Kebutuhan kapasitas pusat data diproyeksikan melonjak hingga gigawatt dalam beberapa tahun ke depan. Tren ini menggerakkan harga saham terkait.
31 Agt 2026 12:21 WIB · Ekonomi & Bisnis
Ekspansi infrastruktur pusat data atau data center di Indonesia mulai memberikan dampak berantai terhadap pergerakan pasar modal dalam negeri. Tren industri yang didorong permintaan komputasi awan dan kecerdasan buatan mengerek performa saham emiten yang berada di dalam ekosistem pendukungnya.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, dalam ulasan kinerja saham pada Jumat (28/8/2026), menemukan, tren ini tidak hanya menguntungkan emiten pengembang pusat data dan penyedia jasa telekomunikasi, tetapi juga merembet ke emiten menara, konstruksi fisik, pengembang kawasan industri, hingga penyedia daya listrik.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai, tingkat kebutuhan pusat data ini akan semakin tinggi ke depannya. ”Emiten yang berkaitan langsung ataupun tidak langsung sedang mengalami kenaikan,” kata Sukarno dikutip Senin (31/8/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/31/99e5371cb1657470900798371e9699c3-cropped_image.jpg)
Emiten pengembang pusat data, seperti PT DCI Indonesia Tbk (DCII), terus mengekspansi fasilitasnya di Cibitung, Karawang, Jakarta, dan Surabaya. Dalam sebulan terakhir, harga saham DCII yang kini menempati posisi ketiga dalam deretan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia telah naik hampir 5 persen.
Penguatan harga saham beruntun juga merambah emiten infrastukur digital terkait, seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), yang memiliki pusat data tepi (edge data center), PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR), serta PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA).
Saham DSSA pada Jumat (28/8/2026), mencatatkan lonjakan signifikan dengan penguatan harian sempat menyentuh 13 persen dan naik 16 persen sepanjang pekan lalu. Dalam sebulan, kenaikannya mencapai 47 persen, serta mencetak cuan hingga 182 persen dalam tiga bulan terakhir.
Saham INET juga bergerak agresif dengan kenaikan 4 persen dalam sepekan dan melonjak 56 persen dalam satu bulan. Tren positif ini diikuti oleh saham satu ekosistemnya, seperti MORA yang melesat 11–18 persen dalam sepekan kemarin, dan 54 persen dalam sebulan. KETR bahkan melonjak hingga 1.000 persen dalam kurun satu tahun terakhir.
Sejumlah emiten yang bergerak di industri pendukung lainnya juga terdorong oleh prospek bisnis pusat data. PT Indosat Tbk (ISAT), misalnya, mendapat sentimen positif dari kinerja paruh pertama 2026 dan kemitraan strategisnya dengan raksasa teknologi global, NVIDIA, dalam membangun infrastruktur AI melalui Zankore milik BDx di Jatiluhur, Jawa Barat, dan MGVL di Batang, Jawa Tengah.
Kinerja harga saham ISAT pun mencatatkan kenaikan harga 28 persen dalam satu bulan, terhitung lebih unggul dibanding emiten telekomunikasi sejenis.
”Kinerja ISAT pada kuartal II atau paruh pertama 2026 mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan. Artinya, mereka punya cash yang besar untuk ekspansi lebih lanjut,” ujar Sukarno.
Selain ISAT, emiten telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turut memacu porsi pendapatan dari lini bisnis ini dengan menargetkan kapasitas 300–500 megawatt (MW) hingga 2030 melalui anak usahanya, NeutraDC.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/05/27/009af917-075b-4fd2-9414-0be7fc3bd257_jpg.jpg)
Lonjakan kebutuhan fasilitas pusat data melahirkan imbas berantai bagi sektor pendukung. Di sektor menara telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) diuntungkan oleh meningkatnya kebutuhan konektivitas jaringan. Sementara di sektor konstruksi fisik, PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) turut terimbas permintaan pembangunan gedung pusat data.
”Ketika ada permintaan pembangunan terkait pusat data, industri atau bisnis yang berkaitan dengan konstruksi ini pastinya akan terdampak positif ke depannya,” kata Sukarno.
Dampak paling nyata juga terlihat pada pengembang kawasan industri seiring meningkatnya permintaan lahan (land bank). Saham PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menguat seiring tingginya okupasi kawasan industri di koridor timur Jakarta.
Selain lahan dan bangunan, besarnya konsumsi listrik pusat data memberikan angin segar bagi emiten penyedia energi seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR).
Dari sisi valuasi, Kiwoom Sekuritas mencatat sejumlah emiten pendukung seperti DMAS, POWR, PGAS, dan TOTL masih memiliki rasio price to earnings (P/E) relatif murah di bawah 5 hingga 10 kali.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/15/8845c7af-e05f-4e11-a41e-e290769a41ff_jpg.jpg)
Pertumbuhan performa saham emiten terkait berjalan seiring dengan derasnya arus investasi pusat data nasional. Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan terbarunya menilai Indonesia saat ini memang memasuki babak awal dari siklus pertumbuhan struktural pusat data berjangka panjang.
Namun, Indonesia kini menjelma sebagai pengampu limpahan pasar regional setelah Singapura membatasi jatah kapasitas baru dan Johor, Malaysia, mulai menghadapi masalah keterbatasan pasokan energi.
Berdasarkan geografinya, koridor Jakarta mencatatkan rasio pipeline-to-operational hingga 5,3 kali, didorong permintaan domestik dan penyedia layanan komputasi awan skala besar. Sementara Batam berkembang menjadi simpul spillover regional yang didominasi oleh perusahaan asing skala besar.
Riset pasar properti Knight Frank Indonesia turut mengonfirmasi tingginya aktivitas akuisisi lahan oleh perusahaan pusat data. Sepanjang semester I-2026, total serapan lahan industri di Greater Jakarta mencapai 127,5 hektar, di mana pusat data menjadi penyerap lahan paling aktif di koridor timur seperti Bekasi dan Karawang.
Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip menyampaikan bahwa kawasan Greater Jakarta terus memantapkan posisinya sebagai ekosistem industri bernilai tinggi.
”Daya kompetisi Greater Jakarta diharapkan semakin matang sebagai ekosistem industri bernilai tinggi yang menjadi pilihan lokasi investasi bagi investor regional ataupun global,” ujar Willson dalam rilis analisis kinerja properti semester I-2026, secara daring, Kamis (20/8/2026).
Chairman Indonesia Data Center Provider Organization (IDPro) Hendra Suryakusuma, ditemui di Jakarta belum lama ini, menyatakan bahwa proyeksi kapasitas terpasang nasional berpotensi menembus 1,7 gigawatt (GW) pada akhir tahun ini dan melonjak hingga 11,7 GW pada 2030.
Pendorong utamanya adalah masifnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) serta pengalihan kebutuhan pemrosesan data ke Asia Tenggara akibat dinamika geopolitik pembatasan cip.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/31/eec96b0f3d50add0aa8dbdb0acb9d1b6-20260820_125243.jpg)
Menurut Hendra, daya tarik investasi ke Indonesia sangat besar, tetapi pelaku industri dihadapkan pada kecepatan eksekusi dan kecukupan energi hijau.
”Permintaan jauh lebih besar dibandingkan pembangunan. Isu utama bagi anggota kami bukan pada potensi pasar, melainkan pada execution strategy, bagaimana kami bisa membangun pusat data ini jauh lebih cepat,” kata Hendra.
Investasi fasilitas pusat data terbilang besar. Untuk membangun pusat data tier 3 berkapasitas 1 MW dibutuhkan investasi sekitar 10 juta hingga 11 juta dolar AS. Jika pengembang membangun fasilitas berkapasitas 100 MW, nilai investasinya dapat mencapai 1 miliar dolar AS atau setara Rp 18 triliun.
Arus modal skala besar yang masuk ke sektor infrastruktur digital ini dinilai tidak hanya akan mendongkrak kinerja finansial emiten terkait di bursa saham, tetapi juga memberi dampak pertumbuhan nyata bagi produk domestik bruto (PDB) Indonesia secara keseluruhan.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase