investor asing, yang pada Jumat (29/8/2025) melakukan aksi jual mencapai Rp 1,1 triliun di seluruh perdagangan.

”Kami melihat pasar membutuhkan kepastian dari pemerintah untuk dapat menjaga stabilitas politik dan tidak terjadi aksi yang berkelanjutan, apalagi hingga berdampak pada perekonomian,” ujarnya.

Indeks pergerakan harga saham (IHSG) terpampang di layar monitor di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/9/2025). Unjuk rasa yang berakhir dengan bentrok, yang terjadi selama beberapa hari terakhir ini menyebabkan IHSG nyungsep. Hari ini IHSG ditutup pada posisi 7.736,07 atau melemah 94,43 poin dari penutupan akhir pekan lalu.

01-09-2025
Kompas/Totok Wijayanto (TOK)

Meski demikian, Audi menilai, jika keadaan mulai lebih kondusif, pasar akan kembali menguat. Potensi ini didukung data perenonomian. Hari ini, pasar dinilai merespons positif rilis inflasi periode Augustus 2025 yang pertumbuhannya melambat atau hanya 2,31 persen secara tahunan. Laju inflasi ini masih dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5 persen-3,5 persen secara tahunan.

Pasar juga disebut masih menilai positif data seperti pertumbuhan pendapatan domestik bruto (PDB) triwulan II-2025 di level 5,12 persen secara tahunan, lalu S&P PMI Manufaktur Indonesia yang mulai kembali masuk dalam zona ekspansif. Nilai tukar rupiah sejak sebelum ramainya unjuk rasa juga dinilai mulai solid walaupun kurang sepekan terakhir melemah di kisaran Rp 16.417 hingga Rp 16.516 per dollar AS. 

Selain mencermati situasi dalam negeri, investor juga akan menimbang potensi pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin hingga akhir tahun dan juga gencatan tarif AS dan Tiongkok. Jika terjadi sesuai ekspektasi, ini akan menjadi pendorong masuknya dana asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

”Kami memperkirakan IHSG akan bergerak mixed cenderung melemah dalam sepekan ke depan dalam rentang level support 7.540 dan resistance 7.908. Sementara untuk obligasi pemerintah 10 tahun kami perkirakan tetap dalam tren penurunan yield seiring dengan kebijakan moneter yang akan longgar dengan target 6,1-6,2 persen dalam jangka menengah,” kata Audi.

Layar di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, yang menampillan grafik INDOBeX Government, indeks yang menggambarkan imbal hasil obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) beberapa waktu terakhir sampai Senin (1/9/2025).

Saham emas laris

Di tengah kondisi perekonomian saat ini, investor melakukan peralihan aset saham ke sektor defensif dan barang baku. Hal ini salah satunya menimbang terus naiknya harga emas dunia kembali mendekati rekor yang pernah dicapai sebelumnya senilai 3.500 dollar AS per troy ons pada April 2025.

”Harga emas yang mencetak level tertinggi dalam sebulan terakhir atau di level 3.400 dollar AS per ons dan juga sektor defensif,” kata Audi.

Tren serupa juga dibaca Phintraco Sekuritas. Dalam rilis penutupan bursa, mereka melaporkan, bargain hunting pada saham-saham yang turun dalam mulai terjadi. ”Kenaikan harga emas global juga mendorong pembelian pada saham-saham komoditas emas,” kata mereka.

Pegawai Toko Emas Bintang Timur di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, menunjukkan logam mulia Antam koleksi toko tersebut, Rabu (18/9/2024). Berdasarkan data di laman Logammulia.com yang dikelola PT Antam Tbk, harga emas per Rabu Rp 1.440.000 per gram atau turun Rp 4.000 per gram dibanding hari sebelumnya yang merupakan rekor harga tertingginya. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 18-09-2024

Beberapa saham tambang yang mengalami kenaikan harga karena sentimen harga emas salah satunya saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang ditutup naik 5,26 persen ke harga Rp 3.200 per saham.

Kenaikan harga saham tambang juga terjadi pada PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang pada penutupan bursa mencatat kenaikan harga Rp 476 (1,28 persen) dibandingkan hari sebelumnya.

Lalu, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang sempat menyentuh Rp 2.560 walaupun pada penutupan bursa hanya menguat tipis 0,81 persen ke Rp 2.490 per saham.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Budi Suwarna