Mereka perlahan harus menerima kenyataan bahwa aktivitas utama yang dilakukan manusia untuk hidup, yakni bernapas, menjadi terbatas.
14 Nov 2025 17:05 WIB · Kesehatan
Kompas/Priyombodo
KUALA LUMPUR, KOMPAS — Penyandang penyakit pernapasan kronik sangat rentan mengalami masalah kesehatan mental. Mereka perlahan harus menerima kenyataan bahwa aktivitas utama yang dilakukan manusia untuk hidup, yakni bernapas, kini menjadi terbatas.
Psikolog sekaligus Direktur Penelitian dan Pendidikan Pascasarjana Universitas Pace, New York, Sonia Suchday menjelaskan, setiap penyakit memiliki stigma di masyarakat yang bisa memengaruhi proses penyembuhan. Namun, perasaan yang menganggap vonis penyakit adalah kegagalan atau akhir dari segalanya justru lebih bisa memengaruhi kesehatan mental.
Sonia menegaskan, tidak mudah bagi seseorang bisa menerima vonis dari dokter bahwa ia mengidap penyakit kronis, seperti penyakit pernapasan obstruktif kronik (PPOK). Cepat atau lambatnya penerimaan tersebut tergantung dari masing-masing individu. Ada yang semangat melanjutkan hidup, ada pula yang langsung mengurung diri.
”Dan, semakin sering dia melakukan itu (mengurung diri), semakin lemah dia dan semakin kuat penyakitnya menguasai tubuhnya. Jadi, penyakit kronis dan kesehatan mental saling terkait erat, penting untuk kita memikirkan dampak kesehatannya,” kata Sonia dalam acara Unpacking the Chronic Respiratory Disease Epidemic: A Media Workshop, di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (14/11/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/13/7dd1cb2a94aadad09555482a7d812591-20251113_141655.jpg)
Untuk itu, dukungan semua pihak sangat dibutuhkan agar pasien tersebut bisa lebih kuat menjalani kehidupan dengan penyakit pernapasan kroniknya. Di budaya Asia, keluarga adalah bagian penting untuk menjadi pihak yang selalu ada menjaga kesehatan mental dan fisik pasien.
Sangat sulit untuk menerima vonis itu, saya hampir putus asa.
Hal ini sudah berhasil dilakukan terhadap pasien-pasien tuberkulosis dan HIV yang membentuk komunitas di berbagai negara. Gerakan yang sama, lanjut Sonia, juga harus dibentuk dan dijalankan pada penyakit pernapasan kronik, seperti PPOK dan asma.
”Sangat penting untuk melibatkan keluarga dari perspektif psikologis bagi pasien dan keluarga,” ucapnya.
Thiagaraja Munusamy, penyintas PPOK, bercerita, menerima vonis PPOK dari dokter membuatnya cukup stres. Namun, istri dan anak-anaknya memberikan semangat dalam menjalani kehidupan walau harus mengeluarkan uang sekitar Rp 40 juta untuk pengobatan.
Dia mengingatkan, berhenti merokok memang sulit. Namun, ia menyatakan bahwa jauh lebih baik segera berhenti daripada menanggung biaya dan penderitaan akibat PPOK. Setelah 50 tahun kecanduan, dia baru berhenti merokok setelah didiagnosis mengidap PPOK tahun lalu.
”Keluarga yang pertama menyemangati saya ketika saya takut mati saat didiagnosis ini. Sekarang saya sudah sembuh, berkat keluarga,” kata Thiagaraja.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/13/751321fcf3fc8bee3a7ccc9dd3470dc1-20251113_150713.jpg)
Begitu pula dengan pasien kanker paru, Subramaniam Suppiah, yang menceritakan perjalanan emosionalnya sejak muncul gejala pada 2024. Ia mengalami batuk berkepanjangan, kemudian ditemukan benjolan di paru-paru dan pada hari yang sama juga mengalami serangan jantung. Tak lama kemudian, ia didiagnosis kanker paru stadium 4.
”Sangat sulit untuk menerima vonis itu, saya hampir putus asa, tetapi saya bertahan dan ingat anak-anak saya masih membutuhkan saya,” ucap Subramaniam.
Dalam Studi Beban Penyakit Global (Global Burden of Disease Study/GBD) tahun 2021 yang dikutip WHO dalam laporannya terkait penyakit pernapasan kronik tahun 2025 menunjukkan, penyakit pernapasan kronik menyumbang 12 persen dari seluruh kematian di regional Asia Tenggara dengan prevalensi sekitar 5 persen populasi hidup dengan penyakit pernapasan kronik. Dari jumlah itu, ada sekitar 50 juta kasus PPOK dan 47 juta kasus asma.
Di Indonesia, prevalensi kasus penyakit pernapasan kronik diperkirakan mencapai 11,3 juta atau 4,19 persen dari populasi. Rinciannya, kasus PPOK 5,08 juta (1,88 persen) dan kasus asma 6,3 juta (2,35 persen).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/09/25/20210924-H08-LHR-Paru-paru-mumed_1632503599.png)
Kasus kematian akibat penyakit pernapasan kronik di Indonesia diperkirakan mencapai 106.000 jiwa. Sekitar 79.000 jiwa, di antaranya, disebabkan PPOK dan sekitar 25.000 jiwa akibat asma. Selain itu, kebanyakan korban jiwa adalah laki-laki dan hampir 90 persen pada mereka yang berusia di bawah 70 tahun.
Adapun rata-rata global angka kematian akibat penyakit pernapasan kronik adalah 4,1 juta jiwa. India, China, dan Banglades menjadi tiga negara teratas dengan jumlah secara berurutan, yakni sekitar 1,6 juta jiwa, 1 juta jiwa, dan 160.000 jiwa.
Utusan Khusus Direktur Jenderal WHO untuk Penyakit Pernapasan Kronik (CRDs) Jose Luis Castro menegaskan, jumlah perokok harus ditekan, lingkungan harus bersih, dan layanan kesehatan harus diperkuat untuk mengeleminasi penyakit pernapasan kronik. Implementasi kebijakan yang efektif akan mengurangi faktor-faktor risiko dan jumlah orang yang sakit.
”Namun, seperti yang kita tahu, banyak pembuat kebijakan hanya berpikir dalam jangka waktu yang sangat pendek. Sementara itu, pencegahan adalah sesuatu yang membuahkan hasil dalam jangka panjang,” kata Jose.
Penulis:
Stephanus Aranditio dari Kuala Lumpur, MalaysiaEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra