Unjuk Rasa Usai, Warga Kembalikan Barang Jarahan hingga Berjaga di Kompleks

Pascagelombang unjuk rasa, ada warga yang mengembalikan barang jarahan hingga berjaga di kompleks.

01 Sep 2025 19:36 WIB · Politik & Hukum

Oleh Abdullah Fikri Ashri, Brigita Maria Lukita

Setelah gelombang unjuk rasa yang berujung perusakan fasilitas umum dan penjarahan beberapa hari terakhir, sejumlah warga mulai berbenah. Ada yang berinisiatif mengembalikan barang jarahan, ada pula yang berjaga-jaga di kompleks untuk keamanan warga.

Dua pemuda tiba-tiba mendatangi sejumlah aparat keamanan yang berjaga di rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani di kompleks Mandar Utama Sektor 3A, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten, Minggu (31/8/2025) sore. Memakai mobil, keduanya membawa mainan dan peralatan makan.

”Kemarin, saya ingin balikin (barangnya) ke daerahnya. Tapi, (situasi) lagi enggak kondusif,” ucap remaja yang mengaku berusia 18 tahun itu. Ia mengklaim, barang-barang itu tercecer pascapenjarahan di rumah Sri Mulyani pada Sabtu (30/8/2025) malam dan Minggu dini hari. Saat itu, ia kebetulan melintas di area tersebut.

Tadinya, ia mau mengembalikan barang itu kepada pemiliknya. Namun, ia takut karena massa berkumpul di kompleks rumah Sri Mulyani. Pemuda yang mengaku warga setempat itu baru menyerahkan barang tersebut keesokan harinya dan meminta aparat tidak salah paham.

Perwira Unit Bidang Pembinaan Masyarakat (Panit Binmas) Kepolisian Sektor Pondok Aren Inspektur Satu Rahmat Gunawan pun mengapresiasi aksi pemuda itu. ”Terima kasih atas itikadnya. Terima kasih atas inisiatifnya (mengembalikan barang itu),” ungkapnya.

Sejumlah anggota TNI berjaga di sekitar rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani di Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (1/9/2025). Pada Minggu (31/8/2025) dini hari, massa mengambil sejumlah barang di rumah itu.

Video pengembalian barang itu tersebar di media sosial dan memantik simpati serta pujian sejumlah warganet. ”Anggota DPR patut mencontoh mas ini, mengembalikan yang bukan haknya dan tidak mengambil yang bukan haknya!” tulis salah satu warganet di platform Instagram.

Usut punya usut, ternyata mainan dan peralatan makan yang dikembalikan itu diduga kuat adalah barang yang mereka ambil di malam penjarahan. Hal itu berdasarkan pemeriksaan Unit Reserse Kriminal Polsek Pondok Aren sesaat setelah keduanya mengembalikan barang itu.

”Setelah melihat beberapa video (penjarahan), anggota menemukan keduanya ikut mengambil barang saat kejadian,” ungkap Gunawan saat ditemui, Senin (1/9/2025). Dalam video itu, dua pemuda menggotong mainan mobil-mobilan berwarna merah dan peralatan makan.

”Saya sebenarnya enggak percaya begitu saja penjelasan anak itu saat mengembalikan barang. Makanya, saya bertanya seolah-olah seperti interogasi. Ternyata benar, dia ikut kejadian (penjarahan) malam itu,” ungkap Gunawan. Kini, kedua anak itu tengah diperiksa polisi.

Saat ini, pemeriksaan terhadap keduanya dilakukan oleh jajaran Kepolisian Resor Tangerang Selatan. Menurut Gunawan, setiap penjarahan merupakan tindakan kriminal dan memiliki konsekuensi hukum. Meski demikian, ia mengapresiasi inisiatif warga yang mengembalikan barang.

Quote

Khusus (penjarahan) malam Minggu kemarin, apabila (ada yang) terlibat dalam kejadian tersebut, agar menyerahkan barang itu.

”Khusus (penjarahan) malam Minggu kemarin, apabila (ada yang) terlibat dalam kejadian tersebut, agar menyerahkan barang itu. Apabila ingin menyerahkannya ke Polsek Pondok Aren, kami tunggu,” ujarnya. Ia juga mengimbau warga agar bisa bersama-sama menjaga keamanan lingkungan.

Menurut Gunawan, pascakejadian akhir pekan itu, aparat masih tetap berjaga di sekitar rumah Sri Mulyani. Hingga Senin sore, sejumlah aparat TNI masih bersiaga di depan rumah tersebut. Di pintu masuk kompleks terlihat dua petugas keamanan juga berjaga.

Seorang petugas sekuriti yang enggan disebutkan namanya mengatakan, saat kejadian penjarahan, terdapat lebih dari 100 orang yang memaksa masuk ke kompleks Sri Mulyani. Aparat yang berjaga kalah jumlah. Massa pun merusak tali tambang yang menutup palang perumahan.

Aparat keamanan berjaga di depan rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani di Bintaro, Tangerang Selatan, Minggu (31/8/2025).

Ketika ditanya tentang kedua pemuda yang mengembalikan barang, petugas sekuriti itu mengaku tidak pernah melihat remaja tersebut. Hingga kini, katanya, belum ada lagi warga yang mengembalikan barang yang diambil dari rumah Sri Mulyani.

Saat ini, menurut petugas keamanan itu, warga menyerahkan sepenuhnya penjagaan kompleks ke petugas sekuriti dan aparat. Meski tidak ikut patroli langsung, warga tetap mendukung keamanan lingkungan. Makanan dan minuman, misalnya, tersedia di pos satpam. ”Tali tambang untuk palang portal juga dibeli,” ujar petugas sekuriti itu.

Warga melihat rumah Anggota DPR RI dari Partai Nasional Demokrasi (Nasdem), Ahmad Sahroni, yang rusak di Kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (30/8/2025). Massa melampiaskan kemarahan mereka dengan mengepung dan merusak rumah Sahroni. Beberapa diantara mereka membawa barang-barang yang ada di rumah tersebut.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
30-08-2025

Terkait penjarahan di rumahnya, Sri Mulyani angkat bicara melalui akun Instagram pribadinya. Ia, antara lain, mengapresiasi masukan dan kritik dari berbagai elemen masyarakat serta menekankan pentingnya menjaga persatuan dan demokrasi meski ada sengketa.

”Mari kita bangun Indonesia bersama, tidak dengan merusak, membakar, menjarah, memfitnah, pecah belah, kebencian, kesombongan, dan melukai perasaan publik,” ujarnya.

Jaga kompleks

Di salah satu perumahan di Jakarta Timur, sejumlah warga berinisiatif berjaga agar kompleksnya aman beberapa hari terakhir. Mereka bersiaga untuk mencegah penjarahan seperti yang terjadi di beberapa rumah pejabat.

Di perumahan itu terdapat rumah anggota DPR, Deddy Sitorus, yang sempat viral karena pernyataan kontroversialnya terkait rakyat jelata. Di salah satu stasiun televisi, ia antara lain mengatakan, membandingkan gaji DPR dengan pekerja berpenghasilan upah minimum regional adalah sesat logika.

Hal itu mengemuka saat ia ditanya mengenai ketimpangan antara tunjangan rumah anggota DPR sebesar Rp 50 juta per bulan dan iuran Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat) yang membebani pekerja. Ia bahkan menggunakan istilah ”rakyat jelata” untuk menggambarkan masyarakat berpenghasilan rendah.

Celotehan kontroversial itu memicu kemarahan publik dan Deddy pun disebut-sebut menjadi target kemarahan massa di tengah gelombang unjuk rasa beberapa hari terakhir. Itu sebabnya, warga pun mewanti-wanti adanya penjarahan di rumah Deddy.

Tiga titik akses masuk gerbang kompleks itu dijaga ketat oleh warga secara bergiliran. Sejak Minggu, warga dari RT 010, 011, dan 012 berjaga hingga tengah malam. Mereka mencegah adanya penggerudukan hingga penjarahan rumah oleh massa yang mengganggu warga.

Kepala Kantor Rumah Aspirasi Rakyat #01 Deddy Yevri Sitorus

Rezky, warga setempat, mengakui, masyarakat kecewa dengan pernyataan Deddy di media massa. Ia dan warga lainnya pun khawatir rumah politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu diserbu massa. Keamanan dan kenyamanan warga kompleks bisa terganggu.

”Pemuda-pemuda kompleks ini menjaga akses masuk. Meski kompleks ini sudah diportal, kami tetap menjaga untuk menghindari aksi anarkistis. Kami melindungi kompleks aja, sih, sebenarnya, bukan karena (masalah) Deddy,” ujar Rezky.

Menurut dia, penjagaan bergiliran itu diperkirakan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Warga bakal tetap solid saling menjaga dan memastikan keamanan kompleks.

”Kami memastikan agar jangan sampai warga luar masuk dan berbuat onar, apalagi sampai menjarah dan merusak, serta mengganggu kenyamanan warga,” kata Rezky.

Ketua Presidium Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho mengatakan, peristiwa yang terjadi, seperti penjarahan dan perusakan fasilitas umum, tidak bisa dilepaskan dari dinamika di media sosial. Sayangnya, hoaks berpotensi menyebar di tengah viralnya sebuah isu.

Ia mencontohkan konten yang memuat pernyataan Sri Mulyani bahwa guru adalah beban negara. Padahal, konten itu adalah deepfake, yakni upaya memanipulasi video dan audio menggunakan kecerdasan buatan (AI).

”Sangat mungkin deepfake ini salah satu pemicu amarah (massa) hingga penjarahan rumah beliau,” ujarnya.

Semprotan kanon air polisi diarahkan ke ribuan massa aksi dari berbagai elemen masyarakat yang bersama-sama bergabung berdemonstrasi di depan Gedung DPR, Jakarta, Sabtu (30/8/2025). Gelombang aksi massa di depan DPR terus berlanjut. Massa yang berdatangan dan bergabung dalam aksi ini mengaku kecewa terhadap perangai anggota dewan dan polisi. Kenaikan gaji dan tunjangan para anggota dewan dinilai  mencederai perasaan rakyat. Selain itu, tewasnya Affan Kurniawan, pengemudi ojol akibat dilindas Brimob Polisi saat membubarkan aksi mengecam DPR juga semakin memicu kemarahan rakyat. 

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
30-8-2025

Oleh karena itu, ia mengingatkan warga agar lebih waspada dalam menyaring informasi di media sosial dan memverifikasinya ke media arus utama atau laman cek fakta. ”Potensi deepfake akan semakin banyak, masyarakat harus lebih skeptis,” kata Septiaji.

Di tengah kondisi saat ini, warga perlu saling jaga. Kewaspadaan dibutuhkan di dunia nyata sekaligus dunia maya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Abdullah Fikri Ashri, Brigita Maria Lukita
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar