Timnas Indonesia akan menghadapi Australia pada 20 Maret 2025. Seperti apa perbandingan kekuatan kedua tim dan peluang timnas Indonesia?
19 Mar 2025 11:00 WIB · Riset
Empat dekade tim nasional (timnas) sepak bola Indonesia tak pernah menang atas Australia. Sejak tahun 1982 hingga 2024, Indonesia hanya berhasil memetik dua kali hasil imbang dan delapan kali kekalahan saat bertemu dengan Australia dalam berbagai kompetisi ataupun pertandingan persahabatan.
Timnas Indonesia terakhir kali memetik kemenangan pada 1981 saat berhadapan dengan Australia dalam babak kualifikasi Pra Piala Dunia 1982. Saat itu, Indonesia yang dilatih Endang Witarsa menang dengan skor 1-0 saat bermain di Stadion Gelora 10 November, Surabaya. Kemenangan tersebut menjadi catatan terakhir bagi timnas Indonesia saat bertanding melawan Australia.
Adapun pertandingan terbaru kedua tim berlangsung pada 10 September 2024 saat menjalani laga Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Timnas Indonesia yang dilatih Shin Tae-yong menahan imbang Australia dengan skor 0-0.
Catatan ini menggambarkan surut pasang kualitas permainan timnas saat berhadapan dengan Australia. Jika melihat dari peringkat FIFA, Indonesia memang terpaut jauh dari Australia. Timnas Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-127, sementara Australia berada pada posisi ke-26 dunia.
Namun, Indonesia kini menurunkan skuad dengan kualitas yang berbeda dibandingkan dengan pertandingan pada tahun-tahun sebelumnya. Pelatih baru Patrick Kluivert memanggil banyak pemain muda berpengalaman di kompetisi Eropa ataupun kompetisi elite Asia menjelang pertandingan melawan Australia pada 20 Maret 2025 pukul 16.10 WIB.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/10/47634d57-9959-4819-a9aa-e8a5128aac42_jpg.jpg)
Jika melihat catatan statistik dan tren saat ini, Indonesia memiliki kesempatan untuk memecah kebuntuan selama 44 tahun tanpa kemenangan. Setidaknya ada beberapa modal yang dapat dimanfaatkan secara optimal oleh Kluivert.
Pertama, Indonesia hampir menampilkan kekuatan penuh saat berhadapan dengan Australia. Dari 30 pemain yang dipanggil, hanya Egy Maulana yang tidak dapat tampil karena mengalami cedera. Namun, hal ini dapat diatasi karena Indonesia memiliki beberapa pemain yang mampu menggantikan posisis Egy pada sayap kanan, seperti Sandy Walsh dan Eliano Reijnders. Bahkan, Pratama Arhan yang bermain di Liga Thailand juga dapat menjadi opsi untuk menggantikan posisi Egy.
Pemain berikutnya yang juga absen saat berhadapan dengan Australia adalah Ragnar Oratmangoen (penyerang) dan Justin Hubner (bek tengah). Keduanya harus absen karena akumulasi kartu kuning. Namun, hal ini juga dapat diantisipasi berkat kompetitifnya skuad yang dimiliki timnas Indonesia.
Pada posisi penyerang, Indonesia memiliki Ole Romeny dan Rafael Struick. Penyerang lokal seperti Ramadhan Sananta, Septian Bagaskara, hingga Hokky Caraka juga dapat menjadi opsi lainnya.
Sementara pada posisi pemain bertahan, Indonesia juga memiliki skuad berkualitas. Nama-nama lain seperti Mees Hilgers, Jay Idzes, Rizky Ridho, Dean James, hingga Muhammad Ferarri dapat menjadi opsi pada lini belakang saat Hubner tidak tampil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/10/0bca913d-d36e-4cfc-8d2a-6c101129e796_jpg.jpg)
Kedua, selain banyaknya opsi pemain berkualitas, hal lainnya yang juga dapat dimanfaatkan Kluivert untuk memetik hasil positif saat melawan Australia adalah tambahan amunisi dari pemain baru. Masuknya Ole Romeny (penyerang), Dean James (bek kiri), Joey Mathijs Pelupessy (gelandang), dan Emil Audero Mulyadi (kiper), menambah kekuatan tim Garuda.
Berdasarkan komposisi pemain yang ada, Indonesia dan Australia berada pada posisi yang hampir berimbang dalam aspek nilai pasar. Menurut catatan Transfermarkt, nilai pasar skuad Indonesia setelah masuknya pemain naturalisasi terbaru sebesar Rp 634,86 miliar, hampir seimbang dengan nilai pasar skuad Australia sebesar Rp 677,88 miliar. Nilai pasar ini menggambarkan kualitas setiap pemain dalam timnas. Semakin baik performa pemain, semakin tinggi nilai pasar pemain tersebut.
Angka nilai pasar ini menunjukkan bahwa Indonesia dapat bersaing dengan Australia dalam hal kualitas pemain saat ini. Apalagi, Indonesia memiliki catatan jumlah gol yang sama dengan Australia sepanjang putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026, yakni sebanyak enam gol. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki kesempatan untuk dapat memberikan perlawanan kepada Australia.
Ketiga, peluang lain yang dapat dimanfaatkan Kluivert adalah tren positif yang dimiliki timnas. Sebelumnya, Indonesia mampu menekuk Arab Saudi dengan skor 2-0. Kemenangan ini menjadi semangat lain bagi para pemain Indonesia untuk tampil lebih baik saat berhadapan dengan Australia.
Ketiga aspek ini, ditambah semangat tenaga muda (rata-rata 25,5 tahun), merupakan modal utama bagi timnas Indonesia untuk dapat mencatatkan sejarah baru. Jika berhasil memetik kemenangan, hal ini akan menjadi kemenangan perdana Indonesia di kandang Australia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/5cc1ca51-7f59-4104-b63a-8a7706396f77_png.png)
Aspek berikutnya yang juga harus dimanfaatkan Indonesia adalah timpangnya skuad Australia. Dibandingkan dengan Indonesia, Australia harus kehilangan lebih banyak pemain utama karena cedera. Jika melihat berdasarkan pengumuman skuad Australia untuk menghadapi Indonesia, setidaknya terdapat 11 pemain yang absen.
Australia bahkan harus merelakan kehilangan tiga bek utama, yakni Alessandro Circati (Parma), Harry Souttar (Sheffield United), dan Jordan Bos (KVC Westerlo). Bahkan, pemain muda Nestory Irankunda yang tampil di Liga Swiss juga tidak dipanggil oleh juru taktik Australia, Tony Popovic. Ketimpangan skuad ini cukup ramai dikritik oleh pencinta sepak bola Australia. Popovic bahkan dinilai tidak serius untuk memimpin Australia guna menembus putaran final Piala Dunia 2026.
Meski demikian, Indonesia tetap harus mewaspadai Australia. Belajar dari kekalahan saat pertandingan melawan China sebelumnya, permainan terbuka tetap perlu diiringi oleh disiplin pemain pada setiap lini. Apalagi, Australia masih diperkuat oleh sejumlah pemain andalan. Salah satunya adalah Kusini Yengi yang telah menorehkan dua gol untuk Australia dalam putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026.
Ada pula nama Craig Goodwin. Pemain sayap kiri ini sangat merepotkan Indonesia dalam pertandingan di Gelora Bung Karno pada September 2024. Pemain tengah Jackson Irvine juga patut diwaspadai karena kerap menjadi motor permainan Australia yang mampu memecah konsentrasi pemain bertahan lawan. Tanpa disiplin permainan, Australia tetap menjadi mimpi buruk bagi timnas Indonesia untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Andreas Yoga PrasetyoEditor:
Budiawan Sidik AInfografik:
Gunawan KartapranataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji